“Tuk suara bising di tengah jalan
Tuk suara kaki yang berlalu-lalang
Tuk suara sirene raja jalanan
Tuk suara sumbang yang terus berdentang”
(Bangkutaman-Ode Buat Kota)
“Assss kampret!”, umpat saya dalam hati. Jalanan kota Solo siang itu
memang layak umpat. Coba bayangkan , baru jalan berapa meter, eehhhh, udah ngerem lagi. Jalan lagi, ngerem
lagi. Belum lagi suara klakson yang bersahut-sahutan ibarat koor massal di
jalanan. Siang panas yang terik juga berkontribusi menambah emosi, terutama
bagi pengendara motor. Sungguh, jalanan siang itu cocok dijadikan media terapi
pengendalian emosi.
Yah, begitulah kondisi Kota Solo
menjelang perayaan Idul Fitri. Solo sukses berubah menjadi Jakarta versi mini. Pantas
saja koran lokal Solo pada H-2 Idul Fitri menulis headline “Solo Macet” yang disertai perbandingan gambar kondisi
jalanan Solo dan Jakarta. “Kemacetan
mengepung Kota Solo pada H-3 Lebaran, Senin (5/8). Bahkan sejumlah ruas jalan
kondisinya nyaris lumpuh.”, begitulah kalimat pembuka berita tersebut. Solo
memang tidak bersahabat ketika momen Idul Fitri datang. Sudah seharusnya slogan
“Berseri” kota ini diubah menjadi “Bersabar” setiap akan memperingati Idul
Fitri.
Yap, kita memang harus bersabar menghadapi
kondisi ini. Menjelang Idul Fitri, jalanan di kota ini didominasi oleh: 40% motor, 35% mobil, dan 25% emosi. Limpahan kendaraan
baik itu warga asli maupun pendatang seakan-akan menjadikan jalanan seperti showroom dadakan. Jalanan Solo yang tidak
selebar Jakarta, ditambah muatan jalan yang sudah overload, menjadikan kita harus ekstra berlapang dada. Apalagi ketika
melintasi titik-titik kemacetan seperti Gladag, area Pasar Klewer, dua mall di
Slamet Riyadi, kita harus mempersiapkan kesabaran sejak keluar dari pintu
rumah. Apa mau gara-gara macet orang berbuat anarki? Bayangkan, pengendara
berkelahi dengan pengendara lain, kaca-kaca mobil dipecahi, bus dibakar, truk
dirampas muatannya. Jika itu benar-benar terjadi, maka macet tak ubahnya Reformasi
’98.
Kadang macet membuat orang
kehilangan sisi rasionalitasnya. Apa yang saya tulis di paragraf pertama bisa
dijadikan contoh. Kita tahu kalau jalanan sedang macet parah, tapi ada beberapa
orang yang ngeyel membunyikan
klakson. Kamu pasti pernah menjumpai orang-orang seperti mereka. Ada lagi orang-orang
yang ingin mencari jalan pintas dari penuh sesaknya jalanan. Mereka adalah
orang-orang yang biasanya melanggar peraturan lalu lintas. Padahal jika
disadari, “aksi” mereka malah membuat kemacetan baru dan membahayakan dirinya
sendiri juga orang lain. Emosi ketika macet adalah hal yang manusiawi. Walaupun
emosi tapi tetap harus berlandaskan pada rasional. Jangan malah kita melakukan
hal-hal yang justru memancing emosi orang lain. Karena kata Aa’ Gym kesabaran
orang itu ada batasnya, betul tidak?
Adalah hal yang lumrah ketika
orang rantau merindukan keluarga dan tanah kelahirannya pada saat Idul Fitri
tiba. Tapi ya itu tadi, kehadiran mereka di tempat asal malah membuat “fenomena”
baru: macet. Di luar Idul Fitri, kadang Solo juga macet sih. Mmmm, saya malah kepikiran, jika saja urbanisasi itu tidak
ada. Jika saja mindset orang tidak
menjadikan Jakarta atau kota-kota besar lainnya sebagai Kota Impian dan Kota
Harapan. Jika saja Solo mempunyai banyak lapangan pekerjaan dengan pendapatan yang
lumayan. Jika saja Solo adalah kota awal hidup dan mati.
Saya juga kepikiran, apa jadinya
saya bila saya harus merantau ke Jakarta, berkeluarga di sana, berganti KTP
sebagai warga Jakarta, dan menjadikan Idul Fitri sebagai momen pulang kampung? Pastilah
jika itu terjadi, akan ada orang lain yang menulis semacam ini, menceritakan
kepenatannya tentang Solo yang macet saat Idul Fitri tiba. Entahlah…
No comments:
Post a Comment