Aug 3, 2013

Sayur Gombel


Ada sedikit perbedaan antara Ramadhan tahun ini dengan tahun lalu. Walaupun sedikit tapi diperlukan adaptasi yang lumayan berat. Jadi ceritanya puasa tahun ini adalah puasa pertama saya sebagai seorang vegetarian, atau lebih tepatnya lacto ovo vegetarian. Meskipun masih mengkonsumsi telur, susu, atau bahan olahan lainnya (kecuali daging), tetapi menjadi vegetarian di bulan Ramadhan itu ternyata susah juga, ya? Diperlukan adaptasi yang baik dalam pemilihan menu dan kondisi lingkungan. Walaupun sudah hampir sembilan bulan menjadi vegetarian, tapi banyak sekali godaan-godaan yang muncul, hahaha.

Buka puasa dan sahur adalah waktu-waktu di mana rindu kepada rasa daging benar-benar mengoyak jiwa dan pikiran. Apalagi jika kamu berasal dari keluarga non vegetarian, sudah pastilah akan kamu temui olahan daging di meja makanmu. Begitu juga dengan saya. Ketika kamu melihat meja makan dan menemukan ada daging-daging tergeletak dengan bermacam-macam bumbu, maka sesungguhnya itulah yang dinamakan godaan seorang vegetarian (newbie). Belum lagi jika otak ini “nakal” dengan memutar ingatan-ingatan nikmatnya rasa daging. Seolah-olah dalam dirimu ada pemberontakan dengan berbagai pertanyaan, “Kenapa saya memilih jalan ini? Kenapa?”. Dan saat itulah prinsipmu sebagai vegetarian diuji. Jika kamu berhasil mengatasinya, selamat menempuh level selanjutnya, hehehe.

Beruntunglah kamu yang berasal dari keluarga vegetarian. Karena keluargamu pasti tahu bahan-bahan dan menu apa yang cocok disajikan untuk vegetarian. Keluarga saya sebenarnya cukup menerima kehadiran saya sebagai seorang vegetarian, meskipun ibu saya kadang complain dengan kalimat yang hampir sama: “Mbok aja neka-neka”  dan “Bingung ameh masak apa”. Tapi keluarga pun akhirnya juga akan beradaptasi, walaupun adaptasinya juga sedikit-dikit. Contoh: dulu ibu saya suka memasak sayur dengan berbahan dasar ayam. Tapi setelah saya menjadi vegetarian, dia tetap memasak sayur tapi ayamnya disajikan terpisah, sehingga sayurnya netral dari kandungan hewani. Namun ketika ibu saya “lalai”, maka sayalah yang harus mengalah dengan cara memilah-milah mana sayur mana daging dan kadang juga “terpaksa” membuat menu sendiri (baca: goreng telur). 

Bukan Ramadhan namanya jika tidak ada buka puasa bersama. Di saat itulah level kevegetarianmu benar-benar diuji. Kadang saya terbesit pikiran, “Wah ikut nggak ya?”, karena biasanya menu yang disajikan ketika buka puasa bersama berupa daging. Inilah yang membuat saya dilema. Ketika saya memutuskan untuk tidak ikut, pasti ada konsekuensinya. Dan ketika saya ikut pun pasti juga menghadapi konsekuensi. Akan semakin berat ketika pilihan tempat buka puasa bersamanya hanya menyajikan olahan daging dan setelah dibolak-balik daftar menunya ternyata restoran/warung makan tersebut sama sekali tidak menyediakan olahan sayur. Nggak enak dong sama teman-teman, yang lainnya makan daging, tapi kitanya sendiri cuma makan menu ekstrem: nasi+sambal+lalapan. Seperti kemarin. Saya kemarin buka puasa bersama di warung yang, dari namanya saja, orang sudah bisa menebak kalau menu utamanya adalah daging. Cukup hopeless melihat daftar menunya dalam kacamata seorang vegetarian. Momen mendata daftar pesanan adalah momen yang simple tapi bagi saya kemarin cukup membuat deg-degan. Serius. Karena seakan-akan waktu sembilan bulan hanya akan berakhir di tubuh seekor ikan lele. Kata orang pertolongan itu ada di saat kamu benar-benar membutuhkannya, dan benar saja, dewa penolong saya kemarin berupa nasi goreng. Ternyata warung itu menjual nasi goreng juga, ngapa ra ditulis ning daftar menu? Gawe deg-degan wae! Huft! Cebel!

Oh iya, buat kamu yang vegetarian, jika kamu mendapat undangan buka puasa bersama, kamu bisa kok membawa lauk sendiri. Itu sudah pernah saya lakukan beberapa minggu yang lalu. Saat teman-teman makan nasi kotak dengan lauk ayam, saya melakukan hal yang anti mainstream dengan membawa perbekalan berupa telur dadar dan tempe bacem. Itu lebih baik daripada kamu menjadi seorang extremis lacto ovo vegetarian yang hanya makan nasi+sambal+lalapan. 

No comments:

Post a Comment