Ada sedikit perbedaan antara
Ramadhan tahun ini dengan tahun lalu. Walaupun sedikit tapi diperlukan adaptasi
yang lumayan berat. Jadi ceritanya puasa tahun ini adalah puasa pertama saya
sebagai seorang vegetarian, atau lebih tepatnya lacto ovo vegetarian. Meskipun masih mengkonsumsi telur, susu, atau
bahan olahan lainnya (kecuali daging), tetapi menjadi vegetarian di bulan
Ramadhan itu ternyata susah juga, ya? Diperlukan adaptasi yang baik dalam
pemilihan menu dan kondisi lingkungan. Walaupun sudah hampir sembilan bulan
menjadi vegetarian, tapi banyak sekali godaan-godaan yang muncul, hahaha.
Buka puasa dan sahur adalah
waktu-waktu di mana rindu kepada rasa daging benar-benar mengoyak jiwa dan
pikiran. Apalagi jika kamu berasal dari keluarga non vegetarian, sudah pastilah
akan kamu temui olahan daging di meja makanmu. Begitu juga dengan saya. Ketika kamu
melihat meja makan dan menemukan ada daging-daging tergeletak dengan
bermacam-macam bumbu, maka sesungguhnya itulah yang dinamakan godaan seorang
vegetarian (newbie). Belum lagi jika
otak ini “nakal” dengan memutar ingatan-ingatan nikmatnya rasa daging. Seolah-olah
dalam dirimu ada pemberontakan dengan berbagai pertanyaan, “Kenapa saya memilih
jalan ini? Kenapa?”. Dan saat itulah prinsipmu sebagai vegetarian diuji. Jika
kamu berhasil mengatasinya, selamat menempuh level selanjutnya, hehehe.
Beruntunglah kamu yang berasal
dari keluarga vegetarian. Karena keluargamu pasti tahu bahan-bahan dan menu apa
yang cocok disajikan untuk vegetarian. Keluarga saya sebenarnya cukup menerima
kehadiran saya sebagai seorang vegetarian, meskipun ibu saya kadang complain dengan kalimat yang hampir
sama: “Mbok aja neka-neka” dan “Bingung
ameh masak apa”. Tapi keluarga pun akhirnya juga akan beradaptasi, walaupun
adaptasinya juga sedikit-dikit. Contoh: dulu ibu saya suka memasak sayur dengan
berbahan dasar ayam. Tapi setelah saya menjadi vegetarian, dia tetap memasak
sayur tapi ayamnya disajikan terpisah, sehingga sayurnya netral dari kandungan
hewani. Namun ketika ibu saya “lalai”, maka sayalah yang harus mengalah dengan
cara memilah-milah mana sayur mana daging dan kadang juga “terpaksa” membuat
menu sendiri (baca: goreng telur).
Bukan Ramadhan namanya jika tidak
ada buka puasa bersama. Di saat itulah level kevegetarianmu benar-benar diuji.
Kadang saya terbesit pikiran, “Wah ikut nggak
ya?”, karena biasanya menu yang disajikan ketika buka puasa bersama berupa
daging. Inilah yang membuat saya dilema. Ketika saya memutuskan untuk tidak
ikut, pasti ada konsekuensinya. Dan ketika saya ikut pun pasti juga menghadapi
konsekuensi. Akan semakin berat ketika pilihan tempat buka puasa bersamanya hanya
menyajikan olahan daging dan setelah dibolak-balik daftar menunya ternyata
restoran/warung makan tersebut sama sekali tidak menyediakan olahan sayur. Nggak enak dong sama teman-teman, yang lainnya makan daging, tapi kitanya
sendiri cuma makan menu ekstrem: nasi+sambal+lalapan. Seperti kemarin. Saya
kemarin buka puasa bersama di warung yang, dari namanya saja, orang sudah bisa
menebak kalau menu utamanya adalah daging. Cukup hopeless melihat daftar menunya dalam kacamata seorang vegetarian. Momen
mendata daftar pesanan adalah momen yang simple
tapi bagi saya kemarin cukup membuat deg-degan. Serius. Karena seakan-akan
waktu sembilan bulan hanya akan berakhir di tubuh seekor ikan lele. Kata orang pertolongan
itu ada di saat kamu benar-benar membutuhkannya, dan benar saja, dewa penolong
saya kemarin berupa nasi goreng. Ternyata warung itu menjual nasi goreng juga, ngapa ra ditulis ning daftar menu? Gawe deg-degan wae! Huft! Cebel!
Oh iya, buat kamu yang
vegetarian, jika kamu mendapat undangan buka puasa bersama, kamu bisa kok
membawa lauk sendiri. Itu sudah pernah saya lakukan beberapa minggu yang lalu.
Saat teman-teman makan nasi kotak dengan lauk ayam, saya melakukan hal yang anti mainstream dengan membawa
perbekalan berupa telur dadar dan tempe bacem. Itu lebih baik daripada kamu
menjadi seorang extremis lacto ovo vegetarian yang hanya makan
nasi+sambal+lalapan.
No comments:
Post a Comment