Pernahkah di suatu
kesempatan temanmu berkata, “Sudahlah, pasti ada hikmahnya” atau “Udahlah, positive thinking aja”? Jika kamu pernah
mengalaminya, saya yakin pasti kamu sedang memasuki sebuah fase hidup bernama kalut.
Ya, semua orang berhak kalut terhadap masalahnya sendiri-sendiri. Jika ada
orang yang mengklaim bahwa dirinya tidak pernah kalut, pastilah derajatnya
melebihi superhero. Spiderman, yang notabene seorang superhero, pernah dibuat
kalut ketika pamannya meninggal. Bukan begitu?
Setiap orang pasti
bereaksi ketika sedang dilanda kekalutan. Reaksinya pun beragam dan kadang “pengaktualisasiannya”
aneh-aneh. Ada yang memandangi langit, ada yang makan dengan porsi besar, ada
yang memutar lagu-lagu melankolis hingga membuatnya menangis, dan berbagai
bentuk jamak “pengaktualisasian” yang pastinya sudah sering kamu lihat dan
ketahui. Tidak, saya tidak akan bertanya: Dari berbagai ciri-ciri “pengaktualisasian”
kekalutan di atas, manakah yang identik denganmu?
Namun selain ciri-ciri
di atas, ada juga orang yang tidak terlalu reaksioner terhadap kekalutannya. Mungkin
lebih tepatnya, dia hanya sejenak merasakan kalut – atau mungkin malah tidak
pernah merasakan, dan langsung kembali ke realita hidupnya. Karena memang orang
yang kalut akan terlena dengan “pakem” kekalutan yang biasanya dilandasi dengan
kalimat: seharusnya seperti ini. Orang-orang semacam tadi, tidak terlena di
tahap ini. Ia segera moving forward untuk
menatap rencana-rencana yang telah dipersiapkan oleh kehidupan. Orang-orang
seperti ini adalah orang-orang yang langka dan seakan-akan congkak terhadap
permasalahan kehidupan. Setiap masalah
yang menerpa hidupnya, ia anggap angin lalu. Karena menurutnya setiap masalah
pasti sudah ada solusinya sendiri, entah akan terjawab hari ini atau esok atau
beberapa hari ke depan. Sebelum masuk ke fase kalut, mereka sudah memfilterisasinya.
Lalu berbentuk apakah filter tersebut? Filter tersebut berbentuk positive thinking.
Positive
thinking memang sulit. Perlu proses untuk bisa
mendapatkannya. Saya jadi teringat nasehat Pak Quraish Shihab di acara sahur
tadi malam, yang intinya adalah kita sebagai manusia harus selalu berharap dan
tidak boleh berputus asa. Nasehat beliau
memang benar. Putus asa adalah musuh terbesar manusia. Manusia adalah makhluk
yang mudah dalam berangan-angan/bercita-cita, dan juga manusia adalah makhluk
yang dengan mudahnya berputus asa ketika angan-agan/cita-citanya tidak
terealisasi. Jika tulisan ini ditarik ke ranah religius, Tuhan pun sudah
mengingatkan kita untuk selalu berpikir positif. Melalui ayatnya, “Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan
itu ada kemudahan”. Dari ayat tersebut – yang diulang dan ditekankan – berarti
Tuhan telah menjamin umatnya untuk terus berpikir positif serta menjamin bahwa
pertolonganNya akan selalu ada. Yakinlah…
Oh hampir kelupaan, yang
menarik dari berpikir positif adalah kata-kata,
“Udahlah, positive thinking aja. It’s gonna be fine” sudah menjadi semacam
kalimat penghibur permasalahan di ranah global. Orang dengan mudah berkata atau
menasehati kita supaya berpikir positif dan mengambil hikmah dari permasalahan
yang kita hadapi. Padahal orang yang menasehati tersebut belum tentu bisa berpikiran
positif. “Jadi orang yang menasehati supaya berpikiran positif itu gampang,
tapi susah dijalanin”, begitu kata iklan salah satu provider edisi positive thinking.
Jika sebelum paragraf
ini kamu berpikir bahwa tulisan ini anti klimaks dan terkesan tidak serius, maka sesungguhnya pikiran
kamu benar. Saya memang sengaja tidak memberikan apa itu definisi positive thinking, cara-cara agar kita
dapat dengan mudah ber-positive thinking
atau keuntungan positive thinking, karena
tulisan ini bukanlah tulisan dengan title
“Kiat-Kiat Sukses”. Jika kamu ingin mencari itu semua, silakan mencarinya di
Google, silakan menonton Golden Ways, dan silakan membaca buku The Secret. Oh, ngomong-ngomong soal The
Secret, buku tersebut sudah saya beli sekitar tiga tahun yang lalu tapi
sampai sekarang saya belum membacanya, apakah ini merupakan tanda-tanda bahwa
saya tidak bisa ber-positive thinking? Entahlah…
Yang jelas Luwak White Koffie yang
menamani saya merampungkan tulisan ini berasa lebih nikmat.
No comments:
Post a Comment