Jul 17, 2013

Ini Bukan Tulisan Pembangkit Motivasi

Pernahkah di suatu kesempatan temanmu berkata, “Sudahlah, pasti ada hikmahnya” atau “Udahlah, positive thinking aja”? Jika kamu pernah mengalaminya, saya yakin pasti kamu sedang memasuki sebuah fase hidup bernama kalut. Ya, semua orang berhak kalut terhadap masalahnya sendiri-sendiri. Jika ada orang yang mengklaim bahwa dirinya tidak pernah kalut, pastilah derajatnya melebihi superhero. Spiderman, yang notabene seorang superhero, pernah dibuat kalut ketika pamannya meninggal. Bukan begitu?

Setiap orang pasti bereaksi ketika sedang dilanda kekalutan. Reaksinya pun beragam dan kadang “pengaktualisasiannya” aneh-aneh. Ada yang memandangi langit, ada yang makan dengan porsi besar, ada yang memutar lagu-lagu melankolis hingga membuatnya menangis, dan berbagai bentuk jamak “pengaktualisasian” yang pastinya sudah sering kamu lihat dan ketahui. Tidak, saya tidak akan bertanya: Dari berbagai ciri-ciri “pengaktualisasian” kekalutan di atas, manakah yang identik denganmu?

Namun selain ciri-ciri di atas, ada juga orang yang tidak terlalu reaksioner terhadap kekalutannya. Mungkin lebih tepatnya, dia hanya sejenak merasakan kalut – atau mungkin malah tidak pernah merasakan, dan langsung kembali ke realita hidupnya. Karena memang orang yang kalut akan terlena dengan “pakem” kekalutan yang biasanya dilandasi dengan kalimat: seharusnya seperti ini. Orang-orang semacam tadi, tidak terlena di tahap ini. Ia segera moving forward untuk menatap rencana-rencana yang telah dipersiapkan oleh kehidupan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang langka dan seakan-akan congkak terhadap permasalahan kehidupan.  Setiap masalah yang menerpa hidupnya, ia anggap angin lalu. Karena menurutnya setiap masalah pasti sudah ada solusinya sendiri, entah akan terjawab hari ini atau esok atau beberapa hari ke depan. Sebelum masuk ke fase kalut, mereka sudah memfilterisasinya. Lalu berbentuk apakah filter tersebut? Filter tersebut berbentuk positive thinking. 

Positive thinking memang sulit. Perlu proses untuk bisa mendapatkannya. Saya jadi teringat nasehat Pak Quraish Shihab di acara sahur tadi malam, yang intinya adalah kita sebagai manusia harus selalu berharap dan tidak boleh berputus asa.  Nasehat beliau memang benar. Putus asa adalah musuh terbesar manusia. Manusia adalah makhluk yang mudah dalam berangan-angan/bercita-cita, dan juga manusia adalah makhluk yang dengan mudahnya berputus asa ketika angan-agan/cita-citanya tidak terealisasi. Jika tulisan ini ditarik ke ranah religius, Tuhan pun sudah mengingatkan kita untuk selalu berpikir positif. Melalui ayatnya, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Dari ayat tersebut – yang diulang dan ditekankan – berarti Tuhan telah menjamin umatnya untuk terus berpikir positif serta menjamin bahwa pertolonganNya akan selalu ada. Yakinlah…

Oh hampir kelupaan, yang menarik  dari berpikir positif adalah kata-kata, “Udahlah, positive thinking aja. It’s gonna be fine” sudah menjadi semacam kalimat penghibur permasalahan di ranah global. Orang dengan mudah berkata atau menasehati kita supaya berpikir positif dan mengambil hikmah dari permasalahan yang kita hadapi. Padahal orang yang menasehati tersebut belum tentu bisa berpikiran positif. “Jadi orang yang menasehati supaya berpikiran positif itu gampang, tapi susah dijalanin”, begitu kata iklan salah satu provider edisi positive thinking.

Jika sebelum paragraf ini kamu berpikir bahwa tulisan ini anti klimaks dan terkesan tidak serius, maka sesungguhnya pikiran kamu benar. Saya memang sengaja tidak memberikan apa itu definisi positive thinking, cara-cara agar kita dapat dengan mudah ber­-positive thinking atau keuntungan positive thinking, karena tulisan ini bukanlah tulisan dengan title “Kiat-Kiat Sukses”. Jika kamu ingin mencari itu semua, silakan mencarinya di Google, silakan menonton Golden Ways, dan silakan membaca buku The Secret. Oh, ngomong-ngomong soal The Secret, buku tersebut sudah saya beli sekitar tiga tahun yang lalu tapi sampai sekarang saya belum membacanya, apakah ini merupakan tanda-tanda bahwa saya tidak bisa ber-positive thinking? Entahlah… Yang jelas Luwak White Koffie yang menamani saya merampungkan tulisan ini berasa lebih nikmat.

No comments:

Post a Comment