(Derap
langkah orang, mereka meneriaki, memaki, menghakimi, “Singkirkan dia! Asingkan
dia! Hakimi dia! Dia hanya seonggok kotoran di sini!”)
Jangan… Jangan
sekarang… Jangan esok… Jangan… Jangan hari ini… Jangan lusa… Jangan nanti…
Jangan sedetikpun… Jangan… Aaahhh… jangan!
(Suara
derap dan makian pun hilang)
Tik tik tik, bunyi
hujan di atas genting. Airnya turun, tidak terkira. Cobalah tengok, dahan dan
ranting. Pohon dan kebun basah semua.
Aku masih ingat ketika
kau pertama kali menyanyikan lagu ini. Di luar memang sedang hujan, langit
memang tidak bersahabat, tak bermahkotakan cahaya. “Sapalah hujan di luar sana,
nak. Tak usah kau cemas terhadap hujan, sesungguhnya rintik airnya adalah
anugerah.”, begitu ucapku ketika itu. Sama sepertimu, kau ada hari ini adalah
sebuah anugerah. Maka sapalah setiap rintik air hujan yang turun di kotamu,
karena di balik rintik hujan itu ada sebuah cinta, hangat peluk, dan rindu yang
menunggu.
“Sebelum tidur, gosok
gigi; cuci kaki tanganmu; dan berdoalah kepada Tuhan supaya hidupmu tak ragu”,
kalimat itu sudah hampir terlupakan olehku. Kalimat itu hanyut ditelan waktu.
Semoga kau di sana masih mengingat itu.
Waktu cepat berlalu. Semakin
cepat waktu berganti, semakin cepat pula tuntutan dalam hidup ini. Memang,
praktek hidup tak semudah yang ada TV, kau pun tahu itu dan memilih
meninggalkan tempat di mana memori hidupmu tumbuh. Kadang setiap pilihan
menumbuhkan sebuah harapan dan kadang setiap pilihan meninggalkan sebuah
kepiluan. Hiruk pikuk suasana kota seperti menyihirmu untuk membawamu mengadu,
menghamba pada setiap denyut-denyut penghasil keping materi. Meninggalkanku
sendiri dalam wangi sabunmu, meninggalkanku sendiri dalam dinding-dinding papan
yang tak berbicara, meninggalkanku sendiri dalam sujud simpuhku supaya kau tak
terbuai dengan fatamorgana kota. Dalam deru air mata rindu aku berdoa
kepada-Nya:
(Tim
Musik)
Lindungilah setiap
langkahnya. Singkirkanlah dari setiap perbuatan durjana. Berikanlah secuil
materi untuk hidupnya nanti. Ingatkanlah untuk selalu mengerti diri. Terangilah
jalannya di kala cahaya hidupnya mulai meredup dalam kabut. Kabulkanlah,
kabulkanlah, kabulkanlah…
Suara itu… Bayangan
itu… Suara itu… Bayangan itu… “Apakah kau di sana baik-baik saja, nak? Demi
Tuhan, katakanlah, apakah kau di sana baik-baik saja?” Bayang-bayang itu
menghantuiku. Dia menyergapku dalam bisu, menguburku dalam beribu tanya, apakah
kau di sana masih seperti yang dulu? Dalam mimpi ku bertemu, banyak luka di
raut wajahmu, tubuhmu tak lagi kebal menantang congkak murka sang surya,
tubuhmu tak lagi kebal menantang dingin sang purnama. “Kembalilah, nak…
Kembalilah…”
(Derap
langkah orang, mereka meneriaki, memaki, menghakimi, “Singkirkan dia! Asingkan
dia! Hakimi dia! Dia hanya seonggok kotoran di sini!”)
Jangan… Jangan
sekarang… Jangan esok… Jangan… Jangan hari ini… Jangan lusa… Jangan nanti…
Jangan sedetikpun… Jangan… Aaahhh… jangan!
(Suara
derap dan makian pun hilang)
Jangan… Jangan… Tidak…
Jangan… Persetan dengan kalian semua! Para bangkai berjalan, pemakan sesama,
kanibal! Mana hati manusiamu? Mana nuranimu? Mana akal sehatmu? Dia manusia,
engkau manusia, tak ada yang perlu diragukan! Sesungguhnya tak ada yang perlu
diragukan! Akan tetapi kau malah membawa kerikil-kerikil tajam lalu kau
lemparkan pada hidup seseorang yang menurutmu berseberangan denganmu! Kau
hakimi, kau rajam, kau nistakan! Kau ambil karung, kau masukkan tubuh lemah
itu, kau tembaki dengan senapan berisi umpatan-umpatan, lalu kau buang
jauh-jauh tubuh itu karena menurutmu mengganggu. Itukah yang kau namakan kebersamaan?!
Itukah yang kau namakan kebersamaan?! Seharusnya kau tahu, bahwa ada
orang-orang yang tak seberuntung dirimu. Dia berjuang dalam kehidupannya yang
tak lagi tegar. Dia berpeluh dalam kehidupannya yang sudah luluh. Sudahkah
kalian mengerti? Masihkah kalian terbahak-bahak??
Tuhan… Yang Maha
Perkasa, berikanlah hamba-Mu kekuatan untuk melaluinya. Gontainya adalah
gontaiku, kesedihannya adalah kesedihanku, kesakitannya adalah kesakitanku.
Berikanlah hamba-Mu kesabaran. Jikalau rasa putus asa itu ada, bolehkah hamba
menikmatinya?
(Lirih
menyanyikan)
Tik tik tik, bunyi
hujan di atas genting. Airnya turun, tidak terkira. Cobalah tengok, dahan dan
ranting. Pohon dan kebun basah semua.
Aku masih ingat ketika
kau pertama kali menyanyikan lagu ini. Di luar memang sedang hujan, langit
memang tidak bersahabat, tak bermahkotakan cahaya. “Sapalah hujan di luar sana,
nak. Tak usah kau cemas terhadap hujan, sesungguhnya rintik airnya adalah
anugerah.”, begitu ucapku ketika itu. Sama sepertimu, kau ada adalah sebuah
anugerah. Maka kini sapalah setiap rintik air hujan yang turun di kotamu,
karena di balik rintik hujan itu ada sebuah cinta, hangat peluk, dan rindu yang
akan terus menunggu. Selamanya…
-------------------------------------------------------------------
"Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri". Ungkapan tersebut yang mendasari saya dalam menulis naskah di atas. Banyak orang meninggalkan tempat di mana ia dilahirkan, tempat di mana memori-memori hidupnya tumbuh, demi mencari peruntungan di ibukota dengan dalih, "Ibukota mempunyai sejuta mimpi". Kadang, ibukota tidak hanya berperan sebagai pencipta keping-keping materi, tempat orang-orang bisa merealisasikan mimpi-mimpinya, tapi juga sebagai pencipta luka, yang menyebabkan orang yang "terluka" tersebut disingkirkan dan diasingkan dibalik gemerlap kota. Hanya dukungan dari diri sendiri, keluarga dan doalah yang mampu membuat orang yang "terluka" tersebut menjadi kuat.
Naskah ini saya pentaskan bersama teman-teman Teater SOPO dalam rangka "Malam Renungan AIDS Nasional" pada 12 Mei 2013 di Sriwedari, Solo.
No comments:
Post a Comment