May 14, 2013

KINI

(Derap langkah orang, mereka meneriaki, memaki, menghakimi, “Singkirkan dia! Asingkan dia! Hakimi dia! Dia hanya seonggok kotoran di sini!”)

Jangan… Jangan sekarang… Jangan esok… Jangan… Jangan hari ini… Jangan lusa… Jangan nanti… Jangan sedetikpun… Jangan… Aaahhh… jangan!

(Suara derap dan makian pun hilang)

Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting. Airnya turun, tidak terkira. Cobalah tengok, dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua.

Aku masih ingat ketika kau pertama kali menyanyikan lagu ini. Di luar memang sedang hujan, langit memang tidak bersahabat, tak bermahkotakan cahaya. “Sapalah hujan di luar sana, nak. Tak usah kau cemas terhadap hujan, sesungguhnya rintik airnya adalah anugerah.”, begitu ucapku ketika itu. Sama sepertimu, kau ada hari ini adalah sebuah anugerah. Maka sapalah setiap rintik air hujan yang turun di kotamu, karena di balik rintik hujan itu ada sebuah cinta, hangat peluk, dan rindu yang menunggu.

“Sebelum tidur, gosok gigi; cuci kaki tanganmu; dan berdoalah kepada Tuhan supaya hidupmu tak ragu”, kalimat itu sudah hampir terlupakan olehku. Kalimat itu hanyut ditelan waktu. Semoga kau di sana masih mengingat itu. 

Waktu cepat berlalu. Semakin cepat waktu berganti, semakin cepat pula tuntutan dalam hidup ini. Memang, praktek hidup tak semudah yang ada TV, kau pun tahu itu dan memilih meninggalkan tempat di mana memori hidupmu tumbuh. Kadang setiap pilihan menumbuhkan sebuah harapan dan kadang setiap pilihan meninggalkan sebuah kepiluan. Hiruk pikuk suasana kota seperti menyihirmu untuk membawamu mengadu, menghamba pada setiap denyut-denyut penghasil keping materi. Meninggalkanku sendiri dalam wangi sabunmu, meninggalkanku sendiri dalam dinding-dinding papan yang tak berbicara, meninggalkanku sendiri dalam sujud simpuhku supaya kau tak terbuai dengan fatamorgana kota. Dalam deru air mata rindu aku berdoa kepada-Nya:

(Tim Musik)

Lindungilah setiap langkahnya. Singkirkanlah dari setiap perbuatan durjana. Berikanlah secuil materi untuk hidupnya nanti. Ingatkanlah untuk selalu mengerti diri. Terangilah jalannya di kala cahaya hidupnya mulai meredup dalam kabut. Kabulkanlah, kabulkanlah, kabulkanlah…

Suara itu… Bayangan itu… Suara itu… Bayangan itu… “Apakah kau di sana baik-baik saja, nak? Demi Tuhan, katakanlah, apakah kau di sana baik-baik saja?” Bayang-bayang itu menghantuiku. Dia menyergapku dalam bisu, menguburku dalam beribu tanya, apakah kau di sana masih seperti yang dulu? Dalam mimpi ku bertemu, banyak luka di raut wajahmu, tubuhmu tak lagi kebal menantang congkak murka sang surya, tubuhmu tak lagi kebal menantang dingin sang purnama. “Kembalilah, nak… Kembalilah…”

(Derap langkah orang, mereka meneriaki, memaki, menghakimi, “Singkirkan dia! Asingkan dia! Hakimi dia! Dia hanya seonggok kotoran di sini!”)

Jangan… Jangan sekarang… Jangan esok… Jangan… Jangan hari ini… Jangan lusa… Jangan nanti… Jangan sedetikpun… Jangan… Aaahhh… jangan!

(Suara derap dan makian pun hilang)

Jangan… Jangan… Tidak… Jangan… Persetan dengan kalian semua! Para bangkai berjalan, pemakan sesama, kanibal! Mana hati manusiamu? Mana nuranimu? Mana akal sehatmu? Dia manusia, engkau manusia, tak ada yang perlu diragukan! Sesungguhnya tak ada yang perlu diragukan! Akan tetapi kau malah membawa kerikil-kerikil tajam lalu kau lemparkan pada hidup seseorang yang menurutmu berseberangan denganmu! Kau hakimi, kau rajam, kau nistakan! Kau ambil karung, kau masukkan tubuh lemah itu, kau tembaki dengan senapan berisi umpatan-umpatan, lalu kau buang jauh-jauh tubuh itu karena menurutmu mengganggu. Itukah yang kau namakan kebersamaan?! Itukah yang kau namakan kebersamaan?! Seharusnya kau tahu, bahwa ada orang-orang yang tak seberuntung dirimu. Dia berjuang dalam kehidupannya yang tak lagi tegar. Dia berpeluh dalam kehidupannya yang sudah luluh. Sudahkah kalian mengerti? Masihkah kalian terbahak-bahak??

Tuhan… Yang Maha Perkasa, berikanlah hamba-Mu kekuatan untuk melaluinya. Gontainya adalah gontaiku, kesedihannya adalah kesedihanku, kesakitannya adalah kesakitanku. Berikanlah hamba-Mu kesabaran. Jikalau rasa putus asa itu ada, bolehkah hamba menikmatinya?

(Lirih menyanyikan)

Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting. Airnya turun, tidak terkira. Cobalah tengok, dahan dan ranting. Pohon dan kebun basah semua. 

Aku masih ingat ketika kau pertama kali menyanyikan lagu ini. Di luar memang sedang hujan, langit memang tidak bersahabat, tak bermahkotakan cahaya. “Sapalah hujan di luar sana, nak. Tak usah kau cemas terhadap hujan, sesungguhnya rintik airnya adalah anugerah.”, begitu ucapku ketika itu. Sama sepertimu, kau ada adalah sebuah anugerah. Maka kini sapalah setiap rintik air hujan yang turun di kotamu, karena di balik rintik hujan itu ada sebuah cinta, hangat peluk, dan rindu yang akan terus menunggu. Selamanya…
                                 -------------------------------------------------------------------
"Ibukota lebih kejam daripada ibu tiri". Ungkapan tersebut yang mendasari saya dalam menulis naskah di atas. Banyak orang meninggalkan tempat di mana ia dilahirkan, tempat di mana memori-memori hidupnya tumbuh, demi mencari peruntungan di ibukota dengan dalih, "Ibukota mempunyai sejuta mimpi". Kadang, ibukota tidak hanya berperan sebagai pencipta keping-keping materi, tempat orang-orang bisa merealisasikan mimpi-mimpinya, tapi juga sebagai pencipta luka, yang menyebabkan orang yang "terluka" tersebut disingkirkan dan diasingkan dibalik gemerlap kota. Hanya dukungan dari diri sendiri, keluarga dan doalah yang mampu membuat orang yang "terluka" tersebut menjadi kuat.
Naskah ini saya pentaskan bersama teman-teman Teater SOPO dalam rangka "Malam Renungan AIDS Nasional" pada 12 Mei 2013 di Sriwedari, Solo.

No comments:

Post a Comment