Minggu sore, 19 Mei 2013. Saya mencoba menaati apa
yang Bruno Mars katakan, “Today I don’t
feel like doing anything. I just wanna lay in my bed….”. Menikmati Minggu
siang dengan rebahan di kasur sambil menonton TV adalah hal indah yang pernah
manusia lakukan, inikah surga dunia yang banyak orang katakan? Entahlah. Acara TV siang itu monoton sehingga memaksa
saya untuk memindah-mindah channel, dari
satu program ke program lain. Harapan saya siang itu bisa menonton FTV yang
mana Ariel Tatum sebagai aktrisnya, tapi harapan itu akhirnya pudar tatkala
tidak ada FTV pun dengan Ariel Tatum karena siang itu TV “Satu Untuk Semua”
sedang menanyangkan kontes pencarian bakat adik-adik imut. Kamu pasti sudah
tahu nama acaranya, kan? Ya, sebut saja dengan Little Miss Indonesia. Sebagai tombo
gelo, okelah saya menonton acara itu saja. Menonton adik-adik yang
rata-rata berusia sekitar 5 tahunan, mereka didandani sedemikian rupa, mereka
berakting, mereka bernyanyi, pada intinya mereka mencoba memperlihatkan talenta
yang mereka punyai, dan goal-nya
adalah mengenalkan kepada masyarakat bahwa mereka siap menjadi the next rising star. Tapi, tapi, tunggu dulu. Ada yang janggal
dengan acara tersebut, bukan karena pesertanya, bukan karena host-nya, apalagi yang menonton (baca: penulis),
tapi bintang tamunya: SM*SH.
Kak
Morgan, Kak Rangga, Kak Rafael, Kak Dicky, Kak Reza, Kak Ilham, Kak Bisma, Aku Nge-fans Sama Kalian! Aaakkk…
SM*SH (tulisannya benar seperti itu, kan?) adalah
salah satu fenomena industri musik
Indonesia yang sekitar satu setengah tahun belakangan ini sedang naik daun.
Jika indikator tenar adalah menjadi bintang iklan sosis, maka mereka telah
membuktikannya. Mereka lebih tampan, mereka lebih bisa bernyanyi sambil nge-dance, dan mereka lebih terkenal, itulah
yang membuat mereka banyak digandrungi oleh kaum hawa. Sangat berkebalikan
dengan saya.
Fans. Mereka nampaknya telah menjadi boyband sejuta umat di Indonesia. Coba tebak, ada berapa wanita
yang terus memanggil nama mereka, membawa poster mereka, dan bahkan menangis
ketika melihat mereka tampil? Jika para wanita ABG menaruh kekaguman yang
berlebihan kepada mereka, yang ditunjukkan dalam beberapa kalimat sebelum ini,
maka bagi saya itu adalah hal yang wajar. Namun bagaimana jadinya jika yang
nge-fans dengan mereka adalah
anak-anak? Itulah yang saya maksud dengan janggal.
Ketika saya menonton, ada satu peserta yang
memanggil-manggil nama Rangga. Sambil membawa foto para personel SM*SH, dia
berdialog yang pada intinya menantikan kehadiran Rangga untuk menemaninya
bermain. Yang membuat saya terkejut no. 1 adalah ia mencium foto itu! Melihat
hal tersebut, penonton pun bersorak. Rangga
belum juga datang, ia akhirnya mengambil handphone-nya
dan kemudia ia mem-BBM Rangga. Inilah
yang membuat saya terkejut no. 2. Dan pada akhirnya yang ia nantikan datang
juga. Rangga datang dari belakang, mengendap-endap, setelah dekat dengannya,
Rangga langsung memeluk peserta tersebut dari belakang. Kamu pasti sudah tahu bagaimana reaksi
penonton, kan? Lalu peserta tersebut berbalik badan dan memeluk Rangga balik
sambil berkata, “Kak Rangga, I lap yu”. Perlukah saya menuliskan reaksi
penonton melihat adegan itu? Dan hal itulah yang membuat saya terkejut no. 3.
Paragraf di atas adalah salah satu adegan dari Little Miss Indonesia, sebuah ajang
pencarian bakat yang mana pesertanya berusia 2-7 tahun, sekali lagi, 2-7 tahun!
Saya tidak tahu apakah adegan di atas merupakan skenario di mana para peserta
seolah-olah menjadi penggemar SM*SH, atau memang dalam kehidupan nyata,
adik-adik tersebut benar-benar menjadi die
hard fans SM*SH. Tapi yang jelas adegan tersebut adalah suatu ironi. Ironi
ini terjadi karena adik-adik tersebut menggemari artis yang tidak seharusnya
mereka gemari. SM*SH adalah boyband yang
menyanyikan lagu-lagu cinta, jika membicarakan pasar, lagu-lagu mereka
kebanyakan dinikmati oleh kalangan remaja-dewasa, bukan anak-anak. Apakah para
peserta (pada khususnya) dan anak-anak (pada umumnya) yang menggemari SM*SH
sudah paham tentang lagu-lagu mereka? Jika mereka sudah paham, berarti ada yang
salah dengan sistem, dan pastilah Kak Seto semakin dibuat cenat-cenut.
Sistem
yang Salah
Berdasar penggalan cerita di atas, menurut saya,
memang ada suatu sistem yang salah. Adalah suatu keanehan di mana anak-anak
sekarang lebih hafal lagu dari SM*SH, Cheryybelle, Coboy Junior, dan
musisi-musisi sejenis dibanding lagu anak-anak, lagu daerah dan bahkan lagu
nasional. Anak-anak sekarang terlalu mudah untuk mengonsumsi sesuatu, lagu
cinta misalnya (cinta di sini adalah cinta kepada lawan jenis; romansa). Anak
tetangga saya yang berumur sekitar 5 tahun, dulu pernah menyanyikan, “….Never never want you, really really love
you, maafkan aku mengecewakanmu….”. Miris.
Proses globalisasi yang ditandai dengan teknologi
yang semakin meningkat seakan menjadi pembunuh bagi masa anak-anak. Masa
anak-anak adalah masa bermain, mereka seperti mempunyai dunia mereka sendiri. Seorang
ahli psikologi dari Rusia, Ljublinskaja, memandang bahwa permainan sebagai
pencerminan realitas, sebagai bentuk awal memperoleh pengetahuan. Dari bermain
mereka belajar bagaimana berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan
sosialnya. Pembentukan karakter seseorang dimulai dari ia kecil berdasarkan
cara interaksi dan adaptasi yang ia peroleh. George Herbert Mead menyebutkan
bahwa salah satu tahapan seseorang bersosialisasi adalah ditandai dengan proses
peniruan, bahasa akademisnya adalah play
stage. Seorang sastrawan Amerika, Arthur Baldwin, berkata, “Anak-anak
memang tidak begitu baik dalam mendengar nasehat orangtua mereka, tapi mereka
tidak pernah gagal dalam meniru”. Lingkungan yang semakin hari semakin terbuka,
ditambah dengan intervensi dari media massa dan teknologi, menyebabkan anak
berkembang tidak sesuai dengan usianya. Proses filterisasi yang kurang dari
lingkungan sosial dan terutama dari lingkungan keluarga, berujung dengan
mudahnya anak mengkonsumsi apa yang seharusnya tidak ia konsumsi. Salah satunya
adalah lagu romansa. Padahal Pak Kasur&Bu Kasur, Ibu Sud, A.T. Mahmud, Kak Seto, Papa T. Bob, telah
menciptakan lagu anak-anak yang berfungsi untuk mengedukasi anak-anak.
Nilai-nilai yang terkandung dalam lagu-lagu tersebut sangat tinggi, dan bahkan
saya pun sampai sekarang masih dibuat merinding ketika membaca/mendengarkan
karya mereka. Nilai-nilai inilah yang seharusnya ditanamkan kepada anak-anak
ketika mereka masuk ke dalam tahap bermain ini, supaya pola pikir mereka
berkembang secara natural. Apa jadinya jika anak-anak yang berumur 5 tahunan
sudah dicekoki dengan lagu-lagu dewasa? Bisa jadi kelakuan, gesture, dan bahkan sampai gaya hidup
pun akan menjadikan mereka anak-anak yang dewasa secara prematur. Ini merupakan
sebuah hal yang abnormal, sama abnormalnya ketika kita tanyai mereka besok mau
jadi apa. Lalu mereka pun menjawab, “Pengin
jadi girlband”.
Maisy-Maisy
Generasi Baru Di Manakah Engkau Berada?
Mungkin yang juga melatarbelakangi kenapa anak-anak
zaman sekarang mengidolakan penyanyi dewasa adalah minimnya penyanyi cilik di
Indonesia. Pun ditambah juga dengan minimnya program-program yang berbau
anak-anak.
Saya besar di era 90-an, di mana ketika itu
penyanyi cilik masih menjamur, sama menjamurnya dengan boyband/girlband sekarang namun dengan segmen yang berbeda. Saya
masih ingat ketika saya dulu mengidolakan Maisy, Chikita Meidy, Trio Kwek-Kwek,
Ria Enes&Susan dan lagu-lagu mereka dulu juga sering dinyanyikan oleh
teman-teman saya di sekolah. Saya dulu bahkan sampai membujuk orangtua saya
agar membelikan albumnya Maisy dan Ria Enes&Susan karena begitu nge-fans-nya saya dengan mereka. Maisy, jika
kamu membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa saya nge-fans dengan kamu!
Dulu penyanyi cilik begitu populer, saking
populernya, pangkat mereka naik menjadi artis cilik. Sangat berkebalikan dengan
sekarang. Penerus tongkat estafet penyanyi cilik hampir tidak ada. Maisy-Maisy
generasi baru hampir tidak pernah menghiasi TV. Atau mungkin ada tapi tidak di-support oleh media? Dan mentoknya paling
videonya hanya bisa kita dapatkan di lapak-lapak VCD bajakan. Kalaupun ada
ajang pencarian bakat menyanyi yang katanya mencari calon idola anak-anak, maka
itu sama saja kita ngupil dengan
memakai sarung tinju. Sia-sia! Karena dulu saya sempat melihat para kontestan
di ajang pencarian bakat menyanyi tersebut telah terkontaminasi dengan
lagu-lagu dewasa. Mereka dibentuk sebagai calon idola anak-anak tapi secara ideologi,
tidak ada ideologi anak-anak di sana. Hampir sama dengan anggota BEM yang
berkoar-koar di jalan, tapi dia tidak memiliki ideologi yang pasti, dan
berkoar-koarnya hanya karena dia tuntutan dia adalah anggota BEM. Loh, kenapa
tulisan ini sampai ke situ?
Sebegitu populernya lagu-lagu itu zaman dulu, yang
bahkan masih bisa diwariskan hingga anak zaman sekarang. Ini karena, dulu,
media membantu mem-blow up lagu-lagu
tersebut. Lagu-lagu tersebut diputar di acara-acara anak. Masih ingatkah kamu
dengan Tralala Trilili, Dunia Ceria, Cilukba? Jika tidak ada Tralala Trilili
mungkin tidak akan pernah ada twitwar antara
fans Agnes Monica dan Anggun C. Sasmi
di timeline Twitter.
Di tambah lagi, dulu, televisi masih “berbaik hati”
menanyangkan kartun-kartun dan film anak-anak, sehingga, dulu, konsep bermain
dalam fase anak benar-benar terwujud. Berapa banyak anak yang dulu bermimpi
menjadi Power Rangers?
Berbeda dengan sekarang, silakan hitung ada berapa
acara anak-anak pada jam 16.00-18.00? Dulu saya ingat Hari Minggu adalah “hari
besarnya” anak-anak. Anak-anak begitu dimanjakan dengan tayangan kartun dan
film-film anak dari pagi hingga siang. Tapi sekarang, porsi tayangan anak sudah
berkurang, bahkan di Hari Minggu. Ketika sore-menjelang malam, televisi malah
berlomba-lomba menanyangkan konflik Eyang Subur-Adi Bing Slamet, affair Ahmad Fathanah dengan Vitalia
Sesha, dan update terbaru dari Arya
Wiguna. Demi Tuhan, itu membuat anak kehilangan imajinasinya!
Dengan tidak adanya “pelampiasan” masa anak-anak,
maka anak-anak zaman sekarang mencari “pelampiasannya” dengan
mendengarkan/menonton materi-materi yang bukan masanya. Filterisasi konten
seharusnya dilakukan oleh orangtua. Orangtua seharusnya pintar memilih
konten-konten yang cocok dikonsumsi oleh anaknya, bukan malah membiarkan
anaknya mengkonsumsi konten-konten yang tidak mencerminkan masanya atas alasan:
biar tidak ketinggalan zaman. Media (terutama televisi) juga berperan penting
terhadap perkembangan anak. Wahai media, ayo buatlah acara-acara yang mana
anak-anak bisa merasakan dirinya sebagai anak-anak! Kalian tidak ingin, kan,
anak-anak sekarang didewasakan sejak dini? Bayangkan saja, apa jadinya bila
anak laki-laki berumur lima tahun sudah memiliki kumis dan yang perempuan sudah
menimang anaknya?
"Susan, Susan, Susan
Besok gede mau jadi apa?
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter"
(Ria Enes&Susan-Susan Punya Cita-Cita)
No comments:
Post a Comment