Ketika musik ending mengalun, ketika lampu perlahan fade out, dan adegan terakhir selesai diperankan, seketika itu juga penonton bertepuk tangan. Riuh. Entah apakah mereka menyukai pementasan yang mereka tonton, atau hanya sebuah formalitas ketika pementasan berakhir tanda sebuah penghormatan. Yang jelas pada saat itu mereka yang memainkan musik, mengoperasikan dimmer, memerankan tokoh atau siapa saja orang yang berada dalam lingkaran pementasan itu, ada yang tertawa gembira, tersenyum kecil, berfoto dengan teman-temannya dan hal-hal lain yang lumrah dilakukan pada saat sebuah pementasan telah berhasil dilangsungkan.
Saya juga pernah mengalami hal-hal yang tertulis di atas. Tapi itu dulu. Walaupun tiga hari yang lalu saya dan teman-teman Teater SOPO telah berhasil melangsungkan Bikin Bikin XIX, yang mana pementasan tersebut mendapatkan apresiasi tinggi dari penonton, tapi entah kenapa setelah selesai pentas, gegap gempita panggung dan penonton yang akhirnya terakumulasi menjadi euforia, tidak bisa saya dapatkan. Saya hanya bisa termenung, jauh dari keriuhan, dan mencoba mengabaikan.
Tidak ada bahagia, tidak ada kecewa, hanya sebuah kesedihan. Ya, saya sedih, ini bukan hiperbola, dan saya tidak bisa menyangkal itu. Perasaan itu ada karena suatu saat saya harus meninggalkan itu semua, meninggalkan kelompok yang memberikan saya pelajaran. Perasaan itu ada karena saya berpikir apakah saya bisa berproses dengan mereka ke depannya ketika saya dihadapkan dengan kewajiban bernama studi. Perasaan itu ada karena pertanyaan dalam diri apakah saya bisa memberikan contoh dan berbagi ilmu dengan teman-teman angkatan di bawah saya. Menjadi seorang tua di dalam sebuah kelompok akibat studi yang belum selesai adalah sebuah hal yang berat. Tua berarti menjadi teladan, memberikan contoh, pemecah masalah dengan solusi, tapi itu semua belum ada dalam diri saya. Pergolakan batin ini semakin menjadi karena tuntutan orangtua untuk segera menyelesaikan kuliah, sehingga saya mempertanyakan diri saya sendiri, "Masih siapkah dirimu untuk menjaga eksistensi dan loyalitas? Kuliah atau teater?" Sebuah kalimat retoris menjadi akhir sebuah paragraf yang berisi tentang kegundahan.
Memang ada sebuah masa di mana kita harus memasuki sesuatu yang baru dan meninggalkan (walaupun dengan terpaksa) sesuatu yang telah lama kita jalani. Ketika satu proses telah terlewati, maka akan ada proses-proses selanjutnya yang menggantikan. Itulah hidup. Jika memang pada saatnya nanti kisah saya dalam kelompok tersebut berakhir, saya ingin mengakhirinya dengan akhir yang bahagia. Berbagi kebahagiaan atas segala memori yang terekam.
Terimakasih Teater SOPO...
Cheers!
*Oh ya, jika kamu membaca tulisan ini, alangkah lebih baiknya jika kamu memberi backsound lagunya Peterpan berjudul "Semua Tentang Kita", semua perasaan yang tak tertuliskan di tulisan ini telah terwakilkan di lagu itu.
sing semangat mas :D
ReplyDeleteHahahaha..
DeleteKowe kudune sing semangat. Perjalananmu isih dawa ning tempat kui, hahaha..
siap laksanakan :D hahaha semangat skripsine maksute *ups
ReplyDeleteEmmm.. Anu... Kui ketoke tabu untuk diperbincangkan deh :D
ReplyDelete