Kali ini saya hanya ingin bercerita. Cerita saya kali ini bukan mengajak kamu untuk mempercayai kekuatan di dalam sebuah benda. Ini bukan tulisan yang membahas hal magis yang mana sebuah benda dikultuskan karena kesakralannya. Jika kamu benar-benar melakukannya, hati-hati saja, kamu nanti bisa dimarahi Tuhan, begitu kata Anang Hermansyah dan Aurel.
Saya bukan seorang penganut dinamisme, tapi di dalam hati kecil saya, saya percaya bahwa suatu benda mempunyai jiwa dan nyawa. Kamu pernah menonton film Herbie Fully Loaded? Kira-kira seperti itulah pernggambarannya dalam sudut pandang film.
Tulisan ini didasari oleh kisah nyata, berulang kali saya berurusan dengan benda-benda yang "seperti itu". Contoh kecilnya adalah motor saya. Sudah berulang kali saya dibuat naik pitam karena ulah motor saya. Yang paling baru adalah kemarin siang. Kemarin siang, motor saya ngambek. Ngambeknya bukan main, sampai-sampai saya harus mengeluarkan Rp 36.000,00 untuk "pengobatan" motor saya. Pengobatan adalah kiasan, dalam bahasa yang bukan kiasan adalah mengganti ban dalam akibat dop-nya bocor. Pernah juga saya harus menambal ban sebanyak tiga hari dalam satu hari, lebih mengesankannya, itu terjadi ketika perjalanan ke luar kota.
Dari kedua peristiwa tersebut akhirnya saya mempunyai kesimpulan bahwa yang menyebabkan motor saya ngambek adalah karena saya jarang merawatnya. Ketika kedua peristiwa tersebut terjadi, motor saya tidak dalam kondisi good looking alias dalam keadaan kotor. Hampir sama dengan ritual jamasan (memandikan) keris atau barang-barang pusaka lainnya pada saat hari-hari tertentu, konon katanya jika tidak dimandikan maka benda tersebut akan mendatangkan bala' atau peristiwa yang merugikan si empunya. Mungkin motor saya mengadopsi pola pikir keris pusaka tersebut, sehingga ketika ia jarang saya rawat, maka ia akan "menegur" si empunya agar memperhatikan dan merawatnya.
Saya jadi teringat kalimat yang dilontarkan oleh seorang alumni teater di tempat saya, "Alat itu tidak pernah salah, manusianyalah yang salah.", begitu kalimatnya. Jika ditelaah dan direnungkan, memang benar, alat tidak pernah salah. Alat adalah benda mati, bisa juga disebut dengan mesin. Mana mungkin benda mati merawat dirinya sendiri? Perlu perhatian dari kita sebagai makhluk yang sempurna supaya merawat benda-benda yang kita buat untuk memudahkan pekerjaan kita. Ketika ada, misal, sebuah kecelakaan yang terjadi, orang-orang langsung memberikan judge kepada mesin. Padahal mesin bisa seperti itu karena ulah manusia sendiri, bukan?
Di era modern seperti ini, benda-benda mati, termasuk mesin, adalah sahabat manusia. Sudah saatnyalah kita memperlakukan mereka sebagai teman bukan sebagai mesin atau benda mati. Karena saya yakin, setiap benda itu mempunyai jiwa. Merawat mereka adalah sebuah ucapan terimakasih kita kepada benda mati dan kepada Tuhan, yang karenaNya kita sebagai manusia bisa membuat benda mati tersebut untuk memudahkan kita. Bagaimana jika kita tetap kekeh untuk tidak merawat mereka? Tunggu saja, ada suatu masa di mana manusia akan bertempur dengan mesin ciptaannya... Aahhh, tapi itu terlalu fiksi ilmiah...
No comments:
Post a Comment