26 April adalah tanggal yang bersejarah bagi saya setiap tahunnya. Setelah proses kontraksi terjadi, seorang bayi laki-laki mungil keluar dari rahim ibunya. Diasuh dengan diberi kasih sayang, bayi mungil itu akhirnya memasuki masa balita, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, hingga akhirnya mantan bayi tersebut, sekarang, bisa menuliskan tulisan ini dalam usia 23 tahun.
Yap, dua hari yang lalu saya menapaki sebuah usia baru. Sebuah usia yang tidak bisa lagi dibuat untuk main-main. Karena dewasa berarti siap, mandiri, dan tahan banting. Tapi persetan dengan semua itu! Menjadi dewasa itu melelahkan dan menjemukan, bukan? Dengan segala kompleksitas hidup yang terus meningkat, dengan beragam tanggungjawab yang harus dibuat, dengan bermacam-macam tuntutan yang kadang membuat kita tidak mengenali diri kita sendiri.
Menjadi seorang yang skeptis terhadap masa dewasa merupakan sebuah blunder. Kita tidak bisa mungkin lepas dari masa ini karena ini merupakan takdir yang harus kita jalani. Atau mungkin rasa skeptis yang muncul dalam diri saya adalah sebuah kamuflase dari ketakutan-ketakutan yang saya buat sendiri? Saya memang pantas pantas takut karena saya rasa saya belum siap untuk melaju dalam lintasan yang orang menyebutnya dengan dewasa. Secara fisik memang saya siap memasuki masa dewasa, tapi secara pemikiran dan tindakan, bisa dibilang belum.
Ya, ya, ya, nampaknya sikap skeptikal (atau mungkin bisa disebut ketakutan?) saya sudah semakin memuncak. Silakan anggap saya sebagai seorang yang tidak mempunyai kepercayaan diri, tidak mempunyai keberanian, pengecut atau kata-kata merendahkan lainnya. Tapi setiap orang pasti mempunyai rasa skeptis terhadap sesuatu, bukan? Tapi setiap orang pasti mempunyai ketakutannya sendiri, bukan? Dan ketakutannya adalah suatu hal yang nyata. Yang saya takutkan hanyalah jika ketakutan-ketakutan saya ini menjadi phobia. Phobia terhadap sesuatu boleh-boleh saja, tapi kalau phobia terhadap hidup? Dokter mana yang akan menyembuhkan? Hahaha... Di Facebook dan Twitter, banyak teman saya yang mendoakan dan memberi ucapan supaya saya sukses, diberi kesehatan, dan cepat lulus kuliah. Itu baik. Tapi seharusnya kalian juga berdoa supaya kelak saya tidak mengidap psikosomatis, hahaha...
Ketika membaca paragraf sebelum ini, pasti kamu menganggap saya sedang mencari pembenaran, bukan? Dan selamat, anggapanmu benar :)
No comments:
Post a Comment