Ada
helaan nafas yang panjang sekali ketika saya akan memulai tulisan ini.
Desember, bulan
penghujung yang selalu ada di setiap tahunnya. Penghujung berarti pamungkas,
bisa juga disebut akhir. Akhir dari segala kegiatan, akhir dari segala rasa
lelah, akhir dari segala aktivitas kita di tahun ini. Biasanya di
tanggal-tanggal ini, orang seperti sudah terlepas dari beban. Mahasiswa, siswa,
sudah terlepas dari beban akademik. Perusahaan-perusahaan sudah tutup buku. Pekerja
kantoran memilih untuk mengambil cuti. Orang-orang berduyun-duyun memadati
obyek wisata. Berduyun-duyun memadati kota-kota yang elok dengan pemandangan
alamnya, atau hanya sekedar mampir untuk belanja. Hotel-hotel telah di-booking sejak jauh-jauh hari. Airlines laku keras melayani orang-orang
berduit yang ingin terbang ke Eropa hanya sekedar merasakan salju dan musim
dingin di sana, atau pergi ke Bali untuk melihat sunset terakhir tahun ini.
Semua orang seperti
ingin merayakan sesuatu. Kamu pasti juga sudah membuat agenda Tahun Baru, kan?
Walau hanya menonton film-film di TV yang berlabel: mantan box office. Ya, semua orang memang pantas bersenang-senang. Terompet
ditiup, kembang api dinyalakan, dan puncaknya adalah semua orang menghitung
mundur, demi sebuah ritual akhir tahun yang saya sebut dengan “Penghabisan”.
28
Desember 2013
Saya terkekeh-kekeh
membaca tweet Risa Saraswati beberapa
hari lalu. Tidak lucu memang, tapi bagi saya itu lucu. Aneh, ya? “Feels like fulltime dumber”, tulis
Risa. Oke, peraturan Twitter adalah jika kamu menulis sesuatu, dan kamu me-retweet-nya, berarti secara sadar dan
sah kamu merasakan apa yang orang tersebut rasakan. Berdasarkan premis
tersebut, berarti kesimpulannya adalah apa yang Risa rasakan, saya rasakan pula.
Saya tidak mau tahu
kenapa Risa menjadi seorang fulltime
dumber. Yang jelas, atribut itu saya lekatkan kepada diri saya karena di
tahun ini saya hanya menjadi manusia wacana. Jika rencana diibaratkan sebagai
benda cair, maka wacana adalah gas – sebuah wujud baru akibat proses penguapan.
Ya, rencana yang saya rancang menguap entah ke mana dan (selalu) berakhir
sebagai wacana. Mulai dari rencana besar, sebut saja wisuda bulan ini. Sampai hal
remeh-temeh semacam menyisakan uang saku untuk ditabung, semua hanya berakhir
dengan helaan nafas panjang.
Menjadi fulltime dumber adalah penghabisan saya
di tahun ini. Seperti sekarang ini, adalah momen yang tepat bagi saya untuk
menertawakan kebodohan-kebodohan yang saya buat sendiri. Tidak ada selebrasi seperti
konteks yang saya tulis di paragraf awal. Yang ada hanyalah melakukan selebrasi
atas waktu yang saya buang sia-sia. Yang ada hanyalah terompet yang saya tiup bersuara
lantang penuh kecewa. Dan ketika menghitung mundur menuju tahun yang baru,
hanya ada rasa cemas melanda.
28
Desember 2014
................................................................................................................................
................................................................................................................................
................................................................................................................................
Saya tidak tahu apa
yang akan terjadi pada tanggal ini karena saya bukan penerawang masa depan. Apa
yang akan terjadi? Saya sudah menyiapkan beberapa space kosong untuk saya tulisi dengan tulisan sama persis seperti di
atas, hanya saja dengan sedikit pergantian tanggal dan tambahan embel-embel kalimat
“Maaf, saya gagal.” Atau akan ada sebuah tulisan lain dengan ending yang bahagia. Entahlah. Waktu tidak
bisa menjawab. Karena yang bisa menjawab hanya saya seorang.
Mau bertaruh?
1
Januari 2014
Di awal tahun, saya
hanya bisa berharap apa yang Melancholic Bitch senandungkan, “Setiap awal musim
kita siapkan segelas rasa sakit dan kehilangan, semangkuk rasa perih dengan
kebencian”, tidak menjadi kenyataan.
No comments:
Post a Comment