Dec 28, 2013

Penghabisan

Ada helaan nafas yang panjang sekali ketika saya akan memulai tulisan ini.

Desember, bulan penghujung yang selalu ada di setiap tahunnya. Penghujung berarti pamungkas, bisa juga disebut akhir. Akhir dari segala kegiatan, akhir dari segala rasa lelah, akhir dari segala aktivitas kita di tahun ini. Biasanya di tanggal-tanggal ini, orang seperti sudah terlepas dari beban. Mahasiswa, siswa, sudah terlepas dari beban akademik. Perusahaan-perusahaan sudah tutup buku. Pekerja kantoran memilih untuk mengambil cuti. Orang-orang berduyun-duyun memadati obyek wisata. Berduyun-duyun memadati kota-kota yang elok dengan pemandangan alamnya, atau hanya sekedar mampir untuk belanja. Hotel-hotel telah di-booking sejak jauh-jauh hari. Airlines laku keras melayani orang-orang berduit yang ingin terbang ke Eropa hanya sekedar merasakan salju dan musim dingin di sana, atau pergi ke Bali untuk melihat sunset terakhir tahun ini. 

Semua orang seperti ingin merayakan sesuatu. Kamu pasti juga sudah membuat agenda Tahun Baru, kan? Walau hanya menonton film-film di TV yang berlabel: mantan box office. Ya, semua orang memang pantas bersenang-senang. Terompet ditiup, kembang api dinyalakan, dan puncaknya adalah semua orang menghitung mundur, demi sebuah ritual akhir tahun yang saya sebut dengan “Penghabisan”.

28 Desember 2013

Saya terkekeh-kekeh membaca tweet Risa Saraswati beberapa hari lalu. Tidak lucu memang, tapi bagi saya itu lucu. Aneh, ya? “Feels like fulltime dumber”, tulis Risa. Oke, peraturan Twitter adalah jika kamu menulis sesuatu, dan kamu me-retweet-nya, berarti secara sadar dan sah kamu merasakan apa yang orang tersebut rasakan. Berdasarkan premis tersebut, berarti kesimpulannya adalah apa yang Risa rasakan, saya rasakan pula.

Saya tidak mau tahu kenapa Risa menjadi seorang fulltime dumber. Yang jelas, atribut itu saya lekatkan kepada diri saya karena di tahun ini saya hanya menjadi manusia wacana. Jika rencana diibaratkan sebagai benda cair, maka wacana adalah gas – sebuah wujud baru akibat proses penguapan. Ya, rencana yang saya rancang menguap entah ke mana dan (selalu) berakhir sebagai wacana. Mulai dari rencana besar, sebut saja wisuda bulan ini. Sampai hal remeh-temeh semacam menyisakan uang saku untuk ditabung, semua hanya berakhir dengan helaan nafas panjang.

Menjadi fulltime dumber adalah penghabisan saya di tahun ini. Seperti sekarang ini, adalah momen yang tepat bagi saya untuk menertawakan kebodohan-kebodohan yang saya buat sendiri. Tidak ada selebrasi seperti konteks yang saya tulis di paragraf awal. Yang ada hanyalah melakukan selebrasi atas waktu yang saya buang sia-sia. Yang ada hanyalah terompet yang saya tiup bersuara lantang penuh kecewa. Dan ketika menghitung mundur menuju tahun yang baru, hanya ada rasa cemas melanda.

28 Desember 2014

................................................................................................................................
................................................................................................................................
................................................................................................................................
................................................................................................................................

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada tanggal ini karena saya bukan penerawang masa depan. Apa yang akan terjadi? Saya sudah menyiapkan beberapa space kosong untuk saya tulisi dengan tulisan sama persis seperti di atas, hanya saja dengan sedikit pergantian tanggal dan tambahan embel-embel kalimat “Maaf, saya gagal.” Atau akan ada sebuah tulisan lain dengan ending yang bahagia. Entahlah. Waktu tidak bisa menjawab. Karena yang bisa menjawab hanya saya seorang. 
 
Mau bertaruh?

1 Januari 2014

Di awal tahun, saya hanya bisa berharap apa yang Melancholic Bitch senandungkan, “Setiap awal musim kita siapkan segelas rasa sakit dan kehilangan, semangkuk rasa perih dengan kebencian”, tidak menjadi kenyataan.

No comments:

Post a Comment