Metal! Begitulah kata yang pantas
disematkan kepada Semakbelukar. Tapi perlu diingat, metal yang satu ini
bukanlah metal yang penuh dengan suara distorsi, growling ataupun blasting, melainkan
sebuah akronim dari melayu total. Ya, Semakbelukar dengan bangga membawakan
konsep Melayu sebagai jalur bermusik mereka. Melayu yang sebenarnya, bukan
Melayu hasil pengidentikan yang menjadikan makna Melayu berkonotasi sebagai: band
mainstream dengan lagu melankolis, liriknya
bercerita tentang kisah cinta yang cheesy,
ditambah ketika mereka perform ada
saja ABG atau ibu-ibu labil menarikan gerakan absurd di barisan terdepan.
Tapi kamu tak perlu ragu kepada Semakbelukar.
Grup yang berasal dari Palembang ini bertanggungjawab terhadap muatan mereka,
dan berkat mereka derajat musik Melayu kembali tepat ke posisinya, dan tidak
berakhir hanya sebagai labeling. Jika
kamu pernah mendengar lagu-lagu daerah bernafaskan Melayu; dengan bunyi-bunyian
seperti mandolin, gendang Melayu, akordeon, minigong, jimbana, ditambah dengan
vokal merdu yang mengumandangkan lirik-lirik berima manis yang menyiratkan
tentang epos kehidupan, maka itulah yang kamu dengar pula di Semakbelukar. Seperti
EP mereka yang baru-baru ini dirilis oleh Elevation Records – sebuah label yang
merilis band-band berbahaya semacam Sajama Cut dan Aurette and the Polska
Seeking Carniva – benar-benar membuat saya takjub.
Sama seperti EP mereka sebelumnya
yang dirilis via netlabel Yes No Wave
Music, Drohaka, ketika mendengarkan
EP ini pertama kali, saya harus mengulanginya beberapa kali agar terbiasa dan
merasa nyaman. Yah, mungkin karena kuping saya adalah kuping Jawa, sehingga
ketika mendengarkan musik yang tidak berasal dari tempat saya tinggal dan
jarang pula saya dengarkan, dibutuhkan sedikit adaptasi tentunya. Analoginya
seperti lidah yang mencicipi makanan. Saya berasal dari Solo yang sering
mencicipi makanan dengan rasa manis, ketika pertama kali mencicipi makanan dari
daerah lain, tidak serta merta lidah saya mampu bersahabat dengan makanan itu.
Sama seperti Semakbelukar, ketika kamu pertama kali mendengarkan EP ini mungkin
ada penolakan dari kupingmu, “Musiknya aneh” begitu kiranya. Tapi percayalah,
ketika kamu mendengarkan berulang kali, ada rasa nyaman yang dapat kamu temukan.
Berisi delapan track, EP ini dirilis ke dalam dua
format yaitu vinyl dan CD. Perpaduan
alat musik khas lagu-lagu Melayu dengan lirik yang ajaib bak syair-syair
pujangga tanah Sriwijaya, benar-benar membuat suatu harmonisasi “magis”. Dibuka
oleh lagu rancak berjudul “Seloka Beruk”, lewat lagu ini Semakbelukar berusaha
untuk menyampaikan protes tanpa sesuatu yang berapi-api dengan, “…Semenjak beruk menjadi pemimpin, halal dan
haram pun dimakan…” Di detik-detik menuju lagu “Celaka” usai, ada akhir
yang tak terduga, mereka seperti mengajak menari di atas kebodohan yang kita,
para manusia, sering lakukan. Lagu favorit saya adalah “Merujuk Damai” Berbeda
dengan lagu-lagu lain di album ini yang upbeat,
“Merujuk Damai” hanya mengandalkan mandolin, tamborin dan vokal yang seksi sambil
menyelipkan petuah hidup, “…Usah kau
hiraukan lagi, terus berjalan tinggalkan saja. Rujuklah kembali damai yang kau
tinggalkan. Di rumah itu dia menunggu…”
Semakbelukar dalam Industri Musik Tanah Air
Semakbelukar adalah grup musik
dan sudah selayaknya mereka mempunyai suatu produk yang akan dikonsumsi
khalayak ramai. Akan tetapi produk yang mereka hasilkan berbeda dari
produk-produk yang ada di pasaran sekarang ini. Oke, mereka memang memainkan
musik yang easy listening, tapi
mereka sebenarnya juga melakukan perjudian karena pilihan musik yang mereka
mainkan tidak terlalu familiar di kuping konsumen yang lebih berkiblat pada pop
modern, bukan pop/folk tradisional yang Semakbelukar mainkan. Berada di
industri non mainstream yang konon
katanya penuh dengan musik-musik berkualitas, tapi tetap saja pilihan terakhir
berada di tangan konsumen yang mana adalah orang-orang selektif yang
mengapresiasi secara selera. Selera tidak bisa disalahkan, bukan?
Memainkan sesuatu yang tradsional
di era modern memang membutuhkan nyali yang besar. Ketakutan saya adalah
Semakbelukar hanya menjadi pelengkap di industri ini. Karena mereka benar-benar
memulai suatu era baru, butuh proses yang tidak semudah membalikkan telapak
tangan demi karya mereka diapresiasi. Dan jikalau karya mereka diapresiasi,
ketakutan kedua saya adalah, hanya “orang-orang tertentu” yang mau menikmati
apa yang mereka hasilkan. “Orang-orang tertentu” yang saya maksud adalah
orang-orang yang mau dan rela membuka indera pendengarannya demi sesuatu yang
baru dan bukan jamak. Di industri non mainstream-pun,
kadang kita terlalu terjebak dengan sesuatu yang jamak dan kadang enggan keluar
untuk mencari sesuatu yang baru. Walaupun saya hanyalah seorang penikmat musik,
tapi ketakutan saya adalah suatu hal yang beralasan. Semakbelukar adalah nafas
baru bagi industri ini, bisa dibilang mereka adalah penyegar di tengah-tengah “keseragaman”.
Memang jalur non mainstream ini mempunyai band/grup/duo/solo yang berkualitas. Tapi arah dan warna musik yang berada di jalur ini hanya melulu itu-itu saja. Tanpa ada maksud untuk mendiskreditkan, namun kadang hal itu membuat kita menjadi jenuh dengan kondisi, dan ingin mencari sesuatu yang unik Maka dari itu seseorang butuh sesuatu yang baru, seseorang butuh pelampiasan akibat kejenuhan
yang menghimpit, dan itu saya dapatkan dari Semakbelukar. Bukan melebih-lebihkan, mereka memang oase di tengah padang industri yang gersang ini. Mereka memang pantas
diapresiasi!
Terlepas dari peluang
Semakbelukar di industri ini, sejatinya mereka adalah orang-orang yang berjiwa
besar yang berani membawa kearifan lokal mereka ke ranah yang lebih luas. Melaui
Semakbelukar kita bisa menikmati musik tradisional tapi dengan cita rasa
kontemporer. Menarik, ketika suatu saat nanti Semakbelukar menjadi role model dari band/grup yang mencoba
untuk mengangkat kearifan lokal ke pasaran yang lebih luas. Jika ini terjadi
berarti kita telah ikut campur tangan dalam melestarikan kearifan lokal di
samping menikmati musik dengan bentuk lama tapi dengan gaya baru. Dan ini juga
menjadi indikasi bahwa pegiat musik sekarang tidak hanya didominasi oleh
orang-orang yang berasal dari Pulau Jawa. Dulu kita mengenal The New Wave of British
Heavy Metal dan Britpop, kini saatnya Pulau Sumatera – dan juga pulau-pulau
lain di Indonesia – menjadi penerus “pergerakan” itu karena musik tidak ada
sistem keterpusatan, bung! Ini semata-mata supaya industri musik Indonesia
semakin kaya akan musik-musik berkualitas, tidak monoton di itu-itu saja.
Seperti kata Semakbelukar di lagu
“Be(re)ncana”, “…hanya karena berbeda tak
berarti hilang muka…”

No comments:
Post a Comment