![]() |
| Foto: dokumentasi pribadi |
YouTube recommendation
memang berengsek. Bagaimana tidak, sewaktu nonton video yang disuka, dia secara
mak jegagik menyuguhkan thumbnail dan judul yang menghipnotis
pengguna untuk mengeklik. Lagi dan lagi, hingga berulang kali. Gara-gara fitur
itu, niscaya rebahan kita semakin kafah.
Andai kata YouTube
recommendation tidak ada, mungkin saya tak akan pernah berkenalan dengan
Alvvays. Perjumpaan perdana itu terjadi pada 2017. Selagi mengulik band-band dream pop, indie pop, dan
serumpunnya, video klip “Dreams Tonite” nongol di rekomendasi daftar putar.
Saya iseng men-dudul-nya, tanpa
ekspektasi apa pun. Beberapa detik berselang, alamak, saya langsung terpana.
Eh, bukan, ini sudah tahap jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Iki aku banget,”
pikir saya kala itu. Salah satu single
dari album Antisocialites tersebut
begitu manis, tetapi memberikan kesan rapuh sekaligus melankolis. Nuansa lagu
terasa retro. Apalagi ada efek-efek lo-fi
yang bikin konsepnya lebih menggigit. Ditambah dengan video klip yang menampilkan
suasana theme park di Montreal,
Kanada, semasa era ’60-an. Hebatnya, para personelnya bisa dimunculkan dalam footage lawas koleksi National Film Board
of Canada dan Prelinger Archive itu.
Momen terbaik dan yang paling membuat terngiang-terngiang
dari video klip “Dreams Tonite” adalah saat monorail
melintas di depan dinding warna-warni berlatar suara Molly Rankin menyanyikan bridge, “Live your life on merry-go-round. Who starts a fire just to let it go
out?” Lalu, kamera menampakkan Molly
yang mengenakan tweed jacket merah sedang
menyanyikan chorus, “If I saw you on the street, would I have you
in my dreams tonight?” Saking terkesimanya, potongan video klip tersebut
saya unggah ke Instagram. Ini menjadi
bukti bahwa saya menyukai band asal
Negeri Pecahan Es itu.
Ya, semakin dalam menyelami, rasa gandrung saya terhadap
Alvvays bertumbuh besar. Pastinya bakalan menyenangkan saat bisa menyaksikan
mereka tepat di depan mata.
Dan harapan itu pun terjawab sekitar dua tahun kemudian.
Deg-degan, Kampret!
Seusai menemukan permata itu, hampir tiap Minggu, saya
menyetel lagu-lagunya. Saya menobati tembang-tembang dari album pertama dan
kedua mereka sebagai lagu kebebasan plus weekend
anthem. Entah mengapa “Next of Kin”, “Archie, Marry Me”, “In Undertow”,
“Lollipop (Ode to Jim)” dan lainnya memberikan warna beda di akhir pekan. Mungkin
terdengar klise dan ndakik-ndakik,
tetapi ini betul-betul terjadi. Meski penuh infinite
sadness, lagu-lagu tersebut seperti merelaksasi tubuh dan pikiran setelah
hari-hari sebelumnya diperbudak oleh kerja-kerja-kerja.
Seiring track demi
track dilahap, keinginan untuk
menonton mereka secara langsung makin menguat. Tak ada angin pun hujan, saya
tiba-tiba membuka akun Instagram We the
Fest. Ini terjadi pada minggu akhir Februari 2019. Di salah satu
unggahannya, mereka sedang memberikan petunjuk tentang tiga belas artis
internasional yang bakal main di festival tahun itu.
![]() |
| Tangkapan layar unggahan akun Instagram @we.the.fest |
Awalnya saya cuma, “Oh…” Begitu membuka kolom komentar,
banyak yang bilang Alvvays-Alvvays-Alvvays. Sebenarnya saya maido di awal. Eh, lha kok sialnya, saya ikut tersugesti. Apalagi wajah seorang
bermasker di pojok kiri atas itu mirip Molly Rankin, vokalis-gitaris Alvvays. Alhasil
saya terjerembab dalam kebimbangan.
Line-up fase pertama itu bakal dikuak
keesokan harinya (22 Februari). Menunggu pengumuman, jam berdetak begitu
panjang. Setiap detiknya beradu dengan irama jantung yang berpacu. Kegelisahan
menggelayuti, pikiran tak tentu. Akankah bersambut harapan itu?
Jawabannya iya. Bersama Cigarettes After Sex, Yaeji, Rae
Sremund, dan sembilan nama lainnya, Alvvays masuk dalam daftar penampil tahap
pertama yang diumumkan. Oh, puja kerang ajaib!
Tanpa berpikir ini-itu, saya memutuskan fix budhal. Sekarang atau tidak sama sekali. Nawaitu niat ingsun nonton
Alvvays.
Molly, the Cotton
Candy Lady
Sejujurnya, We the
Fest (WTF) bukanlah tipe festival
yang “gue banget”. Amat gegap-gempita dengan segala hypebeast-nya, pergi ke WTF ibarat
meluncur ke medan laga. Terdengar sinis dan konservatif sekali, ya? Hahaha.
Benar saja, sesampai di lokasi konser, JIExpo Kemayoran, saya terasing. Saya terlalu
Metallica di antara rerimbunan Coachella.
Apalagi waktu itu tiada teman menemani. Akan tetapi, demi merayakan perjumpaan
dengan Alvvays, hanya ada dua kata: bodo
amat.
Band pujaan saya itu
dijadwalkan naik pentas pukul 20.45 di This Stage Is Bananas. Sembari menunggu
jam bersua, saya menikmati bintang tamu hari pertama lainnya (19 Juli 2019): Glaskaca, Dewa 19 feat Ari
Lasso dan Dul Jaelani, Dean, serta The Adams. Nama terakhir yang disebut tampil
di panggung yang sama sebelum Alvvays.
Selepas The Adams merampungkan aksinya, massa makin menyemut
di This Stage Is Bananas. “Wih, banyak sekali jamaah Alvvaysiyah,” ujar saya
dalam hati. Saya nyempil ke
depan-tengah, mencari posisi yang bisa segaris lurus dengan panggung. Saya
berhenti di atas instalasi kabel yang mengarah ke FOH, sehingga sedikit lebih
tinggi dari penonton lainnya. Kelak, tempat nan pewe ini bakalan mendatangkan rasa ge-er terhadap Molly. Nanti saya ceritakan.
Susah buat tidak deg-degan menunggu momen itu, terlebih pada
saat check line, empat anggota Alvvays: Alec O’Hanley (gitar),
Kerri MacLellan (kibor, synth), Brian
Murphy (bas), dan Sheridan Riley (drum) tampak di panggung untuk menyiapkan
alat-alatnya secara mandiri, soalnya mereka tidak membawa kru.
Kemunculan mereka membuat penonton bertambah riuh. Banyak
yang memanggil-manggil Molly, bertepuk tangan, atau berceloteh biar menarik
perhatian personel. Saya tidak ikut-ikutan dan hanya diam. Mematung lebih
tepatnya sambil melayangkan pikiran, “Saya tidak sedang menonton YouTube. Ini bukan mimpi!”
Jatah pemasangan dan pengecekan alat selesai. Personel
keluar, lampu panggung dimatikan. Sesaat kemudian, “Indonesia Raya”
berkumandang. Lalu, waktu yang dinantikan para Sahabat Alvvays tiba. Personel
masuk lagi, dan kini mereka mengajak Molly. Ia unjuk diri paling akhir. Perempuan
kelahiran 27 Juli 1987 itu mendapat sambutan paling meriah.
Tatkala Molly menampakkan batang hidungnya, saya cuma bisa
bungah dan senyam-senyum sambil mbatin, “Oh,
ini to Molly.” Sebagai frontwoman, Molly memang cocok
didambakan. Ia juga pas menjadi ikon Alvvays. Salah satu yang menjadi daya
tariknya adalah rambut pirang keabu-abuannya. Saya pernah membaca sebuah
komentar netizen di YouTube
yang bilang rambut Molly mirip permen kapas. Saya mengamini. Sejak memperhatikannya,
saya berpikiran sama seperti si netizen.
Malam itu, wanita berambut permen kapas tersebut hadir di
depan mata. Yang bikin kebahagiaan berlapis-lapis, warna baju kami sama-sama
kuning. Ah, semesta benar-benar mendukung.
![]() |
| Foto: dokumentasi pribadi |
Alvvays membuka pertunjukan perdananya di Indonesia dengan
“Hey”. Lagu dari album Antisocialites ini
tepat dijadikan sebagai pembuka konser karena iramanya yang rancak. Di bagian intro, seluruh alat musik dimainkan,
sehingga bisa sekalian mengecek kualitas sound.
Setibanya di part vokal,
Alvvayslicious serentak berteriak, “Hey…”
Amboi, saya merinding!
Arena WTF kembali
dipanaskan dengan tembang menghentak, “Adult Diversion”. “Terima kasih telah sing along bersama kami,” kata Molly.
Sebenarnya sempat ada perasaan was-was terkait durasi.
Bermain di festival, waktu sangat terbatas. Apalagi mereka bukan headliner. Saya takut jangan-jangan
Alvvays hanya bisa memainkan sembilan hingga sepuluh lagu saja. Maklum, mereka
cuma memperoleh jatah beraksi kurang lebih satu jam.
Saya sudah bersiap jika itu terjadi. Eh, ternyata Alvvays
cukup cerdik mengakalinya. Caranya mereka langsung tancap gas tanpa ba-bi-bu, bermain dengan ketat, dan
meminimalkan berbincang bareng penonton. Tanpa saya nyana, band yang dibentuk tahun 2011 ini berhasil menyajikan enam belas
lagu! Itu termasuk dengan cover version “Divine
Hammer” dari The Breeders. “Kami akan memainkan lagu dari The Breeders. Kalian
tahu The Breeders? Tahu dari mana? Oh, iya, YouTube,”
canda Molly.
Di empat nomor terakhir – yang menjadi hits mereka: “Archie, Marry Me”, “Dreams Tonite”, “Party Police”,
dan “Next of Kin”, penonton bertambah panas. Crowd surfing mulai terlihat, jingkrak-jingkrak dan angguk-angguk
kepala semakin intens, serta karaoke massal kian bergemuruh. Hari itu, kami
merayakan kesenduan bersama-sama. Memang benar kata orang-orang, “Perkara ati paling penak dijogeti.”
“Next of Kin” menjadi lagu pamungkas. Seusai melambaikan
tangan, Molly dan teman-temannya meninggalkan panggung dengan iringan teriakan we want more. Saya termasuk yang masih
berdiam di depan panggung, berharap mereka muncul lagi dan membawakan lagu encore “Saved by a Waif”, seperti yang kerap
mereka lakukan. Namun, mereka tak kembali.
Ah, ya sudahlah, tak jadi soal. Toh, kadar suka cita saya
sudah membeludak karena bisa menyaksikan idola. Hari itu adalah salah satu yang
terbaik dalam hidup.
Tahukah kenapa kebahagiaan saya sampai tumpah-tumpah? Dari setlist yang dihidangkan, yang paling terkenang
hingga sekarang adalah ketika “Lollipop (Ode to Jim)” dibawakan. Di lagu kelima
ini, saya ge-er banget sama Molly.
Alkisah sewaktu menyanyikan lirik, “You’re
alone in this picture…,” sambil tersenyum, Molly menunjuk ke arah tengah
penonoton. Karena posisi saya lebih tinggi dari penonton lainnya – ditambah
bibir saya terus komat-kamit di tiap lagu, telunjuk itu rasa-rasanya tertuju
tepat ke saya. Saya beranggapan itu adalah
reward yang Molly berikan karena saya
hafal lagunya. Alhasil saya sumringah. Senyuman Molly saya balas dengan
senyuman termanis yang saya miliki.
Tolong, bagi siapa pun, jangan patahkan kegembiraan ini. Saya
juga meminta usah mengocehi bahwa saya sedang halu. Dan mohon pantang bisikkan kalau saya tengah berandai-andai
karena itu adalah pelita bagi jiwa saya yang ditumbuhi lara.
Mampus, kau, dikoyak-koyak bucin!




No comments:
Post a Comment