May 30, 2020

Selamat Ulang Tahun, Sebuah Ode Menuju Dewasa



Tirai panggung tersingkap. Di bawah lampu sorot, seorang gadis bergaun putih berjalan tanpa gontai. Di latar pentas, terpampang kolase fotonya sedari kecil hingga remaja. Dia berhenti di satu titik, lantas berucap, “Berbaring, tersentak, tertawa. Tertawa dengan air mata. Mengingat bodohnya dunia. Dan kita yang masih saja berusaha.

Mata perempuan itu menatap tajam ke depan. Romannya penuh keyakinan. Selintas senyum mendarat di bibirnya. Seiring cahaya memudar, ia berkata dalam hati, “Aku siap.”

Kelir mulai tertutup. Tepukan tangan penonton riuh membahana. Berkali-kali namanya dielu-elukan. Hari itu, Nadin Amizah berhasil menyihir lewat pementasannya yang berjudul “Beranjak Dewasa”.

Andaikan “Beranjak Dewasa” diangkat ke panggung pertunjukan, seperti itulah gambaran di benak saya. Sebuah ode manis nan teatrikal bagi mereka yang selangkah lagi mentas dari masa remaja.

Lagu tersebut merupakan secuil kebahagiaan dari kelahiran sang perdana, Selamat Ulang Tahun. Album ini dirilis pada 28 Mei 2020 bertepatan saat Nadin menggenapi dua dekadenya. Kata Nadin, di takarir Instagram-nya, karyanya ini adalah rangkaian padat dari fase remajanya. “Satu untuk yang terakhir dari masa remajaku,” tulisnya.

Kemunculan Selamat Ulang Tahun di masa-masa penuh keprihatinan ini tak ubahnya pendar suar di lorong panjang kegelapan. Ia turut pula menjelma teh hangat yang disesap kala butir hujan turun dengan rapat. Ia membawa kabar gembira bagi pendengarnya yang telah menunggu lama. Pun ia meninggikan harapan di derasnya kecamuk badai kehidupan. Tak perlu bedil tak perlu senjata, melainkan hanya butuh, “Tapi kita punya kita yang akan melawan dunia.

Paragraf di atas bukan suatu yang mengada-ada. Memang benar Selamat Ulang Tahun dikemas sederhana, tetapi dia tak apa adanya. Justru keminimalisan itulah yang membentuk sisi magis. Materi-materinya tidak ada yang mubazir. Mereka saling mengisi dan menguatkan serta masing-masing punya keunikan. Ambil contoh “Kereta Ini Melaju Cepat”, denting piano yang ditimpali vokal melambai, sangat serasi menjadi pengiring kala rinai membasahi jendela. Atau “Bertaut”, ini paling favorit. Dengarkanlah bersama orang terkasih; dia yang menguatkan, membasuh luka, dan memberikan nyawa dari bajingannya hidup.

Selainnya, album ini cemerlang berkat penggunaan lirik yang rupawan. Nadin lihai menari-nari di atas pena. Dalam imannya kepada rima, dia mencuplik tawa, membingkai  lara, dan menumbuhkan asa menjadi kalimat-kalimat yang eloknya semirip surga.

Barang siapa dengan khidmat menyimaknya akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan usai album ini diputar hingga detik terakhir, entah mengapa ada perasaan lega dan helaan nafas bahagia. Demi apa pun, Nadin, jampi-jampimu memikat kalbu.

Dalam Selamat Ulang Tahun, Nadin menyampaikan episode-episode hayatnya secara jujur. Ada yang manis, begitu juga getir. Bagi beberapa orang, fragmen menyayat itu akan lebih baik bila dipendam jauh. Namun, Nadin memilih jalan beda. Dia tak berusaha menutup-nutupi dan sepakat berdamai dengan masa lalu dan diri. Lewat “Taruh”, “Cermin”, “Mendarah”, kita tahu bahwa Nadin pernah melewati babak-babak penuh pergulatan. Menjadi jujur adalah hal berat. Sungguh, ini merupakan tapakan berarti dalam tahap mendewasa.

Selebihnya, terima kasih atas Selamat Ulang Tahun, Nadin. Semoga tuturmu menjadi pijakan bagi mereka yang turut bertumbuh. Sentosa selalu di dua dasawarsamu. Masa depan cerah menanti dan semesta memberkati. Teruslah bersinar.

No comments:

Post a Comment