Tirai panggung tersingkap. Di bawah lampu sorot, seorang
gadis bergaun putih berjalan tanpa gontai. Di latar pentas, terpampang kolase
fotonya sedari kecil hingga remaja. Dia berhenti di satu titik, lantas berucap,
“Berbaring, tersentak, tertawa. Tertawa dengan
air mata. Mengingat bodohnya dunia. Dan kita yang masih saja berusaha.”
Mata perempuan itu menatap tajam ke depan. Romannya penuh
keyakinan. Selintas senyum mendarat di bibirnya. Seiring cahaya memudar, ia
berkata dalam hati, “Aku siap.”
Kelir mulai tertutup. Tepukan tangan penonton riuh
membahana. Berkali-kali namanya dielu-elukan. Hari itu, Nadin Amizah berhasil
menyihir lewat pementasannya yang berjudul “Beranjak Dewasa”.
Andaikan “Beranjak Dewasa” diangkat ke panggung pertunjukan,
seperti itulah gambaran di benak saya. Sebuah ode manis nan teatrikal bagi
mereka yang selangkah lagi mentas dari masa remaja.
Lagu tersebut merupakan secuil kebahagiaan dari kelahiran
sang perdana, Selamat Ulang Tahun. Album
ini dirilis pada 28 Mei 2020 bertepatan saat Nadin menggenapi dua dekadenya. Kata
Nadin, di takarir Instagram-nya,
karyanya ini adalah rangkaian padat dari fase remajanya. “Satu untuk yang
terakhir dari masa remajaku,” tulisnya.
Kemunculan Selamat
Ulang Tahun di masa-masa penuh keprihatinan ini tak ubahnya pendar suar di
lorong panjang kegelapan. Ia turut pula menjelma teh hangat yang disesap kala
butir hujan turun dengan rapat. Ia membawa kabar gembira bagi pendengarnya yang
telah menunggu lama. Pun ia meninggikan harapan di derasnya kecamuk badai
kehidupan. Tak perlu bedil tak perlu senjata, melainkan hanya butuh, “Tapi kita punya kita yang akan melawan
dunia.”
Paragraf di atas bukan suatu yang mengada-ada. Memang benar
Selamat Ulang Tahun dikemas sederhana,
tetapi dia tak apa adanya. Justru keminimalisan itulah yang membentuk sisi
magis. Materi-materinya tidak ada yang mubazir. Mereka saling mengisi dan menguatkan
serta masing-masing punya keunikan. Ambil contoh “Kereta Ini Melaju Cepat”,
denting piano yang ditimpali vokal melambai, sangat serasi menjadi pengiring kala
rinai membasahi jendela. Atau “Bertaut”, ini paling favorit. Dengarkanlah bersama
orang terkasih; dia yang menguatkan, membasuh luka, dan memberikan nyawa dari
bajingannya hidup.
Selainnya, album ini cemerlang berkat penggunaan lirik yang
rupawan. Nadin lihai menari-nari di atas pena. Dalam imannya kepada rima,
dia mencuplik tawa, membingkai lara, dan
menumbuhkan asa menjadi kalimat-kalimat yang eloknya semirip surga.
Barang siapa dengan khidmat menyimaknya akan langsung jatuh
cinta pada pandangan pertama. Dan usai album ini diputar hingga detik terakhir,
entah mengapa ada perasaan lega dan helaan nafas bahagia. Demi apa pun, Nadin,
jampi-jampimu memikat kalbu.
Dalam Selamat Ulang
Tahun, Nadin menyampaikan episode-episode hayatnya secara jujur. Ada yang
manis, begitu juga getir. Bagi beberapa orang, fragmen menyayat itu akan lebih
baik bila dipendam jauh. Namun, Nadin memilih jalan beda. Dia tak berusaha
menutup-nutupi dan sepakat berdamai dengan masa lalu dan diri. Lewat “Taruh”, “Cermin”,
“Mendarah”, kita tahu bahwa Nadin pernah melewati babak-babak penuh pergulatan.
Menjadi jujur adalah hal berat. Sungguh, ini merupakan tapakan berarti dalam
tahap mendewasa.
Selebihnya, terima kasih atas Selamat Ulang Tahun, Nadin. Semoga tuturmu menjadi pijakan bagi mereka
yang turut bertumbuh. Sentosa selalu di dua dasawarsamu. Masa depan cerah
menanti dan semesta memberkati. Teruslah bersinar.

No comments:
Post a Comment