Ibaratnya, folk revival adalah sebuah agenda guna membentuk tatanan musik baru
di Tanah Air. Belakangan banyak bermunculan agen-agen folk dalam bentuk duo ataupun grup, mereka menyenandungkan
lagu-lagu manis dengan beragam tema. Tanpa bermaksud mendiskreditkan, beberapa
dari mereka hanya menyajikan folk indah
dalam satu sisi. Biasanya yang termasuk ke dalam golongan ini, setiap karyanya
dijadikan SPH (Sarana Pelancar Hubungan) oleh seorang kaum Adam kepada lawan
jenisnya, berlaku juga kebalikannya. Namun beberapa yang lain, mereka dapat
meramu musik folk dengan arti harfiah
dari folk itu sendiri. Folk yang identik dengan kearifan lokal,
dimasukkan ke dalam musik yang mereka mainkan, sehingga folk tidak hanya berdiri sendiri sebagai genre, tapi juga konsep.
Boleh dibilang saya agak bosan
mendengarkan grup folk yang berasal
dari Pulau Jawa – meskipun mereka masuk ke dalam golongan yang saya tulisakan
di akhir paragraf pertama. Apa yang mereka sajikan sudah sering berkeliaran di
kuping. Beruntunglah saya, kebutuhan terhadap sesuatu yang baru, sedikit
tercukupi berkat bersilaturahmi ke Wastedrockers. Dalam posting-nya, situs yang selalu memberikan informasi tentang musisi “underrated” tersebut mengulas tentang
mini album grup folk asal Makassar
bernama Theory of Discoustic (TOD). Sekilas melihat preview Soundcloud-nya, saya langsung jatuh cinta. Ya, bagi
orang-orang yang menikmati musik bukan hanya dari aransemennya saja, melainkan
juga dari segi tata bahasa dalam departemen lirik, judul seperti “Bias Bukit
Harapan”, “Teras Khayal”, “Sebuah Harapan Musim Penghujan”, “Dialog Ujung
Suar”, adalah alasan kenapa kalimat: judge
the band from its title, masih berlaku. Benar saja, ketika saya memutar
lagu-lagu tadi, saya bisa tersenyum puas, karena mereka gue banget. Saya telah menemukan media “pelampiasan” yang terbaru.
EP bertajuk Dialog Ujung Suar tersebut sebenarnya sudah dirilis sejak November
2013 lalu. Mungkin karena kurangnya blow
up media sehingga mini album mereka baru-baru ini saja dapat dikonsumsi
publik. Tak menjadi soal, mungkin itu
kehendak semesta. Dan tak apa pula, konon katanya lebih baik terlambat daripada
tidak sama sekali, bukan? EP yang bisa diunduh gratis ini menyajikan empat
lagu. Sesuai dengan press release, TOD
menambahkan unsur folklor Sulawesi Selatan supaya tidak terkesan monoton. Setidaknya
ada dua kearifan lokal yang mereka jadikan rujukan dalam mengonsep EP ini,
yaitu sebuah lagu daerah Bugis berjudul “Indo’ Logo” dan cerita rakyat Sulawesi
Selatan untuk meminta hujan saat musim kemarau.
Walaupun mereka berdiri dalam
ranah kedaerahan, tapi entah mengapa unsur itu masih sulit untuk diraba. Bagi pendengar
yang familiar dengan musik khas Sulawesi Selatan, tentunya tidak akan sulit
menemukan identitas tersebut. Namun bagi pendengar awam, Dialog Ujung Suar terasa sama seperti album-album dari
musisi-musisi yang berlabel easy listening. TOD saya rasa kurang
berhasil mengeksplor atau menonjolkan sisi ke-Sulawesi Selatan-nya. Menurut
saya sisi tersebut masih didominasi oleh musik-musik “modern”. Adalah menarik
ketika menggabungkan folk dengan ambient, tapi jika kedua hal tersebut
belum bisa bersinergi, pendengar akan bertanya-tanya, “Mau dibawa ke mana ini?”
Saya selalu suka ketika ada grup
yang menempatkan wanita sebagai vokalisnya, ada aura tersendiri bagi saya. Sama
halnya TOD yang memilih Dian Megawati sebagai vokalis. Saya suka karakter vokal
dan caranya bernyanyi. Ada suasana retro ketika
mendengarnya menyenandungkan lagu. Namun dua hal yang menjadi kelemahannya: dia
kurang bisa menjadi pendongeng yang baik, dia terkesan bernyanyi sendiri tanpa
bisa mengajak pendengar memasuki dunia Dialog
Ujung Suar. Dan proses transformasi isi antara komunikator dengan komunikan
terhambat akibat artikulasi Dian yang lemah dalam beberapa pelafalan.
Akan tetapi kelemahan-kelemahan
tersebut dapat mereka tambal dengan pemilihan materi (baca: lirik) yang mengasyikkan,
sehingga membuka ruang diskusi dengan diri kita sendiri. Satu nomor favorit
saya adalah “Teras Khayal”. Sebuah lagu yang bercerita tentang, “…Dunia tak lagi ada, kita telah berjalan ke
angkasa…” Sebuah kondisi di mana dunia yang dulu kita puja berakhir dalam
sebuah tanda tanya, sehingga memaksa kita untuk beralih ke parallel universe, atau paling tidak kita menciptakan realitas alternatif
sesuai kehendak kita sendiri. Mendengarkan “Teras Khayal”, bagi saya, seperti
menelanjangi pemikiran Albert Camus. Dunia adalah suatu hal yang absurd. Keabsurdan
dunia merupakan pertentangan antara rasional manusia dengan kondisi yang ada. Wajar
jika TOD menuliskan, “…dunia adalah
kenangan…” karena hubungan manusia (dengan segala keinginannya) ketika
dihadapkan dengan dunia yang kadang berkebalikan, menyebabkan suatu
ketidakjelasan. Karena manusia selalu menginginkan suatu yang pasti. Dan ketika
sesuatu tersebut tidak didapatkan, akan menyebabkan pemberontakan atas nama
eksistensi. Pemberontakan yang TOD maksud adalah dengan imajinasi, bukan “pergerakan”.
Ibarat kata Rene Descartes mendengarkan EP ini, sudah pastilah dia mengganti
pemikirannya dengan: Aku berkhayal maka aku ada.
Untuk terakhir kalinya, mari kita
mengkhayalkan Dunia Ujung Suar sebagai
puisi dari Bentara Bumi. “Jika tersesat
adalah hidup, kematian adalah mercusuar.”

No comments:
Post a Comment