Apr 5, 2014

Theory of Discoustic: Tentang Harapan, Khayalan dan Mercusuar




Ibaratnya, folk revival adalah sebuah agenda guna membentuk tatanan musik baru di Tanah Air. Belakangan banyak bermunculan agen-agen folk dalam bentuk duo ataupun grup, mereka menyenandungkan lagu-lagu manis dengan beragam tema. Tanpa bermaksud mendiskreditkan, beberapa dari mereka hanya menyajikan folk indah dalam satu sisi. Biasanya yang termasuk ke dalam golongan ini, setiap karyanya dijadikan SPH (Sarana Pelancar Hubungan) oleh seorang kaum Adam kepada lawan jenisnya, berlaku juga kebalikannya. Namun beberapa yang lain, mereka dapat meramu musik folk dengan arti harfiah dari folk itu sendiri. Folk yang identik dengan kearifan lokal, dimasukkan ke dalam musik yang mereka mainkan, sehingga folk tidak hanya berdiri sendiri sebagai genre,  tapi juga konsep.

Boleh dibilang saya agak bosan mendengarkan grup folk yang berasal dari Pulau Jawa – meskipun mereka masuk ke dalam golongan yang saya tulisakan di akhir paragraf pertama. Apa yang mereka sajikan sudah sering berkeliaran di kuping. Beruntunglah saya, kebutuhan terhadap sesuatu yang baru, sedikit tercukupi berkat bersilaturahmi ke Wastedrockers. Dalam posting-nya, situs yang selalu memberikan informasi tentang musisi “underrated” tersebut mengulas tentang mini album grup folk asal Makassar bernama Theory of Discoustic (TOD). Sekilas melihat preview Soundcloud-nya, saya langsung jatuh cinta. Ya, bagi orang-orang yang menikmati musik bukan hanya dari aransemennya saja, melainkan juga dari segi tata bahasa dalam departemen lirik, judul seperti “Bias Bukit Harapan”, “Teras Khayal”, “Sebuah Harapan Musim Penghujan”, “Dialog Ujung Suar”, adalah alasan kenapa kalimat: judge the band from its title, masih berlaku. Benar saja, ketika saya memutar lagu-lagu tadi, saya bisa tersenyum puas, karena mereka gue banget. Saya telah menemukan media “pelampiasan” yang terbaru.

EP bertajuk Dialog Ujung Suar tersebut sebenarnya sudah dirilis sejak November 2013 lalu. Mungkin karena kurangnya blow up media sehingga mini album mereka baru-baru ini saja dapat dikonsumsi publik.  Tak menjadi soal, mungkin itu kehendak semesta. Dan tak apa pula, konon katanya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan? EP yang bisa diunduh gratis ini menyajikan empat lagu. Sesuai dengan press release, TOD menambahkan unsur folklor Sulawesi Selatan supaya tidak terkesan monoton. Setidaknya ada dua kearifan lokal yang mereka jadikan rujukan dalam mengonsep EP ini, yaitu sebuah lagu daerah Bugis berjudul “Indo’ Logo” dan cerita rakyat Sulawesi Selatan untuk meminta hujan saat musim kemarau. 

Walaupun mereka berdiri dalam ranah kedaerahan, tapi entah mengapa unsur itu masih sulit untuk diraba. Bagi pendengar yang familiar dengan musik khas Sulawesi Selatan, tentunya tidak akan sulit menemukan identitas tersebut. Namun bagi pendengar awam, Dialog Ujung Suar terasa sama seperti album-album dari musisi-musisi  yang berlabel easy listening. TOD saya rasa kurang berhasil mengeksplor atau menonjolkan sisi ke-Sulawesi Selatan-nya. Menurut saya sisi tersebut masih didominasi oleh musik-musik “modern”. Adalah menarik ketika menggabungkan folk dengan ambient, tapi jika kedua hal tersebut belum bisa bersinergi, pendengar akan bertanya-tanya, “Mau dibawa ke mana ini?”

Saya selalu suka ketika ada grup yang menempatkan wanita sebagai vokalisnya, ada aura tersendiri bagi saya. Sama halnya TOD yang memilih Dian Megawati sebagai vokalis. Saya suka karakter vokal dan caranya bernyanyi. Ada suasana retro ketika mendengarnya menyenandungkan lagu. Namun dua hal yang menjadi kelemahannya: dia kurang bisa menjadi pendongeng yang baik, dia terkesan bernyanyi sendiri tanpa bisa mengajak pendengar memasuki dunia Dialog Ujung Suar. Dan proses transformasi isi antara komunikator dengan komunikan terhambat akibat artikulasi Dian yang lemah dalam beberapa pelafalan.

Akan tetapi kelemahan-kelemahan tersebut dapat mereka tambal dengan pemilihan materi (baca: lirik) yang mengasyikkan, sehingga membuka ruang diskusi dengan diri kita sendiri. Satu nomor favorit saya adalah “Teras Khayal”. Sebuah lagu yang bercerita tentang, “…Dunia tak lagi ada, kita telah berjalan ke angkasa…” Sebuah kondisi di mana dunia yang dulu kita puja berakhir dalam sebuah tanda tanya, sehingga memaksa kita untuk beralih ke parallel universe, atau paling tidak kita menciptakan realitas alternatif sesuai kehendak kita sendiri. Mendengarkan “Teras Khayal”, bagi saya, seperti menelanjangi pemikiran Albert Camus. Dunia adalah suatu hal yang absurd. Keabsurdan dunia merupakan pertentangan antara rasional manusia dengan kondisi yang ada. Wajar jika TOD menuliskan, “…dunia adalah kenangan…” karena hubungan manusia (dengan segala keinginannya) ketika dihadapkan dengan dunia yang kadang berkebalikan, menyebabkan suatu ketidakjelasan. Karena manusia selalu menginginkan suatu yang pasti. Dan ketika sesuatu tersebut tidak didapatkan, akan menyebabkan pemberontakan atas nama eksistensi. Pemberontakan yang TOD maksud adalah dengan imajinasi, bukan “pergerakan”. Ibarat kata Rene Descartes mendengarkan EP ini, sudah pastilah dia mengganti pemikirannya dengan: Aku berkhayal maka aku ada.

Untuk terakhir kalinya, mari kita mengkhayalkan Dunia Ujung Suar sebagai puisi dari Bentara Bumi. “Jika tersesat adalah hidup, kematian adalah mercusuar.”

No comments:

Post a Comment