Bigot-bigot bersorban kami tempatkan dalam front terdepan
Sebagai manuver kebangkitan Dajjal
Patung dewi kedamaian telah kami ratakan dengan napalm
Kepalanya kami jadikan nisan lalu kami taburi tepung sebagai bahan lawakan
Invasi kami bukanlah mitos
Kami lebih hebat dari Rambo yang menenteng Kalashnikov
Kami tempatkan ribuan agen, maaf jutaan
Kami jadi jadikan anjing penjaga, sehingga kami mudah mengontrol pikiranmu lewat media massa hingga sosial media
Demi apapun kalian yang melawan kami atas nama resistensi
Dengan mudah kami kalahkan hanya dengan film dari keluarga Punjabi
Sekeras apapun tangan kalian mengepal ke udara
Sekeras apapun Wiji Thukul kalian baca, lalu ikuti pembangkangannya
Sekeras apapun satu mimpi satu barisan yang kalian dengungkan
Bagi kami itu hanyalah drama
Dan jangan salahkan kami jika kami punya cara
Kami bangkitkan Holocaust, '65, dan Tiananmen kembali ke dunia
Kamilah anak haram tiga angka enam yang terlahir dari neraka
Kamilah pencuri sangkakala Isrofil sebelum dia tercipta
Akan kami bakar dunia hanya dengan air kencing yang kami punya
Dan jika kedamaian yang kalian cari
Maka itu ada di tangan kami
Puisi ini saya baca pada acara Secangkir Puisi Sebait Kopi (SPSK) Teater SOPO, Minggu, 11 Mei 2014. Dalam penulisannya sangat terpengaruhi oleh grup hip-hop kombatan asal Bandung bernama Homicide, sehingga "wajar" jika saya banyak mengadopsi cara mereka "berbicara" lewat rima ababil-nya. Teori konspirasi pada umumnya dan Codex karangan Rizki Ridyasmara pada khususnya, pun secara sahih menjadi bahan rujukan terciptanya tulisan ini. Karena bagi saya, walaupun, teori konspirasi belum dapat diuji kebenarannya, tapi hendaknya jangan memalingkan wajah darinya. Siapa tahu, fakta-fakta yang kamu tahu bukanlah fakta yang sebenarnya.
No comments:
Post a Comment