Nov 18, 2013

Belajar dari yang Kecil


Ada pelajaran yang bisa diambil di setiap waktu, tak peduli dari siapa atau apa, dan juga tak peduli di mana tempatnya. Walaupun pelajaran itu kamu dapatkan dari anak-anak yang terpaut jauh dari segi usia dan jarak denganmu, ambilah! 

Pelajaran itu saya dapatkan Sabtu kemarin ketika saya berbagi pengalaman – saya lebih senang menggunakan “berbagi pengalaman” daripada “memberikan materi” – yang pernah saya dapatkan di teater  dengan teman-teman Teater Soklay SMA N Karangpandan, Karanganyar. Awalnya ada banyak pikiran negatif tentang anak-anak SMA yang bergelayutan di kepala ketika pertama kali saya dimintai tolong oleh salah seorang kakak tingkat saya di teater untuk menjadi pemateri Latsar (Latihan Dasar) di Teater Soklay. Bahwa anak SMA itu susah diatur, mudah jenuh, tidak respect, dan lain-lain. Tapi ketika berhadapan langsung dengan mereka, semua yang saya pikirkan tadi terbantahkan.

Kurang lebih 15 anak mengikuti Latsar yang berlangsung pada Sabtu-Minggu, 16-17 November 2013  bertempat di area sekolah mereka. Hari Sabtu itu saya berbagi pengalaman tentang konsentrasi. Ada ketakutan sebenarnya yang berkaitan dengan muatan yang akan diberikan. Saya takut kalau apa yang saya sampaikan terlalu berat bagi cara pandang anak SMA, mengingat apa yang akan saya sampaikan adalah cuplikan-cuplikan pengalaman yang pernah saya dapatkan di teater kampus saya. Tapi setelah berkonsultasi dengan kakak tingkat saya, itu tidak menjadi suatu yang perlu ditakutkan. Hanya saja dalam pengaturan durasi memang dipersingkat supaya mereka tidak terlalu jenuh.

Awal perkenalan dengan mereka cukup menyenangkan, yah walaupun saya dipanggil “pak” untuk kesekian kalinya, but it doesn’t matter. Mereka adalah anak-anak yang ceria, terbukti di setiap saat mereka bernyanyi, menari, ngobrol asyik antar sesama mereka, seperti tidak ada tekanan atau sesuatu yang dipaksakan, intinya mereka menikmati acara tersebut. Ketika masuk sesi latihan pun mereka cukup antusias dengan apa yang saya sampaikan. Ada dua sesi yang saya sampaikan yaitu yang pertama sesi perkenalan dengan media air mineral gelasan, mereka harus bisa menghafal dan fokus kepada huruf pertama nama teman-teman mereka. Sesi kedua adalah sesi yang agak serius yaitu berfokus pada satu titik. Saya menggunakan jari telunjuk masing-masing sebagai fokus awal dan kemudian berpindah ke jari telunjuk teman terdekat-terjauh dari posisi duduk mereka. Lalu sesi selanjutnya adalah sesi evaluasi. Di sesi ini banyak pertanyaan-pertanyaan unik yang terlontar seperti, “Mas, ngapa kok sing dinggo fokus jari telunjuk sing kiwa dudu tengen?” ada juga yang bertanya, “Mas, ngapa kok bar pindah fokus ning tangane kancane, kok mataku dadi bruwet ya?” Lalu ada pula yang berkeluh kesah tentang ketidakfokusan ketika mendapat pelajaran dari guru dan bagaimana metode menghafal yang baik. Menarik! Itu kata yang pantas saya ucapkan.

Yap, memang menarik. Dari situlah pelajaran saya dapatkan. Jika direfleksikan dalam kehidupan pribadi dan lingkungan saya yang menginjak masa-masa dewasa, kadang rasa bahagia jarang sekali dapat ditemui. Penuh tekanan, istilah singkatnya. Sehingga ketika kita melaksanakan sesuatu, bukan rasa senang yang pertama kali muncul, tapi hanya perasaan agar cepat menyelesaikan sesuatu tersebut. Bukan hanya saya saja, tapi teman-teman saya pun juga demikian, jika saya melihat sekilas. Belum lagi ditambah dengan unsur “formalitas”. “Oke saya melaksanakannya, tapi semoga ini cepat berakhir.” Mungkin seperti itulah gambaran yang saya dapati akhir-akhir ini.

Saya masih aktif di teater kampus saya. Dan saya kadang juga berbagi pengalaman dengan mereka. Tapi ada satu rasa berbeda antara berbagi pengalaman dengan teman-teman yang sudah duduk di bangku perkuliahan dengan teman-teman yang baru duduk di bangku SMA. Yang jelas ketika saya selesai berbagi pengalaman dengan teman-teman Soklay, ada rasa bahagia dalam diri saya dan juga mereka, dan ada sesuatu yang bisa diceritakan kembali. Berbeda dengan teman-teman kampus, ketika saya selesai berbagi pengalaman dengan mereka, selesai adalah selesai. “Oke, terimakasih sudah berpartisipasi. Semoga bermanfaat, dan mari kita pulang.” Kira-kira seperti itu gambarannya. Kalaupun ada sesuatu yang diceritakan kembali, mungkin ceritanya akan berbentuk seperti, “Cah-cah i piye ya, kok malah do ngono?”

Mungkin ketika dianalisa, yang membedakan teman-teman teater kampus dengan teman-teman teater SMA terkait dengan passion dalam mengikuti latihan adalah kompleksitas hidup. Kehidupan mahasiswa lebih “berantakan” daripada anak-anak SMA. Mulai dari tugas yang segudang, konflik dengan batin, permasalahan romansa, konflik dengan teman, masalah di keluarga, seperti menjadi santapan sehari-hari. Menyebabkan kami (para mahasiswa) tidak mempunyai ruang gerak bebas untuk sekedar mengatur nafas. Belum lagi forsir dari organisasi yang kadang malah “mengena” daripada masalah-masalah yang saya sebutkan di atas. Sehingga masalah-masalah tersebut secara tak sadar dibawa ke arena latihan. Seiring umur yang bertambah, semakin bertambah pulalah kompleksitas hidup. Itulah hukum alam, tak bisa dihindari. Jadi ketika seorang mahasiswa mood-nya berubah-ubah, itu adalah sebuah pemakluman. Begitulah kiranya.

Saya juga mendapat pelajaran bahwa kita harus respect kepada orang yang membagikan pengalamannya. Entah itu orang yang belum kamu kenal, baru saja kamu kenal atau sudah kamu kenal, ketika ia membagikan pengalamannya, simaklah! Toh itu menjadi sesuatu yang dapat kamu pelajari dan dapat kamu terapkan jika itu baik menurutmu. Bagaimana peraasanmu ketika ada orang yang baru beberapa jam kamu kenal mengucapkan, “Terimakasih, mas, telah berbagi ilmu dengan kami.” ? Itulah yang saya dapatkan ketika sesi latihan saya bersama teman-teman Soklay berakhir. Jujur, ada perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana kita diajari menghargai orang lain, memanusiakan manusia. Sesuatu yang, lagi-lagi, jarang saya temui di lingkungan saya. Bukan, bukannya saya menuntut untuk diperlakukan seperti itu, tapi belajarlah cara supaya orang yang membagi pengalamannya bisa merasa senang karena pengalamannya didengar, apalagi diikuti. Nek kowe pengin diajeni, ajaro cara ngajeni wong liya sik, begitu kata pepatah Jawa.

Sebenarnya masih banyak pelajaran yang bisa dipetik dari berbagi pengalaman dengan teman-teman Soklay Sabtu kemarin. Lain kali saja saya tulis lagi, mood saya sedang berubah-ubah soalnya. Selamat berbagi pengalaman dan selamat mendengarkan, ya!

No comments:

Post a Comment