Ada pelajaran yang bisa diambil
di setiap waktu, tak peduli dari siapa atau apa, dan juga tak peduli di mana
tempatnya. Walaupun pelajaran itu kamu dapatkan dari anak-anak yang terpaut
jauh dari segi usia dan jarak denganmu, ambilah!
Pelajaran itu saya dapatkan Sabtu
kemarin ketika saya berbagi pengalaman – saya lebih senang menggunakan “berbagi
pengalaman” daripada “memberikan materi” – yang pernah saya dapatkan di
teater dengan teman-teman Teater Soklay
SMA N Karangpandan, Karanganyar. Awalnya ada banyak pikiran negatif tentang
anak-anak SMA yang bergelayutan di kepala ketika pertama kali saya dimintai
tolong oleh salah seorang kakak tingkat saya di teater untuk menjadi pemateri
Latsar (Latihan Dasar) di Teater Soklay. Bahwa anak SMA itu susah diatur, mudah
jenuh, tidak respect, dan lain-lain.
Tapi ketika berhadapan langsung dengan mereka, semua yang saya pikirkan tadi
terbantahkan.
Kurang lebih 15 anak mengikuti
Latsar yang berlangsung pada Sabtu-Minggu, 16-17 November 2013 bertempat di area sekolah mereka. Hari Sabtu
itu saya berbagi pengalaman tentang konsentrasi. Ada ketakutan sebenarnya yang
berkaitan dengan muatan yang akan diberikan. Saya takut kalau apa yang saya
sampaikan terlalu berat bagi cara pandang anak SMA, mengingat apa yang akan
saya sampaikan adalah cuplikan-cuplikan pengalaman yang pernah saya dapatkan di
teater kampus saya. Tapi setelah berkonsultasi dengan kakak tingkat saya, itu
tidak menjadi suatu yang perlu ditakutkan. Hanya saja dalam pengaturan durasi
memang dipersingkat supaya mereka tidak terlalu jenuh.
Awal perkenalan dengan mereka
cukup menyenangkan, yah walaupun saya dipanggil “pak” untuk kesekian kalinya, but it doesn’t matter. Mereka adalah
anak-anak yang ceria, terbukti di setiap saat mereka bernyanyi, menari, ngobrol
asyik antar sesama mereka, seperti tidak ada tekanan atau sesuatu yang
dipaksakan, intinya mereka menikmati acara tersebut. Ketika masuk sesi latihan
pun mereka cukup antusias dengan apa yang saya sampaikan. Ada dua sesi yang saya
sampaikan yaitu yang pertama sesi perkenalan dengan media air mineral gelasan,
mereka harus bisa menghafal dan fokus kepada huruf pertama nama teman-teman
mereka. Sesi kedua adalah sesi yang agak serius yaitu berfokus pada satu titik.
Saya menggunakan jari telunjuk masing-masing sebagai fokus awal dan kemudian
berpindah ke jari telunjuk teman terdekat-terjauh dari posisi duduk mereka. Lalu
sesi selanjutnya adalah sesi evaluasi. Di sesi ini banyak pertanyaan-pertanyaan
unik yang terlontar seperti, “Mas, ngapa
kok sing dinggo fokus jari telunjuk sing kiwa dudu tengen?” ada juga yang
bertanya, “Mas, ngapa kok bar pindah
fokus ning tangane kancane, kok mataku dadi bruwet ya?” Lalu ada pula yang
berkeluh kesah tentang ketidakfokusan ketika mendapat pelajaran dari guru dan
bagaimana metode menghafal yang baik. Menarik! Itu kata yang pantas saya
ucapkan.
Yap, memang menarik. Dari situlah
pelajaran saya dapatkan. Jika direfleksikan dalam kehidupan pribadi dan
lingkungan saya yang menginjak masa-masa dewasa, kadang rasa bahagia jarang sekali
dapat ditemui. Penuh tekanan, istilah singkatnya. Sehingga ketika kita
melaksanakan sesuatu, bukan rasa senang yang pertama kali muncul, tapi hanya
perasaan agar cepat menyelesaikan sesuatu tersebut. Bukan hanya saya saja, tapi
teman-teman saya pun juga demikian, jika saya melihat sekilas. Belum lagi
ditambah dengan unsur “formalitas”. “Oke saya melaksanakannya, tapi semoga ini
cepat berakhir.” Mungkin seperti itulah gambaran yang saya dapati akhir-akhir
ini.
Saya masih aktif di teater kampus
saya. Dan saya kadang juga berbagi pengalaman dengan mereka. Tapi ada satu rasa
berbeda antara berbagi pengalaman dengan teman-teman yang sudah duduk di bangku
perkuliahan dengan teman-teman yang baru duduk di bangku SMA. Yang jelas ketika
saya selesai berbagi pengalaman dengan teman-teman Soklay, ada rasa bahagia dalam
diri saya dan juga mereka, dan ada sesuatu yang bisa diceritakan kembali. Berbeda
dengan teman-teman kampus, ketika saya selesai berbagi pengalaman dengan
mereka, selesai adalah selesai. “Oke, terimakasih sudah berpartisipasi. Semoga bermanfaat,
dan mari kita pulang.” Kira-kira seperti itu gambarannya. Kalaupun ada sesuatu
yang diceritakan kembali, mungkin ceritanya akan berbentuk seperti, “Cah-cah i piye ya, kok malah do ngono?”
Mungkin ketika dianalisa, yang
membedakan teman-teman teater kampus dengan teman-teman teater SMA terkait
dengan passion dalam mengikuti
latihan adalah kompleksitas hidup. Kehidupan mahasiswa lebih “berantakan”
daripada anak-anak SMA. Mulai dari tugas yang segudang, konflik dengan batin, permasalahan
romansa, konflik dengan teman, masalah di keluarga, seperti menjadi santapan
sehari-hari. Menyebabkan kami (para mahasiswa) tidak mempunyai ruang gerak
bebas untuk sekedar mengatur nafas. Belum lagi forsir dari organisasi yang
kadang malah “mengena” daripada masalah-masalah yang saya sebutkan di atas. Sehingga
masalah-masalah tersebut secara tak sadar dibawa ke arena latihan. Seiring umur
yang bertambah, semakin bertambah pulalah kompleksitas hidup. Itulah hukum
alam, tak bisa dihindari. Jadi ketika seorang mahasiswa mood-nya berubah-ubah, itu adalah sebuah pemakluman. Begitulah kiranya.
Saya juga mendapat pelajaran
bahwa kita harus respect kepada orang
yang membagikan pengalamannya. Entah itu orang yang belum kamu kenal, baru saja
kamu kenal atau sudah kamu kenal, ketika ia membagikan pengalamannya, simaklah!
Toh itu menjadi sesuatu yang dapat kamu pelajari dan dapat kamu terapkan jika
itu baik menurutmu. Bagaimana peraasanmu ketika ada orang yang baru beberapa
jam kamu kenal mengucapkan, “Terimakasih, mas, telah berbagi ilmu dengan kami.”
? Itulah yang saya dapatkan ketika sesi latihan saya bersama teman-teman Soklay
berakhir. Jujur, ada perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana
kita diajari menghargai orang lain, memanusiakan manusia. Sesuatu yang,
lagi-lagi, jarang saya temui di lingkungan saya. Bukan, bukannya saya menuntut untuk
diperlakukan seperti itu, tapi belajarlah cara supaya orang yang membagi
pengalamannya bisa merasa senang karena pengalamannya didengar, apalagi diikuti.
Nek kowe pengin diajeni, ajaro cara ngajeni
wong liya sik, begitu kata pepatah Jawa.
Sebenarnya masih banyak pelajaran
yang bisa dipetik dari berbagi pengalaman dengan teman-teman Soklay Sabtu
kemarin. Lain kali saja saya tulis lagi, mood
saya sedang berubah-ubah soalnya. Selamat berbagi pengalaman dan selamat
mendengarkan, ya!
No comments:
Post a Comment