Jul 5, 2013

Yang (Tak) Terlewatkan

Karl Marx benar. Ternyata alienasi itu ada. Alienasi tidak hanya terjadi pada buruh tapi juga pada seorang penikmat musik yang selektif. Dan seorang itu adalah saya. Selasa kemarin tujuan saya hanya satu sebenarnya: menonton Sheila On 7 live. Tapi sebelum Sheila On 7 naik ke panggung, ada dua band prmbuka. Dua band inilah yang membuat saya teralienasi dan berujung dengan keluarnya kalimat “aku kudu piye?”. Bayangkan saja bagaimana “tersiksa”nya saya, seorang yang mengaku non mainstream, dan tiba-tiba “dipaksa” melihat dua band bertemakan cinta mainstream nan komersil – atau maaf kalau saya bilang murahan – tampil membawakan lagu-lagu yang tidak dikemas secara indah. Jika bukan karena band idola saya waktu remaja, saya tidak akan pernah singgah ke Alun-Alun Utara Surakarta malam itu. Sheila On 7 memang band mainstream dengan lagu-lagu yang juga kebanyakan bercerita tentang cinta, tapi secara pengemasan mereka tetap juara dibandingkan dua band pembuka mereka. Tapi sudahlah, lupakan saja. Selera orang itu berbeda-beda.

Kalau saja saya tidak mendengar mereka check sound, saya tidak akan pernah tahu kalau ternyata Sheila On 7 manggung di dekat rumah. Malam harinya teman-teman saya berdatangan untuk menitipkan motor di rumah saya. Yap, mereka lebih suka menitipkan motor di rumah saya daripada harus parkir di sekitaran venue dengan biaya parkir yang kadang bisa mencapai 2x dari tarif normal. Acaranya sih gratis, tapi biaya parkirnya itu lho yang tidak gratis. Duh dek…

Acara malam itu disponsori oleh salah satu pabrikan ponsel pintar yang sedang merajai pasar sekarang ini. Dari background panggung bisa kita tahu bahwa mereka sedang me­-launching produk terbaru mereka. Dan saya berterimakasih kepada pabrikan ponsel pintar tersebut yang mau menggratiskan acaranya, sehingga saya dan teman-teman bisa bernostalgia dengan masa remaja kami bersama Sheila On 7. Momen nostalgia tersebut benar-benar dimulai ketika Sheila On 7 membuka perform mereka dengan “Bila Kau Tak Di Sampingku”, disusul kemudian dengan – kalau tidak salah – “Seberapa Pantas”. Karena ini bukan konser tunggal, maka set list lagu yang mereka bawakan pun beragam. Tidak semua lagu hits mereka bawakan. Mereka tidak hanya membawakan lagu-lagu dari album-album yang tergolong keluaran baru saja, tapi lagu-lagu dari album-album lama pun juga mereka tampilkan. Pilihan yang cukup cerdas untuk bisa menjembatani antara pendengar lama dan baru. Karena di acara gratisan semua segmen pendengar (pendengar lama, pendengar baru, dan orang-orang yang hanya sekedar menonton untuk mendapatkan hiburan) tumplek menjadi satu. 

“Namanya juga acara gratisan”, celetuk seorang teman mengomentari sound pada malam itu. Bisa saya bilang sound pada malam itu tidak maksimal. Tapi kami harus bersyukur karena output yang dikeluarkan Sheila On 7 lebih bagus daripada dua band pembuka. Jam terbang dan pendaulatan mereka sebagai headliner mungkin adalah penyebabnya. Lagu-lagu yang diaransemen ditambah lagi stage act yang mencitrakan bahwa Sheila On 7 adalah band kocak dan band yang tampil lepas ketika di panggung, bisa menutupi kekurangan dari segi sound. Kurang lebih 13 lagu mereka bawakan malam itu. Mereka juga membawakan sebuah lagu baru. Liriknya cukup menyayat, kira-kira bait pertamanya seperti ini, “Melupakan tak akan mudah. Walau kau yakin telah merelakan. Lihat nanti, lihat sendiri. Saat waktu yang ditentukan datang. Saat bertemu lagi yang telah hilang”. Ketika mendengar lagu itu, seakan-akan pedagang asongan di sekililing saya tidak menjajakan “Aqua, mas, Aqua”  tapi “Silet, mas, silet”.

Saya dan Sheila On 7

Jujur saja, Selasa malam kemarin adalah pertama kalinya saya menonton Sheila On 7 live. Padahal saya sudah mengenal mereka sejak  SD, hehehe. Saya masih menyimpan dua album awal mereka Sheila On 7 (1999) dan Kisah Klasik Untuk Masa Depan (2000), lalu setelah itu saya melewatkan mereka. Bisa dikatakan saya termakan oleh idealisme saya sendiri ketika itu. Idealisme saya adalah: tidak akan pernah mendengarkan lagu cinta Indonesia. Atau dalam bahasa akademiknya adalah: segmented. Saya hanya mau mendengar dua segmen musik: band-band luar negeri dan band-band indie.

Kini saya menyadari bahwa idealisme saya tersebut salah. Dan kini saya mencoba lebih terbuka – walaupun masih selektif – terhadap lagu-lagu cinta dalam pasaran mainstream Indonesia. Adalah suatu kesalahan ketika saya melewatkan album-album Sheila On 7 pasca Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Sudah banyak waktu berlalu saya melewatkan sebuah band berkualitas asal Indonesia. Jika membicarakan industri, walaupun Sheila On 7 berada di mayor label tapi kualitas mereka masih terjaga. Itulah yang membuat saya meratapi kebodohan saya sendiri, ke manakah saya selama ini? 

Motivasi saya menonton mereka Selasa malam lalu awalnya adalah hanya untuk bernostalgia dengan masa-masa remaja saya. Alangkah beruntungnya saya, karena dari acara tersebut pada akhirnya saya bertekad untuk mendengarkan Sheila On 7 kembali. Ya, sama seperti masa-masa remaja dulu di mana istilah segmented belum berlaku di kehidupan saya.

2 comments:

  1. wahahaha, asline kui curhatanmu yang terklamuflase oleh konser Sheila on 7..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yo ora, nde. Wah mosok sing tak tulis saiki hubungane karo tersirat?
      Ckckckck

      Delete