Karl Marx benar. Ternyata alienasi itu ada. Alienasi tidak
hanya terjadi pada buruh tapi juga pada seorang penikmat musik yang selektif. Dan seorang itu adalah saya. Selasa
kemarin tujuan saya hanya satu sebenarnya: menonton Sheila On 7 live. Tapi sebelum Sheila On 7 naik ke
panggung, ada dua band prmbuka. Dua band inilah yang membuat saya teralienasi
dan berujung dengan keluarnya kalimat “aku
kudu piye?”. Bayangkan saja bagaimana “tersiksa”nya saya, seorang yang
mengaku non mainstream, dan tiba-tiba
“dipaksa” melihat dua band bertemakan cinta mainstream
nan komersil – atau maaf kalau saya bilang murahan – tampil membawakan
lagu-lagu yang tidak dikemas secara indah. Jika bukan karena band idola saya
waktu remaja, saya tidak akan pernah singgah ke Alun-Alun Utara Surakarta malam
itu. Sheila On 7 memang band mainstream dengan
lagu-lagu yang juga kebanyakan bercerita tentang cinta, tapi secara pengemasan
mereka tetap juara dibandingkan dua band pembuka mereka. Tapi sudahlah, lupakan
saja. Selera orang itu berbeda-beda.
Kalau saja saya tidak mendengar mereka check sound, saya tidak akan pernah tahu kalau ternyata Sheila On 7
manggung di dekat rumah. Malam
harinya teman-teman saya berdatangan untuk menitipkan motor di rumah saya. Yap,
mereka lebih suka menitipkan motor di rumah saya daripada harus parkir di
sekitaran venue dengan biaya parkir
yang kadang bisa mencapai 2x dari tarif normal. Acaranya sih gratis, tapi biaya
parkirnya itu lho yang tidak gratis. Duh
dek…
Acara malam itu disponsori oleh salah satu pabrikan ponsel
pintar yang sedang merajai pasar sekarang ini. Dari background panggung bisa kita tahu bahwa mereka sedang me-launching produk terbaru mereka. Dan
saya berterimakasih kepada pabrikan ponsel pintar tersebut yang mau menggratiskan
acaranya, sehingga saya dan teman-teman bisa bernostalgia dengan masa remaja
kami bersama Sheila On 7. Momen nostalgia tersebut benar-benar dimulai ketika
Sheila On 7 membuka perform mereka
dengan “Bila Kau Tak Di Sampingku”, disusul kemudian dengan – kalau tidak salah
– “Seberapa Pantas”. Karena ini bukan konser tunggal, maka set list lagu yang mereka bawakan pun beragam. Tidak semua lagu hits mereka bawakan. Mereka tidak hanya membawakan
lagu-lagu dari album-album yang tergolong keluaran baru saja, tapi lagu-lagu
dari album-album lama pun juga mereka tampilkan. Pilihan yang cukup cerdas
untuk bisa menjembatani antara pendengar lama dan baru. Karena di acara
gratisan semua segmen pendengar (pendengar lama, pendengar baru, dan
orang-orang yang hanya sekedar menonton untuk mendapatkan hiburan) tumplek menjadi satu.
“Namanya juga acara gratisan”, celetuk seorang teman
mengomentari sound pada malam itu.
Bisa saya bilang sound pada malam itu
tidak maksimal. Tapi kami harus bersyukur karena output yang dikeluarkan Sheila On 7 lebih bagus daripada dua band
pembuka. Jam terbang dan pendaulatan mereka sebagai headliner mungkin adalah penyebabnya. Lagu-lagu yang diaransemen
ditambah lagi stage act yang
mencitrakan bahwa Sheila On 7 adalah band kocak dan band yang tampil lepas
ketika di panggung, bisa menutupi kekurangan dari segi sound. Kurang lebih 13 lagu mereka bawakan malam itu. Mereka juga
membawakan sebuah lagu baru. Liriknya cukup menyayat, kira-kira bait pertamanya
seperti ini, “Melupakan tak akan mudah.
Walau kau yakin telah merelakan. Lihat nanti, lihat sendiri. Saat waktu yang
ditentukan datang. Saat bertemu lagi yang telah hilang”. Ketika mendengar
lagu itu, seakan-akan pedagang asongan di sekililing saya tidak menjajakan “Aqua, mas, Aqua” tapi “Silet,
mas, silet”.
Saya dan Sheila On 7
Jujur saja, Selasa malam kemarin adalah pertama kalinya saya
menonton Sheila On 7 live. Padahal
saya sudah mengenal mereka sejak SD,
hehehe. Saya masih menyimpan dua album awal mereka Sheila On 7 (1999) dan Kisah
Klasik Untuk Masa Depan (2000), lalu setelah itu saya melewatkan mereka.
Bisa dikatakan saya termakan oleh idealisme saya sendiri ketika itu. Idealisme
saya adalah: tidak akan pernah mendengarkan lagu cinta Indonesia. Atau dalam
bahasa akademiknya adalah: segmented. Saya
hanya mau mendengar dua segmen musik: band-band luar negeri dan band-band indie.
Kini saya menyadari bahwa idealisme saya tersebut salah. Dan
kini saya mencoba lebih terbuka – walaupun masih selektif – terhadap lagu-lagu
cinta dalam pasaran mainstream Indonesia.
Adalah suatu kesalahan ketika saya melewatkan album-album Sheila On 7 pasca Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Sudah
banyak waktu berlalu saya melewatkan sebuah band berkualitas asal Indonesia.
Jika membicarakan industri, walaupun Sheila On 7 berada di mayor label tapi kualitas mereka masih terjaga. Itulah yang membuat
saya meratapi kebodohan saya sendiri, ke manakah saya selama ini?
Motivasi saya menonton mereka Selasa malam lalu awalnya
adalah hanya untuk bernostalgia dengan masa-masa remaja saya. Alangkah beruntungnya
saya, karena dari acara tersebut pada akhirnya saya bertekad untuk mendengarkan
Sheila On 7 kembali. Ya, sama seperti masa-masa remaja dulu di mana istilah segmented belum berlaku di kehidupan
saya.
wahahaha, asline kui curhatanmu yang terklamuflase oleh konser Sheila on 7..
ReplyDeleteYo ora, nde. Wah mosok sing tak tulis saiki hubungane karo tersirat?
DeleteCkckckck