Jun 15, 2013

Mereka Bilang, Saya Tersirat!

Judul di atas bukanlah sekuel dari "Mereka Bilang, Saya Monyet!" karya Djenar Maesa Ayu. Judul di atas hanya akal-akalan saya saja supaya tulisan ini terlihat menarik, karena guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata bahwa judul yang unik mencerminkan tulisan yang bagus. Oh ya, judul di atas merupakan alternatif judul otobiografi saya, walaupun saya belum tahu kapan akan membuatnya, apalagi menerbitkannya.

Manusia tersirat. Begitulah julukan yang kerap diberikan oleh teman-teman saya kepada saya akhir-akhir ini. Setidaknya julukan tersebut lebih enak didengar daripada julukan-julukan lain yang teman-teman saya pernah berikan, seperti: kokok, tukang galau, atau yang agak versi terbaru yaitu pakdhe. Julukan yang terakhir itu fitnah, karena wajah saya tak setua julukan itu. Percayalah!

Hampir semua orang pasti sudah pernah membaca puisi dan pastilah kamu tahu bagaimana susunan kalimat-kalimatnya. Kalimat-kalimat tersebut dibalut menggunakan majas sehingga kadang maknanya tidak tersampaikan secara langsung. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan makna tersirat. Dua kata terakhir sebelum kalimat ini perlu digarisbawahi, karena dua kata tersebut memberikan kontribusi maksimal atas tercetusnya julukan "manusia tersirat" kepada saya. 

Yap, saya memang suka menulis puisi. Dari penjelasan di atas, kamu sudah bisa menebak bagaimana rupa, wajah, bentuk, dan ciri-ciri puisi-puisi saya. Mungkin beberapa orang merasa aneh dan berpendapat kenapa tidak diungkapkan secara langsung. Tapi menurut saya disitulah letak keunikannya dan disitulah zona nyaman saya berada. Saya lebih bisa meluapkan emosi, isi pikiran dan hati melalui puisi-puisi yang tersirat. Saya merasa asyik ketika menulis, dan membiarkan orang-orang menginterpretasikannya secara masing-masing. Yang jelas, saya bisa mengeluarkan unek-unek dalam diri saya melalui tulisan.

Jika dikupas lebih tajam lagi dan dipandang dari segi psikologis, mungkin yang menyebabkan saya berada dalam zona ini adalah saya seorang introvert. Saya memang seorang yang tertutup, dan saya jarang sekali banyak bicara, plus pemalu. Karena faktor-faktor itulah yang mungkin, sekali lagi mungkin, menjadikan saya seorang yang tersirat. Saya memang lebih menyukai menulis daripada berbicara, tapi ketika melihat tipe saya tersebut, tulisan-tulisan yang saya buatpun masih saya kamuflasekan. Jika saya menulis puisi, mungkin yang tahu maknanya hanya saya saja, hahaha... Tapi kadang teman-teman saya tahu apa makna tulisan yang saya buat, karena mereka mengerti latarbelakang ceritanya. Ah, saya jadi pusing malahan...

Sudahlah, yang jelas berbanggalah menjadi seorang manusia tersirat karena ada efek positifnya juga bagi orang lain, yaitu membuat otak mereka bekerja, hahaha....

4 comments:

  1. buahahahaha retweet seeek ahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kowe kui yo manusia tersirat...
      Hahahaha

      Delete
  2. Hahaha kedoktrin, asline yo ora kok ahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doktrin sing luwih apik sitik enek ra? Mosok kedoktrin ilmu tersirat? Hahaha.
      Sopo sing ndoktrin? Aja kanda nek kui aku. Ulululu...

      Delete