“Music gives a soul to
the universe, wings to the mind, flight to the imagination
and life to everything.”
and life to everything.”
(Plato)
Saya sebenarnya bingung, akan mengawali tulisan ini dengan
kalimat apa. Kemudian saya pun googling untuk
mencari quote-quote tentang musik yang
saya rasa merepresentasikan tulisan ini. Dan, ya, quote tersebut akhirnya bisa kamu baca di atas. Lalu apa
hubungannya quote dari Plato dan
tulisan saya ini?
Post rock. Saya telat mengenal genre ini dan “hampir” memandang remehnya. Saya adalah seorang yang memegang teguh pentingnya peranan lirik dalam sebuah lagu. Mungkin karena ketiadaan lirik dikebanyakan band post rock-lah yang menyebabkan saya enggan untuk bergumul atau sekedar menyelami band-band tersebut. Namun keadaan sekarang berubah akibat saya diberi “pencerahan” oleh seorang teman. Diputarnya sebuah lagu dari sebuah band lewat komputernya – saya lupa nama band-nya – dan tiba-tiba, dunia seperti terbalik dan berhenti berputar, hanya menyisakan saya dan semesta. Sejak saat itulah saya jatuh cinta kepada genre ini.
Post rock. Saya telat mengenal genre ini dan “hampir” memandang remehnya. Saya adalah seorang yang memegang teguh pentingnya peranan lirik dalam sebuah lagu. Mungkin karena ketiadaan lirik dikebanyakan band post rock-lah yang menyebabkan saya enggan untuk bergumul atau sekedar menyelami band-band tersebut. Namun keadaan sekarang berubah akibat saya diberi “pencerahan” oleh seorang teman. Diputarnya sebuah lagu dari sebuah band lewat komputernya – saya lupa nama band-nya – dan tiba-tiba, dunia seperti terbalik dan berhenti berputar, hanya menyisakan saya dan semesta. Sejak saat itulah saya jatuh cinta kepada genre ini.
Saya awalnya menganggap bahwa Explosions In The Sky adalah
band emo, dan This Will Destroy You
adalah band hardcore, tapi sekarang
saya harus membuang jauh-jauh pikiran sempit seperti itu. 2 band tadi adalah
band yang cukup dikenal di ranah post
rock. Kebanyakan band post rock memang
tidak menyajikan lirik sebagai penunjang dalam sebuah kemasan bernama lagu. Mereka
berbicara lewat instrumen yang mereka mainkan. Seperti kata Spaceandmissile
dalam album Play-Rewind-Erase, mereka
berkata,”Don’t need to speak, just need
to listen, just need to see”. Jika diterjemahkan: ketika kamu mendengarkan
band post rock, 2 hal yang harus kamu
lakukan adalah mendengarkan dan berimajinasi. Lewat post rock-lah impian saya terbang, dapat “terealisasi”. Saya
terbang melintasi awan hingga akhirnya saya berada di luar angkasa. Ketika lagu
mencapai puncak, saya meluncur dari luar angkasa menuju bumi, dan tepat pada
saat lagu berakhir, saya membuka mata dan merasakan kembali realita. Pernah
juga saya berimajinasi kalau saya sedang berada di bukit yang penuh rumput dan
bunga. Saya berlari-lari sambil membawa balon – entah mengapa saya
mengimajinasikan balon, merasakan hempasan angin dan harumnya bunga. Ketika
lagu berakhir, saya membuka mata dan merasakan kembali realita. Sangat kontras.
Dengan durasi lagu lebih dari empat menit, kita diajak untuk berimajinasi. Terlalu
singkat memang jika dibandingkan dengan kehidupan nyata. Dan, memang, kedamaian
itu hanya terdapat di alam imajinasi saja.
Bagi saya mendengarkan post
rock sama saja dengan mendengarkan lagu-lagu ala ESQ. Ibaratnya, jiwamu
diberi asupan gizi. Membicarakan post
rock sama saja membicarakan jiwa dan identitas diri. Kamu pernah ikut ESQ? Bagaimana
rasanya? Hampir sama dengan ESQ, ketika mendengarkan post rock, kita seperti menemukan jiwa kita kembali. Tapi bedanya,
kita berusaha untuk memotivasi diri kita sendiri, bukan oleh orang lain. Memang
nuansa awal yang dibentuk post rock adalah
murung, tapi ketika tempo musik bertambah cepat; permainan alat musik semakin
rapat, ada sesuatu yang seperti mempermainkan jiwa ini. Silakan cari video live band-band post rock, ada satu hal yang menjadi benang merah pada saat mereka
tampil live: ekspresif. Mereka
seperti mempunyai jiwa (baca: dunia) sendiri-sendiri, dan setiap jiwa pasti
mempunyai sisi kondisi yang berbeda pula. Sisi inilah yang seolah mempermainkan
kita. Awalnya memang murung, tapi setelah berjalannya waktu ada banyak shocking part yang menghiasi, emosi kita
seperti diombang-ambingkan, tapi pada akhirnya kita akan menemukan sebuah titik
nyaman karena kita telah beradaptasi dengan situasi ini. Ketika kita membuka
mata pada saat lagu berakhir, kita seperti menemukan kembali jiwa kita yang hilang.
Hal tersebut dikarenakan musik post rock mempunyai
dimensi yang mana membuat dan mengajak tubuh ini berdamai dengan diri sendiri dan alam. Jika
kamu seorang yang moody, mungkin post rock bisa menjadi mood booster-mu. Dan setelah itu kamu
siap untuk menantang hidupmu yang fluktuatif.
Itulah mengapa saya mengutip pernyataan Plato sebagai pembuka tulisan ini. Memang kutipan tersebut sangat berhubungan dengan
pengalaman saya ketika mendengarkan post
rock. Selain bisa berimajinasi dan menemukan jiwa, satu hal penting yang
saya dapat adalah: saya menemukan Tuhan. Bukan bentuk, wajah, atau di mana Ia berada, tapi lebih
ke keagunganNya. Imajinasi, pencarian jiwa, merupakan tanda bahwa otak kita
masih bisa dipakai untuk berpikir. Lalu saya membawanya ke tatanan logika guna
mencari kebenaran, kejelasan, dan pada akhirnya berpikir secara rasional
tentang anugerah yang diberikan Tuhan. Ucap terimakasih karena diberi kehidupan….
No comments:
Post a Comment