Jun 26, 2013

Post Rock: Imajinasi, Jiwa, dan Tuhan

“Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination
and life to everything.”
(Plato)

Saya sebenarnya bingung, akan mengawali tulisan ini dengan kalimat apa. Kemudian saya pun googling untuk mencari quote-quote tentang musik yang saya rasa merepresentasikan tulisan ini. Dan, ya, quote tersebut akhirnya bisa kamu baca di atas. Lalu apa hubungannya quote dari Plato dan tulisan saya ini?

Post rock. Saya telat mengenal genre ini dan “hampir” memandang remehnya. Saya adalah seorang yang memegang teguh pentingnya peranan lirik dalam sebuah lagu. Mungkin karena ketiadaan lirik dikebanyakan band post rock-lah yang menyebabkan saya enggan untuk bergumul atau sekedar menyelami band-band tersebut. Namun keadaan sekarang berubah akibat saya diberi “pencerahan” oleh seorang teman. Diputarnya sebuah lagu dari sebuah band lewat komputernya – saya lupa nama band-nya – dan tiba-tiba, dunia seperti terbalik dan berhenti berputar, hanya menyisakan saya dan semesta. Sejak saat itulah saya jatuh cinta kepada genre ini.


Saya awalnya menganggap bahwa Explosions In The Sky adalah band emo, dan This Will Destroy You adalah band hardcore, tapi sekarang saya harus membuang jauh-jauh pikiran sempit seperti itu. 2 band tadi adalah band yang cukup dikenal di ranah post rock. Kebanyakan band post rock memang tidak menyajikan lirik sebagai penunjang dalam sebuah kemasan bernama lagu. Mereka berbicara lewat instrumen yang mereka mainkan. Seperti kata Spaceandmissile dalam album Play-Rewind-Erase, mereka berkata,”Don’t need to speak, just need to listen, just need to see”. Jika diterjemahkan: ketika kamu mendengarkan band post rock, 2 hal yang harus kamu lakukan adalah mendengarkan dan berimajinasi. Lewat post rock-lah impian saya terbang, dapat “terealisasi”. Saya terbang melintasi awan hingga akhirnya saya berada di luar angkasa. Ketika lagu mencapai puncak, saya meluncur dari luar angkasa menuju bumi, dan tepat pada saat lagu berakhir, saya membuka mata dan merasakan kembali realita. Pernah juga saya berimajinasi kalau saya sedang berada di bukit yang penuh rumput dan bunga. Saya berlari-lari sambil membawa balon – entah mengapa saya mengimajinasikan balon, merasakan hempasan angin dan harumnya bunga. Ketika lagu berakhir, saya membuka mata dan merasakan kembali realita. Sangat kontras. Dengan durasi lagu lebih dari empat menit, kita diajak untuk berimajinasi. Terlalu singkat memang jika dibandingkan dengan kehidupan nyata. Dan, memang, kedamaian itu hanya terdapat di alam imajinasi saja.


Bagi saya mendengarkan post rock sama saja dengan mendengarkan lagu-lagu ala ESQ. Ibaratnya, jiwamu diberi asupan gizi. Membicarakan post rock sama saja membicarakan jiwa dan identitas diri. Kamu pernah ikut ESQ? Bagaimana rasanya? Hampir sama dengan ESQ, ketika mendengarkan post rock, kita seperti menemukan jiwa kita kembali. Tapi bedanya, kita berusaha untuk memotivasi diri kita sendiri, bukan oleh orang lain. Memang nuansa awal yang dibentuk post rock adalah murung, tapi ketika tempo musik bertambah cepat; permainan alat musik semakin rapat, ada sesuatu yang seperti mempermainkan jiwa ini. Silakan cari video live band-band post rock, ada satu hal yang menjadi benang merah pada saat mereka tampil live: ekspresif. Mereka seperti mempunyai jiwa (baca: dunia) sendiri-sendiri, dan setiap jiwa pasti mempunyai sisi kondisi yang berbeda pula. Sisi inilah yang seolah mempermainkan kita. Awalnya memang murung, tapi setelah berjalannya waktu ada banyak shocking part yang menghiasi, emosi kita seperti diombang-ambingkan, tapi pada akhirnya kita akan menemukan sebuah titik nyaman karena kita telah beradaptasi dengan situasi ini. Ketika kita membuka mata pada saat lagu berakhir, kita seperti menemukan kembali jiwa kita yang hilang. Hal tersebut dikarenakan musik post rock mempunyai dimensi yang mana membuat dan mengajak tubuh ini berdamai dengan diri sendiri dan alam. Jika kamu seorang yang moody, mungkin post rock bisa menjadi mood booster-mu. Dan setelah itu kamu siap untuk menantang hidupmu yang fluktuatif.


Itulah mengapa saya mengutip pernyataan Plato sebagai pembuka tulisan ini. Memang kutipan tersebut sangat berhubungan dengan pengalaman saya ketika mendengarkan post rock. Selain bisa berimajinasi dan menemukan jiwa, satu hal penting yang saya dapat adalah: saya menemukan Tuhan. Bukan bentuk, wajah, atau di mana Ia berada, tapi lebih ke keagunganNya. Imajinasi, pencarian jiwa, merupakan tanda bahwa otak kita masih bisa dipakai untuk berpikir. Lalu saya membawanya ke tatanan logika guna mencari kebenaran, kejelasan, dan pada akhirnya berpikir secara rasional tentang anugerah yang diberikan Tuhan. Ucap terimakasih karena diberi kehidupan….

No comments:

Post a Comment