Dalam kehidupan
sehari-hari, kita pasti sudah akrab dengan sesuatu yang bernama organisasi.
Kita hidup dalam sebuah organisasi. Dalam skala kecil missal, kita berada di
tengah-tengah keluarga. Kita adalah anggota dalam sebuah organisasi bernama
keluarga, entah berposisi sebagai anak, ibu atau ayah. Ketika kita keluar dari
lingkup rumah, kita akan menjumpai organisasi masyarakat. Dan ketika kita
bekerja atau kita menuntut ilmu, kita akan menjumpai sebuah organisasi yang
baru, dengan tatanan dan aturan yang baru pula. Pada umumnya, organisasi
dibentuk oleh manusia untuk melaksanakan atau mencapai hal-hal tertentu, yang
tidak mungkin dilaksanakan secara individual. Organisasi dibentuk, lalu
anggota-anggota yang ada di dalamnya akan berusaha untuk mencapai tujuan dari
organisasi tersebut, karena mencapai tujuan adalah finish lap bagi sebuah organisasi, jika organisasi diibaratkan
seperti balap F1/Moto GP. Setiap organisasi mempunyai goal atau tujuan masing-masing, dan untuk mencapainya setiap
organisasi harus melalui setiap lap. Setiap
lap mempunyai tantangannya sendiri.
Seperti permisalan di atas, keluarga sebagai sebuah organisasi kecil, dibentuk
sebagai media untuk meneruskan keturunan. Itulah tujuan dari organisasi bernama
keluarga. Tidak mungkin seorang laki-laki/perempuan akan mempunyai keturunan
jika tidak membentuk sebuah keluarga, tentunya dengan didahului pernikahan yang
sah. Setelah suami-istri mempunyai anak, mereka akan merawat anak tersebut
hingga akhirnya anak tersebut tumbuh dewasa, pun juga dengan keharmonisan rumah
tangga tersebut, harus dijaga supaya tetap dalam keadaan kondusif.
Dalam sebuah organisasi
akan terasa hampa jika tidak ada proses di dalamnya. Proses bertujuan untuk
mempererat kesatuan anggota. Dan juga berproses mempermudah organisasi tersebut
untuk mencapai tujuannya. Proses didapatkan ketika pengorganisasian di dalam
organisasi tersebut berjalan dengan baik. Pengorganisasian menurut Samuel C.
Certo adalah
“…proses, di mana ditetapkan penggunaan
teratur, semua sumber-sumber daya di dalam sistem manajemen yang ada.
Penggunaan tersebut, menekankan pencapaian sasaran-sasaran sistem manajemen
yang bersangkutan, dan ia bukan saja membantu sasaran-sasaran menjadi jelas,
tetapi ia menjelaskan pula sumber-sumber daya macam apa akan digunakan untuk
mencapainya.”[1]
Dari penjelasan tersebut bisa kita
ketahui bahwa pengorganisasian sangat-sangat penting. Karena dari
pengorganisasian tersebut, job desk anggota
menjadi jelas. Setiap anggota tahu peranannya masing-masing, dan mereka pasti
sudah mengerti rule of the game dari
peran dan posisi yang ia tempati. Jadi ketika seorang anggota mengerjakan suatu
tugas/kewajibannya, ia tidak akan bingung. Manfaat-manfaat lain dari adanya
pengorganisasian ini antara lain[2]:
- Kejelasan tentang ekspektasi-ekspektasi kinerja individual dan tugas-tugas yang terspesialisasi
- Pembagian kerja, yang menghindari timbulnya duplikasi, konflik, dan penyalahgunaan sumber-sumber daya, baik sumber-sumber daya material maupun sumber-sumber daya manusia
- Terbentuknya suatu arus efektivitas kerja yang logical, yang dapat dilaksanakan dengan baik oleh individu-individu atau sebagai kelompok-kelompok
- Saluran-saluran komunikasi yang mapan, yang membantu pengambilan keputusan dan pengawasan
- Mekanisme-mekanisme yang mengkoordinasi, yang memungkinkan tercapainya harmoni antara para anggota organisasi, yang terlibat dalam aneka macam kegiatan
- Upaya-upaya yang difokuskan yang berkaitan dengan sasaran-sasaran secara logical dan efisien
- Struktur-struktur otoritas tepat, yang memungkinkan kelancaran perencanaan dan pengawasan pada seluruh organisasi yang bersangkutan
Agar
spesialisasi kerja anggota jelas, agar pembagian kerja jelas guna menghindari
konflik, agar kinerja anggota menjadi efektif, agar komunikasi lancar guna
mengambil keputusan, agar harmoni dan keselarasan antar anggota baik, demi
lancarnya perencanaan dari suatu dan demi tujuan organisasi terpenuhi, maka
harus ada seorang yang mengontrol dan mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan
oleh organisasi. Dan orang itu bernama pemimpin. Seorang pemimpin dipilih
kerena ia dipandang mempunyai kapabilitas untuk itu, atau setidaknya dia
belajar untuk menjadi seorang yang mempunyai kapabilitas dan kredibilitas.
Karena tidak semua orang diciptakan dalam kesempurnaan, bukan? Dalam sebuah organisasi
terdapat empat unsure yang tidak bisa dilepaskan, yaitu: planning
(merencanakan), organization (pengorganisasian), actuating (melaksanakan
peran), controlling (melakukan control). Keempat unsure tersebut harus bisa
saling bersinergi. Ibarat empat unsur di dalam dunia ini: air, api, tanah,
udara, maka unsur-unsur tersebut harus bisa dikendalikan. Di film kartun harus
ada sosok bernama Avatar, tapi di dalam dunia organisasi harus ada sosok
bernama pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang mempunyai wewenang untuk
memerintah orang lain. Ini merupakan sebuah simbiosis mutualisme. Seorang
anggota (baca: pegawai/karyawan) membutuhkan sosok pemimpin untuk mengaturnya,
dan pemimpin membutuhkan anggota agar semua rancangan-rancangan bersama bisa
menemui goal-nya. Sebagai seorang
pemimpin harus mempunyai peranan yang aktif dan senantiasa ikut campur tangan
dalam segala masalah yang berhubungan dengan kebutuhan anggota kelompoknya. Drs.
Pandji Anoraga dalam “Psikologi
Kepemimpinan” menulis bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk
mempengaruhi pihak lain. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada
kemampuannya untuk mempengaruhi itu. Dengan kata lain kepemimpinan dapat
diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, melalui
komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan
orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati
bersedia mengikuti kehendak-kehendak pemimpin itu[3].
Pada
intinya, seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai kuasa terhadap
organisasi, anak buahnya dan bahkan dirinya sendiri. Mau tidak mau, seorang
pemimpin harus bersinggungan dengan sebuah elemen bernama kekuasaan. Dengan
kekuasaan itulah, seorang pemimpin dapat mengendalikan organisasinya, hingga
pada akhirnya organisasi tersebut mencapai tujuannya. Menurut James D. Mooney,
kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian kekuasaan
adalah kemampuan untuk menggunakan sanksi atau kekuatan atau untuk memberi
penghargaan.[4]
Jadi di sini bisa kita lihat bahwa kekuasaan itu mempunyai dua sisi yang
berbeda. Ada kalanya seorang pemimpin itu tegas. Ketika ia melihat keburukan
yang terjadi di dalam organisasinya, maka ia harus menggunakan kekuasaannya
untuk menghilangkan keburukan itu. Fungsi sanksi sebagai alat control berjalan
tegas di sini. Tentunya setelah sang pemimpin menelaah keburukan tersebut
secara mendalam. Karena kadang, seorang pemimpin terlalu terburu-buru dalam
mengambil sikap, sehingga ada pihak yang dirugikan serta diuntungkan. Jangan
sampai seorang pemimpin mementingkan ego pribadi daripada fakta yang ada.
Misal, ketika ada seorang anggotanya (sebut saja si A) yang berulah dengan
anggota yang lain (sebut saja si B), Si A notabene adalah teman dari si
pemimpin, sedangkan Si B adalah seorang anggota yang belum ia kenal secara
dekat. Karena faktor kedekatan dan relasi yang telah ia jalin dengan Si A,
akhirnya sanksi dijatuhkan kepada Si B. Padahal jelas-jelas Si A-lah yang
membuat keonaran terlebih dulu. Contoh seperti tadi adalah contoh di mana
posisi pemimpin diuji seberapa besarkah ia mampu mengendalikan kuasa dalam
bentuk sanksi. Kuasa bisa juga dipakai oleh pemimpin untuk memberikan
penghargaan kepada anggotanya. Fungsi reward
ini bertujuan untuk memperkuat motivasi untuk memacu
diri agar mencapai prestasi dan memberikan tanda bagi seseorang yang memiliki
kemampuan lebih. Sehingga dengan penghargaan ini, seorang akan merasa nyaman
menjadi anggota organisasi tersebut. Dengan nyamannya anggota maka
produktivitasnya meningkat. Seiring produktivitas yang meningkat maka akan
semakin cepat pula dalam mencapai tujuan.
Setelah
mempunyai kuasa, seorang pemimpin harus tegas memimpin organisasinya. Ketegasan
adalah salah satu bentuk tanggungjawab seorang pemimpin. Tanpa tanggungjawab,
seorang pemimpin tidak akan bisa mengendalikan organisasinya, dan yang lebih
para, anggota-anggotanya tidak akan percaya kepadanya. Robert C. Miljus
meyebutkan tanggunjawab pemimpin adalah sebagai berikut[5]:
- · Menentukan tujuan pelaksanaan kerja yang realistis
- · Melengkapi para karyawan dengan sumber dan yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya
- · Mengkomunikasikan kepada karyawan tentang apa yang diharapkan dari mereka
- · Memberikan susunan hadiah yang sepadan untuk mendorong prestasi
- · Mendelegasikan wewenang apabila diperlukan dan mengundang partisipasi apabila memungkinkan
- · Menghilangkan hambatan untuk pelaksanaan pekerjaan yang efektif
- · Menilai pelaksanaan pekerjaan dan mengkomunikasikan hasilnya
- · Menunjukkan perhatian kepada para karyawan
Seorang
pemimpin harus mempunyai sikap. Sikap dibutuhkan agar dalam proses sebagai
pemimpin, ia bisa menempatkan diri dan mengerti bagaimana seorang pemimpin
harus bertindak. Drs. Pandji Anoraga memberikan gambaran bagaimana seorang
pemimpin harus bertindak[6]:
- · Berinisiatif dan aktif, pemimpin sebagai motor penggerak Seorang pemimpin harus mempunyai sikap inisiatif. Sikap ini dituntut supaya pemimpin mempunyai ide-ide yang cerdas. Ide sangat dibutuhkan oleh suatu organisasi. Dan ide dari seorang pemimpin sangat dibutuhkan ketika para anggotanya stuck
- · Memahami prinsip berkomunikasi, sehingga ia mampu dan berhasil dalam menyampaikan informasi pada anggotanya. Salah satu pondasi penting dalam organisasi adalah dengan komunikasi, jangan sampai seorang pemimpin adalah pemimpin yang pasif. Karena jika seorang pemimpin itu pasif, ia tidak mengetahui progress/masalah yang sedang dialami anggotanya.
- · Mengetahui seluk beluk dan mengetahui bagaimana kedudukan dalam kelompoknya. Tak kenal maka tak sayang. Pepatah tersebut sangat cocok dipakai untuk seorang pemimpin. Darimana ia bisa mengendalikan organisasi jika ia tidak mengetahui keadaan yang ada di dalam organisasi tersebut.
- · Sebagai pemuka pendapat bagi kelompoknya. Ia menjadi panutan dalam kelompoknya. Seorang pemimpin harus bisa menjadi cerminan bagi anggota-anggotanya. Pribadi yang kharismatik, berpengetahuan luas, bertanggungjawab, harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin adalah sumber dari segala sumber di organisasi.
- · Mampu membawakan aspirasi seluruh anggota dan ia harus mampu menghubungkan berbagai pendapat, usul dan sebagainya, yang saling berlawanan dari anggota-anggotanya untuk menuju pada putusan bersama. Perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi adalah hal yang lumrah, tapi bagaimana mengkondisikan dan menggiring perbedaan pendapat menjadi satu pendapat bersama adalah pekerjaan yang sulit. Di sini peran pemimpin sangat dibutuhkan.
- · Mampu mengontrol kemajuan kelompoknya dan mengetahui tindakan selanjutnya. Seorang pemimpin harus mengetahui rule of the game menjadi seorang pemimpin. Rule of the game diperlukan agar pemimpin focus dan bisa langsung bertindak. Ia juga harus mengontrol anggota-anggotanya agar tugas bisa cepat terselesaikan sehingga tujuan bersama kelompok akan cepat tercapai.
- · Bijaksana dalam menentukan andil anggota dan yang terpenting mampu dalam menjaga keharmonisan kelompok. Seorang pemimpin harus bijaksana, sikap kebijaksanaan ini diperlukan karena dalam organisasi pasti ada konflik. Pintar-pintarnya si pemimpin mengembalikan mood anggota.
Menurut
teori structural fungsional Talcott Parson, organisasi (terutama pemimpin
organisasi) harus mempunyai empat sikap: Adaptasi, pencapaian tujuan,
integrasi, latensi. (AGIL).
- · Adaptasi. Pemimpin harus bisa menempatkan diri. Dia juga harus bisa mengatasi sebuah situasi yang tercipta ketika organisasinya atau orang yang berada di organisasinya bersinggungan dengan orang luar.
- · Pencapaian tujuan. Seorang pemimpin harus bisa mendefinisikan dan mencapai tujuan-tujuan utamanya. Seorang pemimpin harus bisa mengevaluasi dirinya sendiri, supaya ia mampu memimpin dengan baik, dan organisasi tersebut akhirnya mencapai tujuannya.
- · Integrasi. Seorang pemimpin harus mengatur hubungan bagian-bagian yang terdapat dalam organisasinya.. Ini bertujuan agar semua bekerja secara baik, manajemen yang baik, outputnya pasti baik.
- · Latensi. Pemimpin harus melengkapi, memelihara, dan memperbarui motivasi individu dan pola-pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi tersebut. Berarti pemimpin harus melakukan upgrading terhadap anggotanya, agar anggota menemukan motivasi kembali. Motivasi dari anggota bisa hilang akibat tekanan yang dihadapai maupun suasana lingkungan yang kurang nyaman.
Setelah
kita membahas teori yang panjang dan rumit, marilah sekarang kita beranjak pada
aplikasi teori tersebut. Kita akan melihat bagaimana suasana kepemimpinan dalam
POLRI terbentuk. Kenapa saya mengambil POLRI? Karena POLRI sekarang ini sedang
banyak disoroti, jadi saya ingin mengerti organisasi tersebut secara mendalam.
Saya menggunakan buku “Perilaku
Organisasi POLRI”, penulisnya adalah Jend. Pol (Purn) Drs. Kunarto, MBA.
Dalam buku ini, dijelaskan, bahwa azaz kepemimpinan di POLRI itu adalah[7]:
- · Takwa. Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepadanya
- · Ing ngarsa sung tulada. Member suri tauladan dihadapan anak buah
- · Ing madya mangun karsa. Bergiat serta menggugah semangat di tengah-tengah anak buah
- · Tut wuri handayani. Mempengaruhi dan memberikan dorongandari belakang anak buah
- · Waspada purba wasesa. Selalu waspada mengawasi serta sanggup dan berani member koreksi kepada anak buah
- · Ambeg parama arta. Dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan
- · Prasaja. Tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan
- · Satya. Sikap loyal yang timbale balik, dari atasan terhadap bawahan dan bawahan terhadap atasan dan ke samping
- · Gemi nestiti. Kesederhanaan dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan
- · Belaka. Kemauan, kerelaan dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan
- · Legawa. Kemauan, kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggungjawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya.
Seorang
Polisi dan juga angkatan bersenjata lainnya, menurut PANGAB Jenderal TNI LB.
Murdani, pimpinan ABRI yang baik itu harus mempunyai empat criteria dasar[8]:
- · Menjunjung tinggi Pancasila, berloyalitas tinggi pada Negara atau secara politis bersih, hatinya hanya berisi merah putih
- · Integritas pribadinya tinggi, tanpa cacat, berprestasi dan bereputasi baik
- · Mampu mengambil keputusan yang tepat dalam situasi kritis
- · Memiliki wawasan jauh ke depan dan penguasaan profesionalisme yang mantap
Dan
seorang pimpinan POLRI berhasil jika[9]:
- · Kehadirannya memberikan getaran perbaikan
- · Menciptakan prestasi dan produk kerja yang diakui positif
- · Selalu dapat memecahkan masalah spesifik/khusus
- · Menciptakan suasana akrab dan harmonis
- · Memahami medan, mampu beradaptasi dengan lingkungan, dengan sikon dan tantangan sarwa berubah
- · Mampu mematok tekad pengabdian terbaik untuk mewujudkan hari esok yang lebih baik
- · Meski dalam keterbatasan dapat tetap berhasil
Dan
output dari semua itu adalah: menciptakan satuan POLRI yang professional,
efektif, efisien, modern, bersih, berwibawa dan dicintai masyarakat. Dari
penjelasan tersebut dan melihat kondisi realitas sekarang, dapatkah kita
menyimpulkan apakah output tersebut sudah tercapai? And tentunya mempunyai
persepsi masing-masing, saya tidak bisa men-judge
kalau jawaban Anda adalah: belum.
DAFTAR
PUSTAKA
Anoraga, Drs. Pandji. 1992. Psikologi Kepemimpinan. Jakarta: PT
Rineka Cipta
Drs. Moekijat. 1990. Asas-Asas Perilaku Organisasi. Bandung:
Mandar Maju
Geoge Ritzer, Douglas J. Goodman. 2009. Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik
Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi
Wacana
Goleman, Daneil et all. 2005. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama
Jend. Pol (Purn) Drs. Kunarto, MBA. 1997. Perilaku
Organisasi POLRI. Jakarta: PT Cipta Manunggal
Prof. Dr. J. Winardi, SE. 2003. Teori Organisasi dan Pengorganisasian. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
[1]
Prof. Dr. J. Winardi, SE.
2003. Teori Organisasi dan
Pengorganisasian. Hal: 22
[2]
Prof. Dr. J. Winardi, SE.
2003. Teori Organisasi dan
Pengorganisasian. Hal: 21
[3]
Anoraga, Drs. Pandji. 1992.
Psikologi Kepemimpinan. Hal: 2
[4]
James D. Mooney dalam Moekijat, Drs. 1990. Asas-Asas Perilaku Organisasi. Hal: 175-176
[5]
Robert C. Miljus dalam Anoraga,
Drs. Pandji. 1992. Psikologi
Kepemimpinan. Hal: 3
[6]
Anoraga, Drs. Pandji. 1992.
Psikologi Kepemimpinan. Hal: 17
[7]
Jend. Pol (Purn) Drs.
Kunarto, MBA. 1997. Perilaku Organisasi POLRI. Hal: 125-126
[8]
PANGAB Jenderal TNI LB.
Murdani dalam Jend. Pol (Purn) Drs. Kunarto, MBA. 1997. Perilaku
Organisasi POLRI. Hal: 127
[9]
Jend. Pol (Purn) Drs.
Kunarto, MBA. 1997. Perilaku Organisasi POLRI. Hal: 132
No comments:
Post a Comment