Selain bulan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Ilahi, Bulan Ramadhan juga merupakan sebuah agenda tahunan bagi sebagian orang yang mempunyai masalah dengan berat badan. Tujuan utama pastinya adalah untuk mengurangi berat badan. Sambil menyelam minum air, berpuasa dijadikan alat praktis untuk mengurangi lemak yang telah menumpuk di badan ini. Inilah saatnya untuk membuang lemak-lemak jahat!
Saya termasuk salah seorang yang mengagendakan diet instan tersebut. 30 Hari Membuang Lemak. Itulah judul agenda bagi saya. Rencana awal, di Bulan Ramadhan ini, saya harus bisa menurunkan berat badan dan mengurangi kebuncitan di perut, yang semakin hari semakin buncit saja. Ini adalah revolusi! Ini adalah revolusi! Sama seperti SBY yang selalu merasa prihatin, saya pun juga demikian. Bedanya, SBY prihatin kepada kondisi negeri, sedangkan saya selalu prihatin ketika berkaca dan mendapati ada sesuatu yang buncit yang bersembunyi di balik kaos yang saya pakai. Itulah perut saya! Six pack sudah tidak mungkin saya dapati, yang saya inginkan adalah perut yang "normal". Itu saja!
Memang saya akui, kebuncitan di perut saya semakin bertambah. Dulu banyak orang yang berkata kalau saya kurusan. Tapi karena dunia yang sangat cepat berlalu dan tidak pernah kita duga akan seperti apa, predikat kurus itu telah sirna. Dan jika orang bertemu dengan saya, maka berkata "Kamu kok sekarang gendutan?". Sedikit bercerita, dulu pernah perut saya hampir seperti perut-perut normal lainnya, akan tetapi karena nafsu makan semakin bertambah seiring kegalauan yang semakin memuncak, akhirnya saya pasrah terhadap kondisi seperti ini. Galau memang mempengaruhi siklus makan saya, karena setiap galau, 2 piring makanan saya habiskan. Setelah habis, langsung tidur, masalah galau selesai. Tapi efeknya bisa kalian lihat ketika melihat perut saya. Jadi saya berpesan bagi Anda-Anda yang galau, galau bisa diatasi dengan makan lebih dari 1 piring. Makanlah! Makanlah! Makanlah!
Kembali ke puasa, niat dan rencana untuk menurunkan berat badan dan merubah bentuk perut, nampaknya juga akan berlalu tanpa hasil. Kenapa? Karena niat dan rencana tersebut dipatahkan oleh kondisi yang ada. Kondisi yang saya alami adalah, saya berada di sebuah keluarga yang ketika berbuka selalu tersaji banyak makanan di meja makan. Saya tidak bermaksud sombong di sini. Karena itulah realita yang ada.
Saya pernah mendengar pernyataan jika memubadzirkan makanan itu tidak baik. Berangkat dari pernyataan itulah maka saya tersadar untuk menghabiskan makanan yang ada. Daripada dibuang ke tempat sampah, alangkah lebih baiknya jika kita makan. Ibu saya pernah saya beritahu, jika jangan terlalu banyak menyajikan menu berbuka puasa. Tapi mungkin karena rasa sayangnya kepada saya, dia tetap saja menyajikan makanan-makanan yang sangat-sangat tidak mendukung rencana awal saya untuk membuang jauh-jauh lemak yang ada demi mendapatkan bentuk perut yang normal.
Mungkin ini hikmah yang diberikan Tuhan untuk tidak memubadzirkan makanan. Jadi jika Anda mengalami masalah yang sama dengan saya, maka ketahuilah jika kita adalah orang-orang yang tidak memubadzirkan makanan. Dan juga ketahuilah, perut buncit kita adalah anugerah.
No comments:
Post a Comment