Tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai sebuah kejadian yang, percaya atau tidak, "dikirim" langsung oleh Sang Maha Pencipta. Ini bukanlah sebuah tulisan religi dan tidak ada doktrinasi di sini, hehehe. Tapi di sini saya hanya ingin berbagi mengenai Tuhan yang memberi peringatan yang halus kepada hambanya, dan peringatan tersebut cenderung "lucu" menurut saya.
Baiklah saya akan membicarakan latar belakang kehidupan saya terlebih dahulu. Saya lahir di sebuah keluarga yang religius. Keluarga saya Islam, begitupun dengan saya. Sejak kecil saya diajarkan bagaimana memuliakan Tuhan. Baik dengan sholat, berdoa, membaca Al Quran ataupun hal-hal lain. Dan sampai sekarang, saya masih "ingat" kepada Tuhan. Tapi jujur saja, kadar "ingat" tersebut mengalami pasang surut. Ambil contoh, sholat. Sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Muslim sebanyak 5 kali dalam sehari. Rukun Islam poin dua yang harus benar-benar ditaati dan menurut Quran, sholat merupakan hal pertama yang akan ditanyakan pada waktu Hari Perhitungan kelak Terkait dengan sholat yang saya laksanakan, kadang-kadang ketika setan berbisik, maka sholat yang biasanya saya laksanakan, maka pada kesempatan itu dengan sadar saya tidak mempedulikannya. Sekitar beberapa bulan yang lalu, memang sholat yang notabene adalah perintah Tuhan, saya hiraukan.
Lalu di suatu siang (saya lupa hari apa dan pada bulan apa), tiba-tiba pintu rumah saya terketuk. Kondisi pintu rumah memang sedang terbuka, dan saya sedang berada di kamar depan (kamar depan terletak di samping ruang tamu). Om saya yang mempersilakan tamu tersebut untuk masuk dan kemudian dia memanggil saya untuk menemuinya. Ternyata tamu tersebut adalah seorang wanita penjual buku, umurnya sekitar 50-an tahun. Beliau adalah penjual buku keliling, buku yang ia tawarkan kebanyakan adalah buku-buku yang bertema Islami. Harga buku yang ia jual antara Rp 5.000,00-Rp 30.000,00, range harga tergantung ketebalan buku tersebut. Beliau menawarkan kepada saya beberapa buku, yang kata beliau, banyak diminati oleh pembeli lain. Saya memilih, membuka, membaca beberapa buku, tapi jujur saja tidak ada yang pas kena di hati karena memang saya jarang dan cenderung tidak suka membaca buku-buku religi yang temanya "itu-itu saja".
Saya juga sempat berbincang dengan ibu tersebut. Beliau berasal dari Karanganyar, dan tiap hari berjualan buku tersebut. Beliau biasanya berdua dengan temannya yang juga seorang penjual buku. Mereka berdua berkeliling untuk menjajakan buku biasanya buku-buku tersebut mereka bawa dengan tas. Saya lupa apa saja yang saya tanyakan kepada ibu tersebut, hehehe. Singkat cerita akhirnya saya memutuskan untuk membeli satu buku. Ini bukan karena saya tertarik tapi saya cenderung iba dengan ibu tersebut. Rasa iba saya karena beliau adalah seorang ibu, keluarganya menantinya di rumah untuk mendapatkan rasa kasih sayang dari seorang ibu. Dan ia berjuang demi menafkahi atau mencukupi kebutuhan keluarganya. Rela melawan panasnya matahari demi uang, belum lagi jika buku-buku yang ia jual tidak ada yang dibeli. Itu adalah resiko yang harus dihadapi karena sekarang budaya membaca sudah banyak ditinggalkan. Orang juga membaca, tapi tak lebih dari membaca status Facebook, timeline Twitter dan paling mentok membaca koran. Untuk bacaan yang "berat-berat" dari sebuah benda bernama buku, orang-orang sekarang sudah meninggalkan, mereka lebih sering download di website-website yang menyediakan format pdf untuk buku. Ditambah lagi buku yang ibu tersebut jual adalah buku agama.yang temanya "standar" dan dalam perspektif orang pasti melihat bahwa buku tersebut adalah buku yang temanya sama dengan apa yang pernah ia baca dulu, dan juga memang karena buku-buku yang ibu tersebut jual bagi masyarakat jaman sekarang adalah tidak kekinian. Saya akan mengambil contoh, buku yang ibu tersebut jual adalah buku-buku panduan sholat, bacaan-bacaan Asmaul Husna, kisah-kisah Nabi, dan lain-lain. Bagi sebagian orang itu adalah hal yang kuno karena "Sekarang sudah ada tema yang lebih menarik, buku-buku tersebut pernah saya baca dulu...". Mungkin komentarnya seperti itu, hehehe.
Buku inilah yang saya beli:
Buku ini saya beli dengan harga Rp 25.000,00. Tidak usah saya terangkan bagaimana isinya, karena isinya pasti sama dengan judulnya, hehehe.. 25 ribu memang tidak sepadan jika dinilai dari jerih payah seorang ibu yang berkeliling demi keluarganya. Tapi itulah yang dapat saya berikan untuk ibu tersebut, untuk menghargai perjuangannya. Meskipun setiap perjuangan tidak harus dinilai dengan sejumlah nominal uang.
Singkat cerita ketika ibu tersebut sudah pamit, maka saya langsung masuk ke kamar. Awalnya tidak ada pikiran.Tapi ketika membaca judul buku tersebut untuk yang kedua kalinya, saya hanya bisa tertawa terbahak-bahak Saya sudah disentil oleh Tuhan. Ya, saya sudah disentil oleh Tuhan! Bagaimana bisa tahu-tahu seorang ibu penjual buku-buku agama datang ke rumah saya, padahal jarang sekali ada penjual buku yang mampir di jalanan rumah saya. Dan kenapa pula buku yang saya beli berjudul "Pintar Ibadah"? Seketika langsung pikiran beralih dengan tabiat saya yang tidak mematuhi kewajiban-Nya, dan sekarang, saya berhadapan dengan sebuah moment ciptaan-Nya dimana saya disentil atau disindir untuk meninggalkan tabiat tersebut. Dan sentilan-sentilan Tuhan tersebut sekarang juga saya rasakan lewat mimpi. Sudah tiga hari ini saya bermimpi sholat di masjid. Dan sudah berminggu-minggu pula, sholat yang saya jalani tidak sempurna 5 waktu. Ia memperingatkan saya lagi untuk kedua kalinya, masih dengan cara yang "halus", belum dengan cara yang, mungkin: tegas.
Tuhan memang baik. Dia juga lucu. Karena kadang-kadang Ia memberikan sebuah kejadian yang di luar dugaan kita, apalagi di saat kondisi kita sedang tidak "ingat" kepadanya. Sehingga kejadian tersebut bisa memunculkan senyum di mulut kita. Sentilan-sentilan tersebut hendaknya adalah cara kita untuk memperbaiki diri. Dan ingatlah bahwa segala sesuatunya, telah terskenario dengan baik oleh Sang Maha Sutradara.
Thanks God..
No comments:
Post a Comment