Mar 25, 2013

Rutinitas Semu

Banda Neira menulis dalam lagunya berjudul Berjalan Lebih Jauh, "Bangun... Sebab pagi terlalu berharga 'tuk kita lewati dengan tertidur...". Sungguh beruntunglah orang-orang yang bisa menerapkan lirik lagu tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Jika orang-orang tersebut dikumpulkan, jangan kaget jika saya tidak berada di dalamnya. Karena apa yang saya kerjakan tiap hari selama kurang lebih satu bulan ini adalah negasi dari lirik lagu tersebut.

Semua orang mempunyai rutinitas. Rutinitas adalah sebuah kegiatan yang dilakukan hampir tiap pagi dengan pola yang sama. Biasanya, rutinitas diidentikkan dengan sesuatu yang produktif. Tapi berbicara mengenai rutinitas yang saya kerjakan, bisa dibilang apa yang saya kerjakan ini adalah sebuah: rutinitas semu. Kira-kira seperti inilah rutinitas semu: 
  1. Bangun pagi sekitar jam 05.30 untuk beribadah, itupun dibangunkan oleh ibu saya. Tapi kadang, ketika ibu membangunkan saya, saya tidak meresponnya. Tidur terasa lebih mulia dari beribadah. Maafkan saya, Tuhan. Semoga Engkau membaca tulisan saya ini...
  2. Orang-orang berkata: sahabat itu selalu hadir di samping kita. Itu benar! Sahabat saya bernama kasur, dan saya selalu bersamanya sampai matahari berada tepat di tengah langit. Dan pada saat itulah saya terbangun.
  3. Kegiatan utama ketika bangun tidur adalah makan, baca koran, internetan.
  4. Kira-kira pukul 15.00, saya berangkat ke kampus untuk latihan bersama teman-teman Teater SOPO. Dari sekian banyak rutinitas semu saya, mungkin hanya ini yang bisa dibilang bukan rutinitas semu. Oh iya, Bulan April kami pentas lho...
  5. Setelah pulang latihan, dan kadang diselingi nongkrong di kedai kopi, saya sampai rumah sekitar jam 00.15. Kegiatan selanjutnya adalah makan, nonton berita di TV, internetan. 
  6. Internetan adalah rutinitas terakhir di tiap hari, dan setelah itu saya kembali berkawan dengan kasur.
  7. Keesokan harinya dimulai lagi dari poin satu, begitu setiap hari.
Saya mencoba menganalisa kenapa rutinitas saya bisa seperti ini, rutinitas yang membuat hidup menjadi terbalik. Dan kemungkinan besar saya sedang mengalami disorientasi masa skripsi. Ya, disorientasi masa skripsi, itulah kalimat yang coba saya ambil. Fase ini adalah sebuah fase dimana kamu telah berada dalam masa skripsi tapi kamu tidak tahu apa yang akan kamu perbuat. Kamu seperti kehilangan passion untuk mengerjakan skripsi. Contohlah saya, saya sekarang berada dalam fase awal skripsi yaitu mengerjakan proposal. Jika proposal skripsi dinilai dari berapa banyak buku referensimu, maka saya sudah mencakupi itu. Tapi buku-buku teori dan materi terkait yang saya beli dan beberapa ada yang saya pinjam, patut bersedih karena mereka saya duakan, sebab membaca novel lebih menarik daripada membaca buku teori.
 
Mungkin beberapa orang, temasuk saya,  menciptakan black hole bagi dirinya sendiri. Black hole tersebut menyerap niatanmu untuk sesegara mungkin mengerjakan skripsi. Dan disadari atau tidak, black hole tersebut akan semakin membesar setiap harinya. Ciri-ciri black hole yang telah membesar adalah, orang tersebut belum mau menulis skripsi dan lebih memilih menulis sesuatu yang tidak penting (baca: curhatan dirinya tentang rutinitasnya yang amburadul nan semu akibat tidak ada ada passion mengerjakan skripsi) di blog pribadinya.

Jika kamu yang membaca tulisan ini, dan sedang atau akan mengalami fase yang saat ini saya alami, silakan hubungi saya, alangkah lebih baiknya jika kita membuat sebuah paguyuban bernama P3RB (PAGUYUBAN PARA PENCARI RUTINITAS BARU).

No comments:

Post a Comment