Nov 25, 2012

Tidak Menyangka Moment

Setiap orang pasti pernah mengalami "tidak menyangka moment". "Tidak menyangka moment" adalah suatu momen di mana kita pasti akan mempertanyakan momen tersebut. Sebuah momen yang bisa dikatakan menjungkirbalikkan logika kita, sebuah momen yang menghadapkan kita pada suatu kondisi yang memaksa kita untuk menerima kenyataan itu. Dan pertanyaan yang paling sering keluar dari orang yang mengalami momen ini adalah "kok bisa sih?". Momen ini berawal dari ketidaksengajaan, dan ketidaksengajaan pula yang menjadi sutradara atas terciptanya momen tersebut.

"Tidak menyangka moment" adalah hal yang unik, dan pasti akan membekas di ingatan kita. Karena memang suatu hal yang unik dan cenderung berbeda akan gampang melekat di ingatan kita. Ini bukanlah tulisan bertema psikologis yang mencoba menganilisis itu semua. Ini juga bukan merupakan tulisan bertema mistis yang mencoba memandang dari segi magis. Ini hanyalah tulisan yang (sengaja) saya buat karena beberapa kali saya mengalami "tidak menyangka moment" tersebut. Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya yang saya alami di Teater SOPO. Saya adalah anggota Teater SOPO, dan pengalaman-pengalaman yang saya alami di sana cenderung unik. Dan itulah kenapa, Teater SOPO menjadi salah satu sejarah hidup saya.

Yang pertama adalah awal masuk Teater SOPO. Saya angkatan 2008, tapi saya masuk di Teater SOPO pada tahun 2009. Selang satu tahun saya gunakan untuk memilah-milih UKM yang pas buat saya. Saya dan Arie "Tokay" Fadjar, sebenarnya berniat untuk bergabung dengan UKM musik di FISIP, karena ketertarikan kami berdua memang di musik. "tidak menyangka moment" terjadi ketika teman-teman satu angkatan+satu jurusan saya yang lebih duluan masuk Teater SOPO mengajak saya, Tokay dan Riswanda "Wondo" Wira Yuda untuk bergabung. Saya masih ingat betul ketika SOPO pentas di acara UKM VISI dengan judul "Balada Sang Penghibur" dan juga ketika SOPO pentas di Aula FISIP dalam rangka Pentas Penyambutan Mahasiswa Baru angkatan 2009 dengan judul pementasan "Kwek Kwek", kami diajak untuk menonton. Bahkan pada awal saya masuk FISIP tepatnya pada Osmaru S1 angkatan 2008, ketika itu SOPO tampil membawakan lagu beraroma metal, dan saking senangnya, saya langsung melakukan horns up. Padahal kala itu saya tidak tahu siapakah mereka dan apa itu teater.
Jadi dari ajakan teman dan ketertarikan ketika melihat mereka bermain di atas panggung yang menyebabkan "tidak menyangka moment" terjadi kepada saya, sehingga saya  masuk ke Teater SOPO.

Yang kedua adalah menjadi Sie Acara LATAL 2010 dan 2011. Tahun 2010 adalah tahun pertama saya menjadi Sie Acara LATAL. Saya tidak tahu kenapa teman saya yang bernama Apsari Retno Wiratmi menunjuk saya sebagai partner-nya di LATAL 2010. Padahal di LATAL sebelumnya yaitu LATAL 2009, saya "tidak berhasil" menuntaskan LATAL selama tiga hari (saya hanya bertahan selama dua hari kala itu). Saya sendiri mengakui, mengatur jalannya acara di dalam kehidupan saya sendiri susah apalagi mengatur acara LATAL agar dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Tapi tantangan tersebut saya terima dan saya pun bisa menjadi Sie Acara dalam dua tahun. Walaupun kadar kesuksesan acara bisa dikatakan masih jauh dari sempurna, tapi saya menikmati "tidak menyangka moment" tersebut. Dan saya berterimakasih dan bersyukur pernah mendapatkan posisi itu.

Yang ketiga adalah bertemunya saya dengan Zannuar "Simbah" Setiadji, SOPO 2010. Perjumpaan saya dengan dia pertama kalinya adalah di sekretariat Teater SOPO. Dia mendaftar bersama teman-temannya, dan saya ada ketika dia dan teman-temannya berkunjung ke sekre untuk mengisi formulir pendaftaran. Dia mempunyai attitude yang gampang diingat, sebuah attitude yang menunjukkan simbol bahwa dia adalah seorang emo kid: celana jeans ketat dengan sedikit sentuhan di rambut yang membuat orang bingung membedakan apakah itu rambut atau gorden. Belum lagi teman-temannya yang menunjukkan bahwa mereka masih satu rumpun. Setelah itu saya dan mereka bertukar alamat Facebook. Dan ketika Facebook saya di-add oleh mereka, saya langsung berkata dalam hati, "SOPO akan dihuni oleh populasi emo!". Jujur saja, ketika itu saya adalah seorang yang anti emo dan anti terhadap dua band Indonesia: Killing Me Inside dan Pee Wee Gaskins.
Perjumpaan saya dengan Simbah ternyata tidak berhenti di situ saja. Ketika itu malam minggu, saya pergi ke Ngarsopuro untuk melakukan wawancara dengan teman saya yang mempunyai stand di sana. Wawancara yang saya lakukan untuk memenuhi "kewajiban" sebagai seorang mahasiswa atas mandat dari dosen yang  bernama tugas. Di tengah perjalanan menuju stand teman saya, tiba-tiba saya dihadang oleh sesosok makhluk. Sesosok makhluk itu mengajak bersalaman dan bertanya, "Mas Reza ya? Mas Reza SOPO ya?". Belum sempat saya menjawab, makhluk tersebut kembali berkata, "Aku Zannu, mas. Sing wingi daftar SOPO.". (Saya Zannu, mas. Yang kemarin daftar SOPO). Karena memang saya agak lupa dengan dia atau mungkin karena saya tidak begitu memperhatikan dia, maka jawaban yang keluar dari mulut saya cuma, "Owh". Setelah itu saya lupa perbincangan apa saja yang kami lakukan, tapi menurut saya perbincangan yang kami lakukan hanyalah perbincangan "formalitas". Dan FYI, kala itu Ngarsopuro memang dijadikan tempat nongkrong anak-anak yang mempunyai style rambut ala gorden tanpa cetar membahana badai.
Setelah LATAL, saya akhirnya menyingkirkan stigma saya terhadap Simbah. Dan menganggap bahwa style-nya adalah sebuah kekhilafan yang dia buat. Dan juga saya membuang jauh-jauh kebencian saya dengan emo, karena itu sudah dituliskan dalam ayat, "lakum dinukum waliyadin". Dan "tidak menyangka moment" datang ketika saya masuk ke dalam satu garapan bernama Dala, ketika proses Bikin Bikin XVII berlangsung. Berposes dengan dia sangat-sangat menyenangkan, karena dia adalah seorang yang unik. Sampai sekarangpun dia masih unik. Dan boleh saya bilang, di antara anak 2010, dia yang paling dekat dengan saya. "tidak menyangka moment" datang lagi, kali ini "tidak menyangka moment" menyelinap ke dalam kisah bertemakan cinta. Seorang laki-laki pasti menaruh hati pada seorang perempuan. Untuk urusan yang satu ini, jangan pernah tanyakan ke kami bagaimana akhir ceritanya, karena itu adalah hal yang tabu untuk dibicarakan. (FYI, sekarang Simbah sudah berada pada jalan kebenaran. Dia telah memotong rambut catoknya dan nama Facebook-nya tidak abnormal lagi).

Yang keempat adalah ber-partner dengan Arif "Om Jin Hadadi" sebagai Sie Acara LATAL 2011. Ini adalah momen yang sangat-sangat tidak saya sangka. Jadi begini, sebenarnya saya menunjuk Herawan "Wawan" Wahyu Pratama sebagai partner saya. Akan tetapi karena beberapa hari menjelang LATAL, Wawan terkena insiden, akhirnya saya memutuskan Om Jin lah yang menggantikan posisi Wawan. Proses pergantian itu berdasarkan sharing dengan teman-teman dan juga melihat kondisi Om Jin yang lumayan "longgar". Mulailah saya dan Om Jin membuat tetek bengek hal-hal yang berkaitan tentang LATAL.
Tapi inti cerita bukan di situ. Om Jin adalah anggota SOPO 2010. LATAL 2010 adalah kali pertama saya menjadi Sie Acara. Ketika itu rombongan sudah sampai di Sukuh, dan rombongan saya perintahkan  mengeluarkan barang-barang dari bus untuk segera dipindahkan ke camp area. Sesampainya di camp area, peserta saya absen. Saya bingung bercampur marah, ternyata ada satu anak yang tidak berada di tempat ketika itu. Saya bertanya kepada peserta yang lain adakah yang melihat anak tersebut. Ada peserta yang memberitahu saya kalau anak yang saya cari sedang berada di areal Candi Sukuh. Tanpa banyak gubris akhirnya saya langsung menuju ke areal Candi Sukuh. Dan benar saja, anak yang saya cari berada di situ. Dia sedang melihat relief-felief yang terukir di Candi Sukuh. Saya langsung menghampirinya, dengan nada emosi saya langsung memerintahkannya untuk segera bergabung bersama peserta lain yang telah berada di camp area. Saya sempat mengumpat dengan nada rendah di belakang anak tersebut. Sebuah umpatan yang saya tujukan kepada anak yang melanggar jadwal, dan saya mengingat nama anak tersebut dengan nama Arif Hadadi. Itu terjadi di LATAL tahun 2010. Di LATAL tahun 2011, anak yang melanggar jadwal tersebut harus berusaha menjaga konsistensi jadwal yang ia buat, karena ketika itu ia menjabat sebagai Sie Acara, berdampingan dengan saya. Di situlah "tidak menyangka moment" bekerja. Usut punya usut, ternyata ketika ia "terdampar" di Candi Sukuh, ia sedang memperhatikan keunikan Candi Sukuh. Karena konon katanya, menurut literatur yang saya baca, Candi Sukuh adalah candi peninggalan kebudayaan Atlantis. Candi itu mempunyai bentuk fisik yang mirip dengan yang dimiliki Suku Inca dan Maya. Pengetahuan itu selain saya dapatkan dari literatur juga saya dapatkan dari sosok Arif "Om Jin" Hadadi. Karena memang kami berdua menggemari hal-hal yang berbau teori konspirasi. Pun juga dengan Rage Against The Machine. Sungguh sungguh, sebuah momen yang tidak saya sangka...

Yang kelima adalah Pantai Nampu. Kenapa Pantai Nampu saya masukkan ke dalam "tidak menyangka moment"? Karena saya tidak menyangka pantai tersebut akan menjadi salah satu pantai bersejarah dalam hidup saya dan Teater SOPO. Jauh sebelum saya masuk Teater SOPO, lebih tepatnya pada semester awal saya kuliah, saya sempat mengunjungi pantai tersebut sebanyak dua kali. Pantai Nampu yang dulu saya datangi masih sepi dari pengunjung. Dan bahkan ketika pertama kali saya ke sana, saya mendapat kenangan yaitu: helm saya hilang.
Tidak menyangka saja, ternyata di "masa-masa akhir" saya kuliah ini, saya mendapatkan kenangan di sana. Sebuah awal dan penutupan yang indah menurut saya.

Sebenarnya masih banyak "tidak menyangka moment" di dalam kehidupan saya. Tapi jika saya tulis semua, ini akan menjadi autobiografi. Dan untuk kepentingan "privasi" maka "tidak menyangka moment" yang saya dapatkan di Teater SOPO harus saya pilah-pilah, hehehehe.. Hanya satu pesan saya, dunia ini mempunyai banyak misteri. Suatu saat misteri-misteri tersebut akan terungkap dalam "tidak menyangka moment". Dan itu akan menjadi momen yang unik dan tak akan terlupakan. Percayalah!

No comments:

Post a Comment