Oct 25, 2012

Ied, Die, Eat

Dulu sewaktu saya kecil, nenek saya pernah berucap bahwa ketika malam takbiran Idul Adha, hewan-hewan kurban yang ada di masjid-masjid akan menangis. Ketika mendengar kalimat nenek saya tersebut, saya langsung sedih. Tapi ketika proses penyembelihan hewan kurban keesokan harinya, saya malah menontonnya. Ini karena rasa penasaran seorang anak kecil, dan ketika itu proses penyembelihan hewan kurban adalah saat-saat yang menarik bagi saya. 

Tapi momen tersebut seolah menghilang, atau lebih tepatnya sengaja saya hilangkan. Seiring bertambahnya usia, saya pun mulai berpikir ulang tentang proses penyembelihan hewan kurban tersebut. Perasaan tidak tegalah yang menyebabkan saya menghilangkan kebiasaan menonton proses penyembelihan hewan kurban. Bukannya tidak setuju terhadap prosesi ini, saya hanya tidak ingin melihat hewan-hewan tersebut dihilangkan nyawanya, dan itu di depan publik sehingga menjadi suatu konsumsi massal. Orang berbondong-bondong pergi ke pelataran masjid, hanya sekedar untuk menonton hewan-hewan sekarat. Bagi saya, di usia saya sekarang, itu sangat bertentangan dengan nurani saya. Karena hewan juga perlu hak asasi, bukan? Hak asasi untuk hidup, dan hak asasi ketika mereka akan dihilangkan nyawanya harus dengan cara yang tidak menyakitkan.

Tapi saya juga berada dalam posisi yang munafik. Di satu sisi saya mendukung hak hidup untuk hewan, tapi di sisi lain saya tidak menolak ketika diberi olahan daging kurban tersebut dalam bentuk sate atau tongseng, hehehe.. Semoga saya bisa menjadi vegan suatu saat nanti, dan semoga hewan-hewan kurban tersebut dimasukkan ke dalam surga oleh Tuhan.

No comments:

Post a Comment