Dari judul terdengar seperti sebuah film bergenre fiksi ilmiah, ya? Tapi yakinlah saya tidak menjadi seorang penulis naskah apalagi sutradara apalagi seorang aktor dengan wajah ganteng dan perut six pack. Judul tersebut saya pilih karena saya akan menceritakan pengalaman saya menjadi seorang "Blue Man". Blue Man bukanlah alter ego saya, bukan pula sebuah film blue yang menjadikan saya sebagai bintangnya tapi Blue Man sebenarnya adalah sebuah tugas atau bahasa kerennya (karena menghasilkan uang) adalah sebuah "job". Yap Blue Man adalah sebuah job untuk saya. Saya mendapat job ini karena ditawari pekerjaan oleh teman saya. Dan sekadar info, bos dari EO ini adalah alumni dari organisasi kami, jadi lumayan gampanglah untuk dapat job, hehehe.. Event ini juga merupakan promosi dari salah satu produk rokok. Event ini berlokasi di pasar-pasar di sekitaran Surakarta. Semacam grebek pasar gitu lah. Dalam event ini selain selling produk, juga ada hiburan seperti musik dangdut, games, dan tentu saja: Blue Man yang bisa diajak foto bareng.
Jadi secara harfiah dan secara etimologis dan secara definitif, Blue Man adalah manusia patung yang didandani atau dilumuri cairan berwarna biru. Nah terkait pemakaian alat make up ini, saya agak galau sebenarnya. Karena saya memakai pigmen biru. Konon katanya pemakaian pigmen dalam durasi sekian jam itu bisa membuat kulit iritasi. Itulah yang saya takutkan. Niatan mau membeli yang lebih "aman" bagi tubuh tapi apa daya duit yang dikasih bos hanya cukup untuk membeli pigmen. Tak apalah, saya berdoa kepada Tuhan semoga bahan ini aman, sama amannya dengan penghasilan dari menjadi Blue Man yang semoga bisa mengamankan isi dompet.
Event pertama hari Sabtu kemarin tanggal 10 Maret bertempat di Pasar Masaran, Sragen. Berangkat dari kantor jam 04.00 (waktu yang "tidak normal" bagi saya karena bila waktu normal, jam itu 04.00 saya masih berada di alam mimpi). Masih dengan kondisi mata yang agak berat, saya mengutuk jalanan Solo-Sragen karena jalanan yang sempit, berlubang dan moda transportasi yang saling memacu kecepatan. Jahanam!
Sampai di lokasi, saya dan teman-teman langsung loading barang dan kemudian langsung menge-sett panggung dan tenda. Setelah selesai, saya bersama seorang calon Blue Man lainnya langsung make up-an. Sempat terkendala karena tidak ada kaca, tapi partner Blue Man saya memberikan solusi jitu untuk menggunakan kaca spion. Ahhh.. betapa bodohnya saya!
Dalam mengoles-oles pigmen biru yang telah saya racik ala chef dengan sinwid dan baby oil akhirnya menjadikan sebuah produk berwarna biru yang kemudian saya oles-olesi ke bagian tangan, kaki dan wajah. Agak tidak ikhlas saya mengolesi cairan tersebut ke wajah, karena dengan serta merta akan mengkamuflasekan kegantengan saya. Mbak-mbak SPG dan mbak-mbak penyanyi dangdut pun sampai tidak meminta nomor HP saya..
It's show time! Tanpa rasa minder (karena berada di daerah yang orang-orangnya, insyaallah, tidak saya kenal) saya langsung tampil di samping panggung. Pose pertama saya adalah pose orang ngupil. Dan pose-pose selanjutnya saya lupa, yang penting urat malu telah saya buang jauh-jauh. Dan ketika mbak-mbak penyanyi dangdut tampil saya hanya bisa berdoa semoga saya diberikan pikiran jernih, karena kalau tidak jernih mengakibatkan ada sesuatu yang menohok..
Ketika event kemarin, yang menarik adalah hadirnya seorang anak yang, maaf, agak terganggu kejiwaannya yang terus menari di setiap penyanyi dangdut bernyanyi. Dan tingkah si anak tersebut justru nampaknya lebih menarik dari mbak penyanyi dangdut. Dan hey, dia juga sempat "njawil njawil" saya. Tapi tidak apa-apa sih, selama tidak mengganggu. Malah saya ajak tos dan dia merespon. Anak tersebut memang butuh perhatian yang ekstra dan membutuhkan media sosialisasi yang berbeda pula.
Perjalanan Bandung-Solo selama 8 jam naik kereta ekonomi dalam kondisi berdiri, tidak ada tempat duduk dan penuh sesak, lebih saya pilih dibanding dua jam menjadi patung. Tantangannya lebih besar menjadi patung karena selain cuaca juga faktor audiens yang ada. Dan yang saya sayangkan adalah tidak bisa berfoto dengan kimcil, karena mana mungkin kimcil menjamah pasar tradisional?
Bersambung..
No comments:
Post a Comment