Pertama kali saya mengenal
Tigapagi adalah pada saat mereka tampil live
di acara musik sebuah stasiun TV kepunyaan calon presiden Indonesia 2014. Tak
bisa dipungkiri, saya ada rasa kepada mereka sejak saat itu. Akhirnya saya follow Twitter mereka, saya stalking linimasanya, dan kadang me-retweet ocehan mereka. Ekspektasi saya
terhadap Tigapagi begitu tinggi. Apalagi satu bulan ke belakang, melalui tweet-tweet-nya yang ber-hashtag #TGp30S, mereka mempropagandakan
album perdananya. Alhasil semakin dibuat penasaranlah saya. Lalu pada tanggal
24 September, yang bertepatan dengan Hari Tani, Tigapagi merilis salah satu lagu
dari album mereka berjudul “Alang-Alang” via Soundcloud. Enam hari setelahnya,
hari penantian pun tiba. Sebuah album dirilis ke pasaran melalui De Majors. Dan
album tersebut bernama Roekmana’s
Repertoire.
Tigapagi berisi orang-orang yang
pintar mencari momentum. Sama seperti rilisnya lagu “Alang-Alang”, rilisinya Roekmana’s Repertoire juga bertepatan –
atau memang sengaja ditepatkan – dengan sebuah hari yang penting bagi
Indonesia, sebuah hari yang masih menyisakan memori kelam bagi bangsa ini pada
umumnya dan bagi orang-orang yang “masuk” pada peristiwa tersebut pada
khususnya. Ya, Gerakan 30 September, menjadi latar dari Roekmana’s Repertoire.
Jadi satu hal yang perlu kamu lakukan
ketika mendengarkan album ini adalah bayangkan kamu berada di ruang, waktu, dan
suasana ketika peristiwa tersebut terjadi. Silakan memilih posisi “kanan” atau “kiri”,
atau boleh juga tak berafiliasi.
Album ini berat, gelap dan
misterius. Sama misteriusnya dengan sosok Roekmana. Menurut press release album ini yang ditulis
oleh Cholil Mahmud dan A. Puri Handayani, Roekmana adalah seorang yang
mempunyai andil besar bagi ketiga personel Tigapagi. Roekmana adalah, “…goeroe gitar jang piawai memainkan
lagoe-lagoe klasik Soenda. Konon kabarnja, djari-djemarinja sangat litjin djika
soedah terkena senar-senar gitar. Kelihaiannja memboeka tiga tjaloen toean itoe
punja pikiran, sampai-sampai didjadikan tokoh sentral dalam alboem mereka…” Jika
mendiskusikan sosok Roekmana, mungkin saja dia hanya tokoh fiktif. Atau mungkin
dia memang ada tapi sengaja dikaburkan nama aslinya. Tapi menurut persepsi saya,
Roekmana adalah seorang aktivis politik. Di tahun itu aktivis politik bisa menjadi
seorang pahlawan, martir atau bahkan pecundang. Di posisi manakah Roekmana?
Yang jelas kehidupannya mengalami pasang-surut, mencari dan terus mencari, ada
yang datang-pergi-menghilang, depresi, frustrasi, dan pada akhirnya serahkanlah
pada waktu. Walaupun album ini menceritakan sosok Roekmana, tapi menurut saya
album ini juga bisa menjadi refleksi diri kita.
Album ini ibarat pertunjukan
teater yang menceritakan kondisi sosial dan politik Indonesia pada September 1965,
Roekmana adalah tokoh utama dalam pertunjukan itu, sedangkan Tigapagi bertindak
sebagai tim musik pengiring pertunjukan. Dengan memadukan unsur Sunda, folk, keroncong dan string section sebagai pemanis, Roekmana’s
Repertoire diawali oleh “Alang-Alang”. Firza Achmar Paloh dari Sore
mendapatkan kesempatan untuk menyenandungkan lirik, “Anakku hilang tak kembali” Di lagu “Erika”, suara Ida Ayu Made
Paramita Saraswati dari Nadafiksi mengingatkan saya kepada Dolores O’Riordan yang
menyanyikan “Linger”. Walaupun “S(m)unda”
secara lirikal bernuansa kelam, namun dapat dibawakan secara “ceria”. Ada yang
unik dari “Yes, We Were Lost in Our Hometown”, lirik lagu ini merepetisi judul
lagunya, mengingatkan kita bahwa ada suatu waktu di mana kita merasa teralienasi
dari lingkungan kita. Di lagu “Pasir”, vokal
Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca sungguh menyihir, mencapai klimaks ketika ia
menyanyikan, “…Ku pulang pun tak kunjung
hilang. Menjadi bayang, menghadang, lalu menyerang. Sekonyong datang, lalu
hilang, lalu datang, hilang, selalu datang-hilang, lalu datang, lalu hilang…” Album
ini diakhiri oleh lagu “Tertidur”, Tigapagi mengajak Aji Gergaji dari The Milo
untuk berpartisipasi, sehingga tak salah jika di lagu ini ada unsur shoegaze-nya. Oh iya, sebelum lagu “Tertidur”
ada sedikit “bonus” yang menampilkan cuplikan “pidato kenegaraan”, “…diharap masyarakat tetap tenang dan tetap
waspada, siap siaga, serta terus memanjatken doa kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.
Kita pasti menang…”
Tigapagi tahu betul bagaimana
memanjakan konsumenya. Album fisik ini mereka kemas dengan sedemikian rupa
sehingga kami para pembeli bisa puas dan ada sesuatu lain yang bisa
diperbincangkan lagi selain musiknya. Menurut saya, album fisik ini seperti sebuah
dokumen aktivis politik yang berhalauan “kiri”, yang menjadi Target Operasi
(TO) militer saat itu. Booklet ucapan
terimakasih, dengan foto personel Tigapagi yang ditempel dan ada nomor serinya,
seperti ingin menandakan: merekalah yang paling dicari. Kumpulan foto-foto “kegiatan”
yang dimasukkan ke dalam amplop putih seperti menunjukkan hasil intelijen yang
mematai-matai mereka. CD yang dimasukkan dalam ziplock seperti menandakan bahwa CD itu adalah barang bukti dari penyadapan
percakapan-percakapan mereka. Dan kertas berisi lirik adalah hasil transkrip
percakapan tersebut. Selain packaging fisik,
packaging audio pun juga unik. Di Roekmana’s Repertoire ini, Tigapagi
tidak menggunakan sistem per track. Semua
lagi tersaji dalam satu track berdurasi
65 menit 4 detik. Jika kamu mendengarkan, lagu-lagu tersebut seperti di-medley. Jika ada lagu yang kamu tidak
suka, kamu tidak bisa men-skip-nya. Semua
ada dalam satu kesatuan dan saling bertautan. Ya, sama seperti hidup ini. Hidup
adalah kumpulan cerita yang di-medley. Jika
kamu tidak menyukai satu bagian, maka kamu harus “dipaksa” menyelesaikannya.

keren keren
ReplyDeleteTerimakasih ulasan nya min, bolehkah berbagi kisah dibalik lagu "erika"..mohon di usahakan min, terimakasih dengan tulus hormat
ReplyDeleteTerimakasih ulasan nya min, bolehkah berbagi kisah dibalik lagu "erika"..mohon di usahakan min, terimakasih dengan tulus hormat
ReplyDelete