Oct 13, 2013

Cerita Tentang Roekmana




Pertama kali saya mengenal Tigapagi adalah pada saat mereka tampil live di acara musik sebuah stasiun TV kepunyaan calon presiden Indonesia 2014. Tak bisa dipungkiri, saya ada rasa kepada mereka sejak saat itu. Akhirnya saya follow Twitter mereka, saya stalking linimasanya, dan kadang me-retweet ocehan mereka. Ekspektasi saya terhadap Tigapagi begitu tinggi. Apalagi satu bulan ke belakang, melalui tweet-tweet-nya yang ber-hashtag #TGp30S, mereka mempropagandakan album perdananya. Alhasil semakin dibuat penasaranlah saya. Lalu pada tanggal 24 September, yang bertepatan dengan Hari Tani, Tigapagi merilis salah satu lagu dari album mereka berjudul “Alang-Alang” via Soundcloud. Enam hari setelahnya, hari penantian pun tiba. Sebuah album dirilis ke pasaran melalui De Majors. Dan album tersebut bernama Roekmana’s Repertoire.

Tigapagi berisi orang-orang yang pintar mencari momentum. Sama seperti rilisnya lagu “Alang-Alang”, rilisinya Roekmana’s Repertoire juga bertepatan – atau memang sengaja ditepatkan – dengan sebuah hari yang penting bagi Indonesia, sebuah hari yang masih menyisakan memori kelam bagi bangsa ini pada umumnya dan bagi orang-orang yang “masuk” pada peristiwa tersebut pada khususnya. Ya, Gerakan 30 September, menjadi latar dari Roekmana’s Repertoire.  Jadi satu hal yang perlu kamu lakukan ketika mendengarkan album ini adalah bayangkan kamu berada di ruang, waktu, dan suasana ketika peristiwa tersebut terjadi. Silakan memilih posisi “kanan” atau “kiri”, atau boleh juga tak berafiliasi.

Album ini berat, gelap dan misterius. Sama misteriusnya dengan sosok Roekmana. Menurut press release album ini yang ditulis oleh Cholil Mahmud dan A. Puri Handayani, Roekmana adalah seorang yang mempunyai andil besar bagi ketiga personel Tigapagi. Roekmana adalah, “…goeroe gitar jang piawai memainkan lagoe-lagoe klasik Soenda. Konon kabarnja, djari-djemarinja sangat litjin djika soedah terkena senar-senar gitar. Kelihaiannja memboeka tiga tjaloen toean itoe punja pikiran, sampai-sampai didjadikan tokoh sentral dalam alboem mereka…” Jika mendiskusikan sosok Roekmana, mungkin saja dia hanya tokoh fiktif. Atau mungkin dia memang ada tapi sengaja dikaburkan nama aslinya. Tapi menurut persepsi saya, Roekmana adalah seorang aktivis politik. Di tahun itu aktivis politik bisa menjadi seorang pahlawan, martir atau bahkan pecundang. Di posisi manakah Roekmana? Yang jelas kehidupannya mengalami pasang-surut, mencari dan terus mencari, ada yang datang-pergi-menghilang, depresi, frustrasi, dan pada akhirnya serahkanlah pada waktu. Walaupun album ini menceritakan sosok Roekmana, tapi menurut saya album ini juga bisa menjadi refleksi diri kita.

Album ini ibarat pertunjukan teater yang menceritakan kondisi sosial dan politik Indonesia pada September 1965, Roekmana adalah tokoh utama dalam pertunjukan itu, sedangkan Tigapagi bertindak sebagai tim musik pengiring pertunjukan. Dengan memadukan unsur Sunda, folk, keroncong dan string section sebagai pemanis, Roekmana’s Repertoire diawali oleh “Alang-Alang”. Firza Achmar Paloh dari Sore mendapatkan kesempatan untuk menyenandungkan lirik, “Anakku hilang tak kembali” Di lagu “Erika”, suara Ida Ayu Made Paramita Saraswati dari Nadafiksi mengingatkan saya kepada Dolores O’Riordan yang menyanyikan “Linger”.  Walaupun “S(m)unda” secara lirikal bernuansa kelam, namun dapat dibawakan secara “ceria”. Ada yang unik dari “Yes, We Were Lost in Our Hometown”, lirik lagu ini merepetisi judul lagunya, mengingatkan kita bahwa ada suatu waktu di mana kita merasa teralienasi dari lingkungan kita.  Di lagu “Pasir”, vokal Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca sungguh menyihir, mencapai klimaks ketika ia menyanyikan, “…Ku pulang pun tak kunjung hilang. Menjadi bayang, menghadang, lalu menyerang. Sekonyong datang, lalu hilang, lalu datang, hilang, selalu datang-hilang, lalu datang, lalu hilang…” Album ini diakhiri oleh lagu “Tertidur”, Tigapagi mengajak Aji Gergaji dari The Milo untuk berpartisipasi, sehingga tak salah jika di lagu ini ada unsur shoegaze-nya. Oh iya, sebelum lagu “Tertidur” ada sedikit “bonus” yang menampilkan cuplikan “pidato kenegaraan”, “…diharap masyarakat tetap tenang dan tetap waspada, siap siaga, serta terus memanjatken doa kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Kita pasti menang…”

Tigapagi tahu betul bagaimana memanjakan konsumenya. Album fisik ini mereka kemas dengan sedemikian rupa sehingga kami para pembeli bisa puas dan ada sesuatu lain yang bisa diperbincangkan lagi selain musiknya. Menurut saya, album fisik ini seperti sebuah dokumen aktivis politik yang berhalauan “kiri”, yang menjadi Target Operasi (TO) militer saat itu. Booklet ucapan terimakasih, dengan foto personel Tigapagi yang ditempel dan ada nomor serinya, seperti ingin menandakan: merekalah yang paling dicari. Kumpulan foto-foto “kegiatan” yang dimasukkan ke dalam amplop putih seperti menunjukkan hasil intelijen yang mematai-matai mereka. CD yang dimasukkan dalam ziplock seperti menandakan bahwa CD itu adalah barang bukti dari penyadapan percakapan-percakapan mereka. Dan kertas berisi lirik adalah hasil transkrip percakapan tersebut. Selain packaging fisik, packaging audio pun juga unik. Di Roekmana’s Repertoire ini, Tigapagi tidak menggunakan sistem per track. Semua lagi tersaji dalam satu track berdurasi 65 menit 4 detik. Jika kamu mendengarkan, lagu-lagu tersebut seperti di-medley. Jika ada lagu yang kamu tidak suka, kamu tidak bisa men-skip-nya. Semua ada dalam satu kesatuan dan saling bertautan. Ya, sama seperti hidup ini. Hidup adalah kumpulan cerita yang di-medley. Jika kamu tidak menyukai satu bagian, maka kamu harus “dipaksa” menyelesaikannya.

3 comments:

  1. Terimakasih ulasan nya min, bolehkah berbagi kisah dibalik lagu "erika"..mohon di usahakan min, terimakasih dengan tulus hormat

    ReplyDelete
  2. Terimakasih ulasan nya min, bolehkah berbagi kisah dibalik lagu "erika"..mohon di usahakan min, terimakasih dengan tulus hormat

    ReplyDelete